
Beberapa detik kemudian Liona sudah kembali membawa dua butir pil. Benar-benar apes, harus minum obat yang padahal sedang tidak sakit betulan. Netra sudah menyipit takut-takut meminumnya.
"Bismillah, semoga saja aku tidak keracunan. Sial, banget! Mau pura-pura, tapi malah betulan apes minum obat!" guman hati yang kini sudah meneguk pil itu.
Segelas air putih yang sudah ada didalam gelas kuberikan balik pada Liona. Wajah diliputi bahagia, sebab akhirnya berhasil membuat Liona begitu cemas akut.
"Sekarang kamu istirahat saja, agar obatnya segera cepat bereaksi menyembuhkan kamu," suruh Liona berusaha membantu agar aku bisa terbaring lagi.
"Tapi, aku sedang lapar banget nih," keluh sudah mengelus-ngelus perut.
"Tapi kamu barusan minum obat. Seharusnya istrirahat dulu," tolaknya.
"Tapi perutku keroncongan," cakap manja.
"Kenapa tidak bilang dari tadi. Hehhh! Ya sudah, kalau begitu kita sarapan saja, lagian tadi aku sudah masak banyak. Seharusnya tadi makan dulu baru minum obat," Liona akhirnya menyetujui.
"Ok, kalau begitu."
Semangat untuk segera makan. Memang keadaan sekarang sedang lapar, tapi aku tidak boleh gegabah menujukkan kalau sehat-sehat saja.
Jalan sudah sedikit membungkuk, dengan langkah perlahan-lahan ingin segera mendekati meja makan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Liona ingin membantu memapah duduk.
"Emm, baik."
"Sini, biar aku bantu. Nanti jatuh juga, 'kan bisa brabe," pintanya yang sudah membukakan tempat duduk, dan menuntun biar segera kutempati.
"Makasih." Sebisa mungkin harus memberikan senyuman lebar, agar tidak ketara kebohongan.
"Sama-sama."
Liona sudah membubuhkan nasi dan lauk dalam piringnya sendiri. Aku hanya bisa menatapnya saja, tidak langsung segera mengerakkan tangan untuk mengambil lauk dan makan.
"Ada apa?" Liona sudah menatap aneh dengan penuh keheranan.
"Aku 'kan lagi sakit. Rasanya lemah sekali untuk makan."
"Lha terus?" imbuhnya yang seperti tidak mengerti maksudku.
__ADS_1
"Maksudnya bisakah kamu menyuapiku," pintaku malu-malu.
"Hah? Apa kamu beneran minta disuap? Kayak anak kecil saja. Lagian yang sakit badan bukan tangan," ledeknya.
"Ya sudah kalau begitu. Lebih baik aku terus sakit-sakitan saja, diakibatkan kelaparan akut juga," Kepura-puraan ingin dimanja.
"Iya ... ya, aku akan suapin kamu, tapi janji minum obat lagi nanti biar cepat sembuh."
"Bereslah kalau masalah itu," Dalam hati sedikit was-was kalau beneran minum.
"Aku harus cari akal, biar tidak jadi minum itu obat," guman hati dengan pikiran melayang-layang mencari ide.
Akhirnya dengan telaten Liona menyuapi juga. Sesendok demi sesendok nasi akhirnya masuk mulut. Rasanya enak juga disuapi. Untung saja Liona telaten dan sabar menghadapi kemanjaanku.
Perut akhirnya kenyang juga. Aku kini berbaring disofa ruang tamu, dengan alasan dikamar sumpek dan tidak ada hiburan yang bisa dilihat contohnya ya televisi, padahal sebenarnya mencari celah agar bisa menjalankan misi untuk meminta maaf.
Kalau ketiduran pasti bahaya, tidak ada waktu mengakui kesalahan. Lagian Liona pasti sibuk sama pekerjaan rumah, jadi tidak akan sempat menemuiku jika dikamar.
Mata terus saja pura-pura terpejam, yang padahal sedang melirik semua aktifitas Liona, sedang membersikan segala ruangan rumah.
"Kamu ternyata rajin dan bisa diandalkan untuk mengurus rumah ini," guman hati yang kagum.
Televisi terus menyala, tanpa ada Liona mau mematikannya. Padahal tahu kalau aku sedang tidur, entah mengapa tidak segera dimatikan.
Berulang kali dipanggil tapi belum ada sautan jawaban sama sekali darinya.
"Mana sih tuh orang? Apa sedang sibuk ditempat lain? Kalau aku mengencangkan suara, pasti ketahuan kalau semua ini bohong," rancau hati bingung.
"Liona ... Liona?" Ulang memanggil dengan suara berpura-pura gemetaran.
"Hmm, ada apa'an sih? Pakai teriak-teriak lagi. Aku sedang sibuk membersihkan bagian dapur, nih!" jelasnya.
"Aku minta camilan bawa kesini, dong! Mulutku pahit banget mau makan sesuatu, nih!" suruhku.
"Kamu 'kan lagi sakit, masak mau makan camilan."
"Ayolah! Aku ingin makan sesuatu ini," rengekku.
"Jangan camilan 'lah, itu ada bahan pengawetnya. Kalau mau beneran makan sesuatu, gimana kalau buah saja, 'kan sehat juga untuk tubuh kamu."
"Ya sudahlah, mana suka-suka kamu memberikan," sewot jawaban.
"Ok, kalau gitu aku ambilkan."
__ADS_1
Rasanya dongkol saja mau makan camilan, tapi malah disuruh makan buah. Daripada nanti ketahuan dan jadi debat saja, lebih baik kini ucapannya aku turuti saja.
Tidak berselang lama buah sudah dibawa Liona. Ada apel, jeruk, dan anggur. Lebih baik sekarang makan buah saja dari pada tidak sama sekali, sebab memang mulut terasa pahit sekali.
Liona kembali kepekerjaan awal membersihkan seluruh rumah. Netra sudah seksama menonton televisi sambil santai berbaring, dengan tangan terus sibuk mengupas beberapa buah.
"Astagfirullah, kenapa kamu buang sembarangan kulit buahnya!" keluh Liona saat menghampiri kesibukanku makan buah.
"Biarlah. Salah sendiri tadi tidak disiapkan tempat pembuangannya," Acuh jawaban.
"Tapi 'kan bisa dikumpulkan dulu, jangan main buang kulitnya beserakan begini. Iiihhh, 'kan aku jadi dua kali kerja untuk membersihkannya."
Liona sepertinya mulai geram atas sikapku, yang sengaja membuang ke merata-rata tempat. Wajahnya yang berparas cantik, ingin sekali kulihat didepan mataku sekarang.
"Hilih, ngak pa-pa 'lah kerja dua kali. Lagian mengurusi orang sakit itu harus extra sabar."
"Iya, sabar. Tapi tidak harus berantakan begini. Atau jangan ... jangan kamu memang sengaja," tuduhnya.
"Mana ada. Jangan nuduh sembarangan," elakku agar tidak ketahuan.
"Kalau memang tidak sengaja, kenapa ada kulit yang jauh dibuang kesana? Itu didekat televisi juga ada!" Liona sudah melipat tangannya kepinggang.
"Tadi tidak sengaja 'lah, sebab kesel saja sama layar telivisi, akibat film action tokoh utama kalah terus," Alasan berbohong lagi.
"Huuff ... heeehhh, iya in saja 'lah." Liona sudah melenggar pergi, dengan wajah ditekuk sambil memonyongkan bibir.
"Hei, Liona? Mau kemana kamu? Ini belum dibersihkan, jangan main pergi saja kamu," teriakku pura-pura marah.
"Bersihkan sendiri saja. Aku ada kerjaan lain didapur." Balik bantahnya, tidak mau mengerjakan apa yg kusuruh.
"Iiihhhh, benar-benar ngeselin tuh orang. Masak orang sakit harus memungut semuanya. Apa tidak kasihan kalau sakitnya akan bertambah parah nanti," guman hati sedang mengeluh dan kesal.
Mulut sudah berteriak-teriak untuk menyuruh Liona membantu memungut, tapi percuma saja berteriak sebab Liona tak kunjung datang membantu.
Tanpa diduga badan mulai gemetaran. Pusingpun mulai menyerang kepala. Pandangan mulai kabur, terasa bumi sudah berputar-putar. Perut bagai diaduk-aduk berasa mual ingin muntah saja.
"Aaah, apa yang sedang terjadi padaku?" guman hati yang mulai marasakan badan mengigil tidak bisa menyanga tubuh sendiri.
"Liona ... Liona?" teriakku sekencang-kencangnya saat badan mulai ambruk akibat melemahnya badan.
Sekian kali berteriak namun tak kunjung jua Liona datang menghampiri, mungkin efek dia masih kesal atas sikapku yang membuang sembarangan kulit buah tadi..
__ADS_1