
Perasaan senang kini datang, saat kami berdua akhirnya bisa lepas dan tak dikenai hukuman dan pertanggung jawaban, akibat ketahuan melempar telur busuk itu. Dengan berjalan tergesa-gesa, aku dengan adekku Tio secepatnya menghindari perusahaan, yang nantinya bakal menjadi musuh terbesarku.
"Heeeh ... heeeh, berhenti dulu, Kak!" suruh Tio, akibat nampak kelelahan.
"Ayo cepetan berjalannya, sebelum mereka memberi pelajaran pada kita lagi. Dibelokkan depan saja kita berhenti," suruhku.
"Tapi aku capek, dari tadi terus saja berjalan cepat sedikit berlarian," ulang keluh Tio.
"Iya ... iya, kita berhenti disini sekarang," jawabku menuruti kata-kata adek tersayang.
"Aah, dasar sial banget kita hari ini, kenapa juga kita harus ketangkap sama mereka. Kayaknya kita tak boleh gegabah lagi, untuk melawan mereka sendirian," keluh Tio cerewet, sambil tangan mengelap keringat dikeningnya.
"Benar itu, Dek. Mereka bukan lawan yang patut kita remehkan, tapi disebalik itu kita semua tak boleh lengah untuk menghadapi mereka, sebab bisa-bisa tanah peninggalan kakek buyut satu-satunya akan diambil alih mereka," ucapku memberitahu.
"Betul tuh, Kak. Kita semua harus sama-sama bersatu melawan mereka, jangan sampai tanah yang menjadi kebanggaan dan satu-satunya penghasilan dikeluarga kita akan hancur begitu saja. Awas saja kalau ketemu sang pemilik itu, akan kubejek-bejek sampai penyek kayak rempeyek," Kekesalan Tio menjawab.
"Nanti saja kita susun rencana untuk balas dendam, yang penting sekarang kita pulang dulu. Bapak sama ibu pasti sedang nyari'in kita, ayo pulang!" ajakku.
"Siip, kak. Lagian lelahnya sudah mulai hilang."
__ADS_1
Kami dua saudara akhirnya pulang menaiki bis. Keberanianku untuk membuat ulah, tak serta merta membuatku takut oleh orang-orang yang ingin menggasak habis warisan kakek buyut.
Zaman dulu pembelian tanah tidak memakai surat menyurat, melainkan secara omongan saja sudah sah, hingga kini menyulitkan keluarga kami untuk mendapatkan hak yang sesungguhnya mengenai tanah itu. Mungkin ini salah keluarga kami dari turun-temurun, yang tak mau berusaha membuatkan surat asli, hingga kini menjadi sengketa orang lain, yang mengaku berhak memiliki tanah itu sebab katanya adalah keluarga asli yang punya tanah awal.
Selain hotel, tanah telah dijadikan ladang sayuran, penanaman bunga, buah, padi dan jagung, hingga banyak sekali para pegawai menjadi buruh tetap dikeluarga kami. Kakek buyut sangat baik kepada semua orang, hingga para pekerjanya telah diberi kebebasan untuk mendirikan rumah ditanah beliau. Sebab ada yang ingin merebut paksa tanah itu, hingga semua warga yang jadi buruh kami ikut andil dalam membela hak kami, namun sayangnya kekuatan musuh nampak begitu besar tak tertandingi.
Namaku adalah Liona Sekarsari, yaitu seorang gadis muda yang sudah matang untuk siap menikah, dengan umur sekarang dua puluh lima tahun. Kesibukkanku membantu keluarga dan orangtua mengurus hotel dan beberapa kebun, membuatku tak sempat untuk mencari seseorang yang sekedar ingin dijadikan pendamping. Aku mempunyai seorang adik pria yang bernama Tio, dia adalah pria yang selalu cerewet dan kepo sama urusan orang lain termasuk diriku. Kini Tio masih kelas dua SMA, dengan prestasi dan hasil yang selalu membanggakan keluarga.
"Wah, ada apa ini? Kok kayak habis terjadi perang dunia saja!" tebak Tio.
Disetiap gang dan jalanan desa yang didirikan keluarga kami, nampak berserakan oleh batu, kayu, dan beberapa genangan air dengan lumpur yang masih basah.
"Pasti ini tadi beneran terjadi perang. Mungkinkah pemilik perusahaan itu telah mengerahkan anak buahnya, untuk menyerang desa kita?" balik tanyaku bingung.
"Baik, dek."
Tanpa membuang waktu, kami berdua sudah menaiki sepeda cepat-cepat, untuk segera datang kerumah kami yang dekat dengan usaha keluarga yaitu hotel.
Nampak banyak warga telah duduk lesehan diemperan rumah, dan ada juga yang sudah berdiri saja didalam rumah.
"Wah, ini pasti beneran habis terjadi perang. Kenapa sayangnya aku tadi tak ikut, pasti akan seru jika aku ikut serta menghajar kasar wajah mereka," guman hati menyesal.
__ADS_1
"Permisi ... permisi, kami mau numpang lewat!" cakap Tio saat ingin melewati Bapak-bapak, yang masih duduk diemperan ubin keramik.
Nampak banyak orang sudah gaduh atas pendapat sendiri-sendiri, yang pasti tebakkanku tak salah yaitu mengenai perebutan tanah ini.
"Bagaimana ini, Pak? Mereka seperti tidak akan menyerah untuk mengambil tanah," tanya salah satu tetangga.
"Kalian tenang dulu. Kita akan hadapi semua dengan kepala dingin, dan jangan ada yang terlalu gegabah, sebab mereka bukanlah lawan yang dianggap remeh," jawab Bapak mencoba meredakan kemarahan beberapa warga.
"Benar itu Bapak-bapak. Jangan sampai kalian terbawa emosi, hingga mengakibatkan sebuah kesalahan yang fatal, yaitu sebuah tuduhan atas penganiyaan, jadi rendam amarah kalian itu," saut jawab pak Kades.
"Iya, pak. Kami bisa meredakan emosi kami, tapi jika mereka berbuat ulah yang tak diiginkan lagi, pasti kami akan berontak dengan penuh semosi lagi. Kami tak mau sumber pencaharian kami musnah begitu saja, apalagi rumah yang kami dirikan menggunakan material yang bertahun-tahun kami kumpulkan untuk membangunnya. Kami semua tidak terima, akibat mereka tidak bicara dengan baik-baik untuk bernegosiasi untuk ganti rugi 'kek, tapi ini malah main serobot ingin mengusai begitu saja," keluh salah satu warga yang lain.
"Benar ... benar itu, Pak. Siapa yang tak marah kalau diperlakukan seperti itu," simbatan yang lain.
"Ok ... ok, kalian sekarang pokoknya tenang dulu. Kita akan tetap mempertahankan hak tanah ini, tapi disebalik itu kalian jangan terlalu gegabah main serang sendiri sebab bahaya, paham!" ujar Bapak sebagai orang berhak atas semuanya.
"Iya pak Rohmat, kami pokoknya akan mendukung penuh atas hak semua ini. Kami terima kasih banyak-banyak, sebab keluarga kalian selalu baik, hingga warga disini diberi kebebasan mendirikan rumah secara cuma-cuma," ucap salah satu warga.
"Iya, sama-sama. Sekarang kalian bubar dulu, pasti sudah lelah akibat inseden perkelahian tadi, dan segera bersihkan diri kalian masing-masing," suruh Bapak.
"Ternyata makin rumit saja masalahnya. Awas saja kamu sang Anjuna, akan kubalas semua ini. Jangan mentang-mentang kami orang miskin, takut akan kekuasaanmu! Jangan harap kamu bisa hidup tenang mulai saat ini," cakapku dalam hati sudah emosi.
__ADS_1
Semua orang akhirnya nurut saja atas perintah Bapak. Satu persatu telah pulang ke rumah masing-masing. Keluarga kami adalah orang paling kaya, dihormati, disegani, bahkan dianggap paling berjasa atas kemakmuran desa. Pak lurah adalah teman baik Bapak, jadi jika ada masalah dikeluarga kami, beliaulah yang pertama kali akan membantu dengan sifat legowonya.