Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Kaget dia yang tenggelam


__ADS_3

Hati membuncah akan kebahagiaan. Berhasil membuat Liona makin bisa menerimaku sepenuh hati. Cinta yang tumbuh mekar dengan baik. Kelihatan sedikit canggung dan malu darinya, namun bisa memahami sebab kami belum kenal lebih dekat lagi, apalagi mendalami apa yang kami sukai dan tidak pada diri masing-masing.


Mulut terus bersiul-siul menyeruakan lagu berintonasi gembira. Orang lain yang melihatpun bisa menebak jika aku tengah berbunga-bunga.


"Ada apa, ya? Kenapa semua orang pada berkerumunan dekat kolam renang begitu?" Hati merasa aneh.


"Hah, mana Liona?" Wajah sudah clingak-clinguk melihat kanan kiri untuk mencari sosoknya.


Tidak kutemukan dirinya. Netra seketika terkejut melihat kearah kerumunan, takut jika Liona 'lah yang sedang dikelilingi oleh para tamu undangan.


Seketika berlari, untuk memastikan lebih jelas apakah itu orang yang sedang kucari.


"Permisi ... permisi. Beri aku tumpangan lewat!" Semua orang kusuruh bergeser, agar bisa leluasa melihat apa yang sedang dikerumuni mereka.


Mata terbelalak, ketika melihat wanita yang menjadi dambaan sudah basah kuyup bajunya sambil terpejam mata.


"Astagfirullah, apa yang terjadi dengan kamu, Liona?" Langsung saja menuju ketempat tubuh yang sudah ditepikan dipinggiran kolam renang.


Ada beberapa pria dan wanita berusaha membantu Liona dengan menekan perut.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan istriku?" Tak sabar ingin tahu.


"Istri anda tadi terjatuh dikolam renang."


"What?"


"Liona ... Liona, bangunlah!" Pipinya yang basah berusaha kutepuk-tepuk pelan.


"Dia baik-baik saja dan masih bernafas. Hanya kemungkinan banyak air yang dia telan, sehingga dia sekarang tidak sadarkan diri. Lebih baik anda menepi dulu, biar saya bantu untuk mengeluarkan air itu dengan cara menekan perutnya," Suruh salah satu pria yang bajunya juga basah kuyup.


"Baiklah. Maafkan saya, jika merepotkan anda."

__ADS_1



"Iya, tidak apa-apa. Kita wajib menolong orang yang lagi membutuhkan."


Tubuh telah bergeser sedikit, memberikan tempat orang yang mau menolong agar leluasa melakukan pertolongan. Dengan kedua tangan bertumpu, sekarang orang itu berkali-kali menekankan tangan keperut. Satu, dua, tiga kali dia lakukan, sampai pada akhirnya ada sedikit pergerakan dari Liona.


"Uhuk ... uhukk," Liona sudah memuntahkan air.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu bangun juga."


Terharunya diriku, saat rasa khawatir telah menyerang. Takut-takut jika tidak akan bertemu lagi dengan dirinya.


Tubuh yang lemah langsung kupeluk.


"Terima kasih atas bantuannya."


"Iya, sama-sama. Lebih baik bawa istri anda sekarang ke kamar hotel untuk menganti bajunya sebab itu sudah basah kuyup, takut jika nanti malah bikin dia sakit."


"Iya."


Tanpa berpikir panjang, tubuh Liona sudah kuangkat. Wajahnya pucat, dengan tubuh mulai mengigil. Langkah kupercepat agar segera sampai ke dalam kamar. Melihat wajahya yang lesu bikin kekhawatiran tambah membuncah.


"Kamu mau apa?" Liona mencegah.



Tangan sudah menempel dikancing bajunya.


"Mau membantu kamu 'lah? Memang kenapa?" Suara nyolotku.


"Iya, aku paham. Tapi tidak harus juga membantu membukanya juga." Lemah nada dia bicara.

__ADS_1


"Terus?" Kening berkerut.


"Emang kamu bisa ganti sendiri. Tubuh saja lemah begitu, mana bisa menganti pakaian sendiri."


"Ciih bisa 'lah. Jangan bilang kamu mau mencari kesempatan dalam kesempitan."


"Mana ada. Jangan main nuduh sembarangan."


"Terus kalau enggak gitu, apaan? Aku masih ada tangan, bisa kok ganti sendiri."


"Heeh, iya ... iya." Akhirnya mengalah juga.


"Nah, gitu dong dari tadi. Tidak perlu ada perdebatan diantara kita. Sekarang ambilkan aku baju dilemari dan antar ke kamar mandi."


"Hadeh, masih merepotkan juga. Tadi kata tidak mau dibantuin."


"Tidak mau dibantuin tuh kayak tadi, kamu main mau buka bajuku."


"Hehhe, sekali-kali sedekah kenapa sama suami. Kamu 'kan juga sudah sah jadi milikku."


"Cieeh, dasar mesum. Sah sih sah, tapi ada penghalang perjanjian diantara kita. Ingat itu."


"Hadeh, nasib ... nasib ngak jadi dapat gratisan." Menyanyi dengan wajah pura-pura tidak pernah mendengar perkataan Liona barusan.


"Sudah jangan berisik. Antarkan aku ke kamar mandi sekarang. Sudah dingin banget nih."


"Oke, Bos. Siap laksanakan." Tangan sudah hormat kepadanya.


Senyuman itu terlempar indah.


Entah cocok apa tidak, yang jelas karena buru-buru jadi sembarangan kuambil, takutnya kalau lama memilih malah bikin Liona sakit saja nanti.

__ADS_1


Tangan sudah terulur dari pintu yang sedikit terbuka untuk diberikan pada Liona. Sungguh kejamnya dia pintu ditutup rapat, yang padahal ingin sedikit saja mengintip agar tahu semolek apa tubuh dia. Benar-benar pikiran aneh telah merasuki, sampai-sampai tidak sadar tertawa jahat tentangnya.


__ADS_2