Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Acara Resepsi


__ADS_3

Status sudah berubah menjadi milik orang secara sah agama dan hukum. Tidak tahu apakah aku ini wanita yang bodoh atau terlalu pintar, saat mengikuti alur yang sangat merugikan diri sendiri kelak. Tapi demi warga dan senyuman para keluarga, sangat sanggup untuk mengorbankan diri sendiri.


Acara resepsi telah digelar. Banyak tamu dari keluarga sudah berkumpul. Semua kelihatan bahagia dan antusias sekali menyambut pernikahan kami, namun hanya dirikulah yang sedang mengalami gundah gulana.


Senyuman palsu terus saja terpancar diwajahku. Banyak teman dan keluarga tidak henti-hentinya mengucapkan kata selamat.



Desiran ombak terus saja bergelombang,


yaitu sama akan halnya pikiran yang kini melanda padaku.


Seutas rasa keindahan sekarang sedang terjadi, apakah suatu saat nanti akan berubah menjadi kesengsaraan? Mungkin hanya waktu yang mampu menjawabnya.


"Semoga saja drama ini akan baik-baik saja. Rasanya takut saja jika terbongkar, saat ikatan diantara kami begitu kuat mengikat, yang disaksikan oleh semua orang. Huuf, harus kuat ... harus itu," rancau hati dilanda bingung.


Tangan terus saja menyalami para tamu. Entah sampai kapan akan berhenti, yang jelas kaki mulai terasa pegal-pegal akibat dari tadi berdiri terus. Matapun sudah mulai mengantuk, saat dari pagi sampai malam acara demi acara terus saja terjadi.


Arjuna terlihat biasa-biasa saja menghadapi ini, dan itu cukup membuatku kesal terhadap sikapnya itu.


"Kenapa dia begitu santai? Sedangkan aku rasanya pusing memikirkan pernikahan ini. Apakah jangan-jangan dia memang segaja memanfaatkan keadaan ini?."


"Semoga saja tidak. Tapi kalaupun iya, aku harus memasang benteng dan menambah kekuatan untuk mematahkan perbuatannya itu. Iya benar, aku tidak boleh lemah walau kini sudah sah menjadi suami istri, sebab tidak tahu tak tik apa yang sebenarnya yang dia rencanakan, sehingga dia bisa mengusulkan perjanjian itu," Hati terus saja berbicara untuk terus waspada.


Rasanya tak habis-habisnya orang mengajak bersalaman, sampai-sampai tangan sudah mulai lemah akibat kelelahan.


"Kamu kenapa?" tanya Arjuna berbicara berbisik, saat kami masih sibuk menyalami tamu.


"Sampai kapan tamu akan menyalami kita,? Aku sudah lelah banget nih," jawabku manja.


"Iya, sebentar lagi. Kita habiskan menyalami tamu dulu, agar mereka tidak kecewa sebab sudah capek-capek datang ke acara kita ini."


"Iya. Harus sampai kapan?" rengekku sudah mengencangkan suara.


Semua mata kini tertuju kearahku. Arjuna hanya bisa menyengirkan seyuman kecut, akibat malu atas sikapku barusan.


"Ada apa ini?" tanya Ibu.


"Ngak ada-ada apa kok, Bu. Hanya masalah kecil saja. Lebih baik kita lanjutkan acara menyalami tamunya," jawab Arjuna dengan


mudahnya saat Ibu menghampiri kami.


"Oh, ya sudah."


"Kamu sabar dulu, Liona."


"Hmm," Wajah sudah cemberut akibat kesal pada Arjuna.


Gondok yang bersemayam, membuatku sungguh malas untuk menjabat tangan para tamu, sehingga hanya ujung jari yang bisa bersentuhan dengan tamu. Arjuna beberapa kali melihat ke arahku tapi tidak kuperdulikan, sebab dalam pikiran hanya fokus untuk menahan rasa pegal dikaki yang sudah tidak kuat lagi.

__ADS_1


Beberapa kali tangannya berusaha menyenggol tanganku dengan pelan, agar aku mau merubah sikap yang kini benar-benar malas. Tidak kupedulikan jika dia marah nanti, yang terpenting sekarang aku ingin segera pergi dan bebas dari sini.


"Wah, Arjunaku sayang!" ucap sesorang perempuan yang tiba-tiba saja langsung memeluk Arjuna.


"Jangan begini, Sonia."



Arjuna berusaha ingin melepaskan diri dari pelukan wanita itu, namun kenyataannya tidak bisa sebab wanita itu begitu kuat memeluk.


Aku hanya menatap sekejap dengan wajah sewot dan tidak suka, tapi tetap tenang dalam bersikap, tidak mau gegabah seperti wanita diluaran sana, yang suka cemburu saling menjambak rambut atau saling cakar mencakar satu sama yang lain.


"Ada apa ini, Arjuna?" tanya Bapak menghampiri, yang kelihatannya ada emosi.


"E'eh, tidak ada apa-apa, Pak. Ini hanyalah teman saja."


"Ooh. Tapi kenapa dia harus memeluk tidak sopan, segala?" imbuh Bapak penasaran.


"Karena kami ini teman tapi mesra," Gamblang cewek itu berbicara.


"Apa?" Suara semua orang kompak kaget.


Sebab tidak ada rasa pada Arjuna, maka aku merespon ini semua hanya biasa-biasa saja.


"Jangan dengarkan dia, Pak. Ini hanyalah salah paham saja!" cakap Arjuna tidak mau mengakui.


"Salah paham gimana? Sedangkan aku jelas-jelas mencintai kamu, tapi kenapa kamu malah menikahi wanita yang baru saja kamu kenal ini," keluh wanita bernama Sonia yang telunjuknya kini mengarah padaku, dengan tatapan penuh sinis dan tidak suka.


"Tapi, 'kan!" jawab Sonia kecewa menundukkan kepala.


"Tidak ada tapi-tapian."


Plok ... plok, suara tepuk tangan Arjuna seperti memanggil seseorang.


Ternyata benar saja, dua orang bertubuh kekar berpakaian rapi, kini sedang berlarian untuk mendekati kami.


"Bawa dia pergi dari sini!" suruh Arjuna.


"Baik, Tuan."


"Apa? Tidak ... tidak bisa," Sonia hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala kuat.


Dengan cekatan orang yang barusan datang, langsung memegangi lengan Sonia kiri kanan, yang selanjutnya berusaha menarik tubuh Sonia untuk diajak pergi oleh orang suruhan.


"Ayo, ikut kami!" ucap salah satu orang suruhan ingin mengajak, tapi Sonia kuat juga menahan agar tidak bisa pergi.


"Tidak ... tidak, Arjuna. Jangan usir aku dari sini. Aku ingin melihat dan bersama kamu. Aku mohon, tolong ... tolong!" teriak-teriak Sonia mulai berontak.


"Tidak bisa."

__ADS_1


"Kamu disini hanya jadi pengacau saja, jadi tolong ikuti bodyguard yang aku suruh sekarang," kekuh Arjuna ingin mengusir.


"Tidak ... tidak, aku tidak mau."


"Ada apa ini, Bos?" Sekertaris Cakra tiba-tiba datang.



"Ah, kebetulan kamu datang. Urus dia!" Arjuna mengerakkan kepala sekejap ke arah Sonia.


"Bawa Sonia pergi sekarang. Jadi pengacau saja disini," suruh orang yang baru beberapa jam sah menjadi suamiku.


"Tapi 'kan, dia disini hanya ... hanya---!" Suara tertahan Cakra.


"Tidak bisa berada disini. Sekarang cepatlah bawa dia atau kamu mau kupecat, hah!" bentak Arjuna yang kelihatan sekali emosi.


Aku yang polos tidak paham maksud semua ini, hanya bisa menyaksikan dengan wajah melongo saja.


"Ba-bbbaik, Bos."


Tangan Arjuna sudah memberi aba-aba untuk segera menyingkirkan Sonia.


"Ayo, Sonia!" Ajak sekertaris Cakra sudah menarikk kasar tangan wanita itu.


"Tapi, Cakra. Tidak ... aku tidak mau," Sonia berusaha berontak lagi, namun kalah kekuatan sama Cakra yang terus saja menariknya melewati kerumunan orang yang sedang menonton.


Semua orang sudah berbisik-bisik atas melihat kejadian ini, sungguh tidak enak sekali dipandang. Rasanya aku hanyalah wanita bodoh menyaksikan pria yang jadi suami, ketika diganggu oleh wanita lain yang mengaku suka padanya namun hanya diam membisu.


Rasa beku ini seakan-akan menangapi ini semua dengan santai. Ingin marah percuma saja, sebab tidak tahu seluk beluk hubungan mereka, jadi kalaupun ikut campur tidak ada gunanya, malah akan semakin runyam jika salah berkomentar maupun bertindak.


"Ayo ikut aku sekarang!" Saat terbengong, tanpa diduga Arjuna kini sudah mengendongku didepan.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku kaget.


"Turunkan ... turunkan aku," Berusaha menutup wajah dengan tangan akibat malu.


"Bukankah kamu tadi mengeluh akibat lelah. Maka dari itu kita akan menyingkir dari sini sebentar. Paham!" terang Arjuna.


"Tapi--!."


"Tidak usah banyak protes. Diam saja kenapa!" kekuhnya tidak suka.


Semua mata lagi-lagi fokus tertuju kearah kami. Manis tapi sangat memalukan sekarang terjadi pada kami. Sikapnya yang tidak bisa dibantah, membuatku lagi-lagi harus menerima kepasrahan kelakuan dia itu.


Semua para undangan terpaksa terjamu digantikan oleh mertua dan orangtua.


Arjuna terus saja mengendongku untuk menuju parkiran.


"Tenang Liona ... tenangkan hatimu, jangan sampai Arjuna tahu kalau kamu begitu grogi tak karuan sekarang."

__ADS_1


"Kenapa pipiku rasanya panas begini?."


"Astaga, jangan sampai Arjuna tahu kalau aku lagi merona akibat ulahnya," rancau hati sedang dilanda kalut.


__ADS_2