Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Takjub


__ADS_3

Byar, lampu seketika menyala terang, habis kubenahi barusan. Wajah seketika menganga takjub, atas pemandangan yang begitu memukau yang ada dalam ruangan.


Sebuah goresan lukisan begitu indah berjejer rapi didinding. Tak menyangka jika ruangan yang begitu luas ini, telah dipenuhi berbagai lukisan yang begitu nampak memesona.


"Apakah semua ini asli?" tanyaku takjub.


"Ya, yang pasti asli 'lah. Mana mungkin lukisan sebagus ini palsu," jawab ramah Liona yang kini mengelus pelan lukisan.


"Ini semua adalah hasil tangan kakek kami, makanya kami sekeluarga ingin mempertahankan kampung ini. Lihatlah! Begitu indahnya beliau melukis seluruh bagian kampung ini, akibat kecintaan anugerah alam yang ada didesa. Kami tidak ingin menyerahkan begitu saja desa ini, sebab banyak sekali kenangan atas diri kakek bersama kami semua," imbuh ucap Liona sedih.


"Tapi bukankah kakek kalian sudah tiada, kenapa harus tetap dipertahankan dan tak bisa diserahkan? Walaupun nanti sudah berada ditangan merekapun, pasti orang yang akan merebut kampung ini kemungkinan akan tetap menjaga kelestarian alam yang dimiliki," sautku menjawab.


"Mereka memang bisa memiliki, tapi apakah bisa menjaga seperti yang kami lakukan?."


"Sudah berpuluh-puluh tahun keturunan kami menjaga amanat mengenai kampung, dan pastinya kami tak bisa meninggalkannya begitu saja. Warisan leluhur baik seni maupun budaya tak akan bisa terganti oleh apapun, walaupun sudah dimodifikasi ada perubahan sedimikian rupa. Maka dari itu kami semua akan terus berjuang mempertahankannya," kekuh jawab Liona



"Kalau yang aku dengar-dengar sih tanah ini tidak ada surat menyuratnya, dan orang yang akan merebut itu adalah keturunan dari keluarga pemilik awal tanah ini. Apakah kamu baik yang lainnya tak takut untuk menghadapi mereka, bahkan kalau ada bukti kuatpun bisa-bisa akan dibawa ke jalur hukum," ucapku mencoba meluluhkan kekerasan hati Liona, agar mau mundur atas mempertahankan tanah.


"Kami tak kenal yang namanya takut, sebab buat apa kita takut kalau kami memang benar. Masalah hukum kita bisa buktikan dengan kuat juga, kalau kami berhak untuk memiliki ini semua," cakap kekuh Liona.


"Hadeh, ternyata susah juga untuk mendapatkan tanah ini. Kekuatan mereka ternyata tidak bisa diremehkan. Apa yang harus kulakukan agar bisa merebutnya dengan mudah? Pakai kekerasan mereka selalu melawan balik, pakai kelembutan mereka malah gencar ingin melawan. Hadeh, nasib ... nasib, mana rapat nanti harus memberi jawaban kepada para bos, yang akan diajak kerjasama pulak," rancau hati yang kebingungan.


Setelah puas memandangi lukisan, akhirnya aku menyuruh Liona untuk meminjamkan motor kepada orangtuanya. Pikiran terus saja melayang-layang mencari cara yang ampuh untuk meluluhkan semua warga, namun ternyata susah juga untuk sekedar membujuk. Kalau diganti rugi dengan uang, pasti banyak sekali harta keluargaku akan terseret hilang, dan aku tak mau semua usahaku hancur sia-sia hanya gara-gara sebuah kampung yang kelihatannya mudah ditaklukkan.

__ADS_1


*******


Mentari pagi telah menyongsong datang dari ufuk timur, hingga cahayanya kini telah menyinari netraku untuk segera bangun. Sinar yang nampak silau begitu mengusik jiwa, hingga mau tak mau harus bangun jua walau kantuk beratnya masih terasa.


Dert ... dert ... klunting, sebuah panggilan kembali hadir.


[Heh, ada apa?]


[He ... he, ternyata bos sudah bangun juga. Aku pikir belum bangun, makanya aku menelpon]


[Lalu, ada apa menelpon pagi-pagi begini?]


Ketusku menjawab, akibat tak suka basa-basi ucapan sekertaris.


[Hmm, aku tentunya masih ingat]


[Baguslah kalau begitu. Oh ya, Bos. Aku boleh minta gajianku keluar duluan tidak? Soalnya lagi kepepet banget, nih?]


[Hadeh, uang ... uang saja dalam pikiran kamu. Kerja dulu yang benar, jangan bisanya nagih melulu]


[Hayolah bosku, sayang. Masak sekertarismu yang tampan ini sudah rela membantumu bekerja siang malam dengan sukarela, masak giliran minta upah pelit amat jadi orang]


[Iya ... ya, bawel. Nanti aku akan langsung transfer ke rekening kamu]


[Nah, gitu dong bosku yang tampan. Pokoknya kamu adalah bos terbaik. Lope ... lope, bosku]

__ADS_1


[Iiih, sudah kesambet apa'an pagi-pagi begini? Main kurang ajar ngucap cinta segala. Kalau ada maunya muji-muji dan selalu bilang yang baik-baik, kalau tidak dituruti seenak jidat sering menghina dan selalu merayu. Dasar sekertaris tak ada aturan dan berperasaan]


[Hahahahah, itulah diriku, Bos. Aku 'kan sayang padamu]


[Hadeh, makin gila saja kamu. Kalau kurang obat, minum baygon sana, biar sekalian itu hilang kewarasan kamu]


[Bus*t dah, mau kasih info obat biar sembuh atau mau membunuhku? Sungguh teganya dirimu ... teganya ... teganya dirimu]


Suara nyanyi sekertaris yang cempreng, bikin moodku jadi ambyar seketika.


Klik, tanpa banyak kata langsung kumatikan, biar akupun tak tertular atas kesengklekan dia. Walau candaannya sedikit keterlaluan, namun tak pernah sedikitpun kumasukkan ke dalam hati, sebab kami murni sedang ingin bercanda merasakan bahagia.


Kunci kamar hotel kini telah kutitipkan pada pemiliknya, sebab kemungkinan aku akan balik kesini secepatnya apa tidak, tergantung situasi dan kondisi atas rapat membahas kesemrawutan tanah yang jadi sengketa. Sekertaris Cakra sudah menunggu di gang kampung, yang sesuai kami janjikan untuk menjemput.



"Apa bajunya sudah ada sesuai permintaanku?" tanyaku saat nanti ingin pakai jas.


"Semua rembes, bos!" jawabnya mengacungkan jempol.


"Bagus. Ayo cepetan sampai keperusahaan, jangan sampai nanti kita terlambat," suruhku ambigu, sambil mempelajari file-file yang dibawa sekertaris Cakra.


"Siip!" jawab Cakra setuju sedang menyetir mobil dengan laju kencang.


Mobil sudah melaju dengan pesatnya, yang langsung ingin datang ke perusahaan pusat milik keluarga. Tak butuh waktu lama untuk kami sampai, hingga tanpa membuang waktu lagi aku segera masuk ke ruang kerja kantor, yang langsung masuk ke kamar mandi berganti pakaian yang dibawakan Cakra.

__ADS_1


__ADS_2