Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Muak sama tingkah saudara tiri


__ADS_3

Sebagai pemegang utama perusahaan, aku kini terus disibukkan dengan kerjaan dengan berkas-berkas yang menumpuk. Untung saja sekertaris sangatlah pintar, hingga pekerjaan apapun dengan mudahnya dia selesaikan dengan cepat.


"Nanti sore kita akan rapat, dan sekarang tanda tangani berkas ini," suruh Cakra dengan menyodorkan semua kertas dalam map.


"Jam berapa rapatnya?" tanyaku sambil mulai menandatangani.


"Mungkin kita perginya jam tiga saja," jawabnya.


"Baiklah. Oh ya, bagaimana dengan kemajuan perusahaan kita untuk merebut tanah itu?" imbuh tanyaku.


"Ya seperti itulah. Masih belum ada kemajuan sama sekali. Mereka sepertinya akan tetap kekuh mempertahankan tanah itu," terang Cakra.


"Benarkah itu? Aku jadi penasaran apa yang menjadikan mereka mempertahankan itu semua, bukankah tanah itu tak seberapa luasnya dan menghasilkan lebih atas tanaman-tanaman mereka. Apa kita perlu menyelidikinya?" tuturku.


"Maksudnya? Menyelidiki bagaimana? Bos mau jadi detective 'kah? Lagian tak ada pembunuhan maupun hal yang mencurigakan, kenapa Bos harus capek-capek menyelidiki?" keluh tanya Cakra.



Phuuk, sebuah kertas bulatan yang kuremas telah terlempar ke arahnya. Dengan kasar Cakra langsung meraba wajahnya, akibat timpukan kasar kertas.


"Kamu ini biasanya pintar mencari ide, kenapa sekarang jadi dudul ngak bisa mencerna kata-kataku. Maksudnya bukan gitu, Cakra. Kalau bisa kita mencari tahu apa yang sebenarnya mereka pertahankan, maka kita nanti bisa melumpuhkan mereka disaat sedang lengah, paham!" ucapku menerangkan mengenai ide.


"Wah ... wah, itu ide bagus, Bos. Daripada kita capek-capek dan terluka akibat perlawanan mereka, lebih baik kita diam-diam menyelidiki mereka saja," jawab Cakra setuju.


"Baguslah, kalau menurut kamu itu cara terbaik. Pokoknya jika ada kesusahan, kamu adalah orang pertama yang harus menolongku," ucapku memberi perintah.


"Siip, pokoknya aku akan selalu setia pada, Bos."


Sebagai Bos besar aku harus tegas, dan membuat para pesaing maupun karyawan harus patuh serta tunduk padaku. Jika tak begitu, pasti banyak orang-orang yang mencoba menumbangkan keberhasilan perusahaan ini, yang sempat bangkrut akibat papa lebih mementingkan wanita barunya daripada perusahaan.


Perlahan demi perlahan kurintis semua dari awal, dengan terus mengalirkan peluh perjuangan sekuat tenaga. Rasa sukses itu kini bisa dinikmati dengan santai, sebab hanya memikirkan urusan yang pelik saja dan menandatangani beberapa kertas-kertas.

__ADS_1


Mungkin banyak yang iri atas keberhasilan ini, hingga aku tak tahu apakah diluaran sana banyak sekali musuh yang mengintai apa tidak. Yang jelas aku harus extra lebih hati-hati, dengan pengawalan ketat oleh bodyguard sewaan yang kekar-kekar sekali tubuhnya.


Tok ... tok, pintu telah diketuk.


"Masuk saja!" perintahku menyetujui.


"Bapak ada tamu," cakap pegawai meminta izin.


"Suruh dia masuk saja," jawabku yang sibuk dan fokus, sedang meneliti beberapa perjanjian dengan perusahaan lain.


"Wah, terima kasih adekku sayang, sebab kau menyuruhku dengan menyambut hormat untuk masuk," cakap suara seorang pria yang aku benci.


Saat fokus atas kertas-kertas, kini pandangan sudah menatap sinis ke arah orang yang barusan datang.



"Apa yang kamu lakukan disini?" ketus tanyaku.


"Ciiih, dasar tak punya malu. Apa? Perusahaan milik papa kamu? Apa urat nadi kamu itu sudah hilang, atau kepala kamu itu telah terbentur akibat amnesia, hah! Si tua itu adalah papa tiri bukan kandung, jadi kau itu tak berhak sepenuhnya atas semua ini. Jadi perlu banyak sadar diri, dan selalu ngaca kau itu siapa?" hinaku memperjelas atas statusnya.


"Kamu?" jawab Kenzo seperti tak suka.


"Apa ... apa? Kamu ini hanya orang luar yang talah jadi keluarga kami, jadi haruslah banyak-banyak sadar diri. Masih untung kalian itu kami kasih tumpangan rumah, kalau enggak pasti sudah jadi gelandangan sekarang," hinaku lagi.


"Cukup," bentaknya.


"Kami memang bukan keluarga kalian, tapi asalkan kamu tahu bahwa papamu itu sudah tergila-gila oleh ibuku, jadi jangan terlalu sok angkuh dan percaya diri, jika suatu saat nanti bisa saja perusahaan ini akan jadi milikku," imbuh cakap Kenzo bangga atas angannya.


"Jangan mimpi kamu, sebab aku tak akan membiarkan itu semua terjadi. Jikapun terjadi, pasti kamu tak hanya akan kulukai saja, namun bisa-bisa kutebas habis keluarga kalian itu," ancamku yang tak mau mengalah.


"Woow, ternyata tuan muda Arjuna berani juga, ya! Tunggu saatnya kalau kau nanti bisa hancur, dan aku akan mengusai ini dengan cara mudah," balik ancamnya yang sok kuasa.

__ADS_1


Tangan begitu mengepal ingin mengayunkan sebuah tonjokkan ke mulutnya, yang tak berpendidikan itu. Namanya juga anak perebut laki orang, ya begitulah sifatnya! Sama kayak ibunya, yang suka menang sendiri ingin merebut harta dengan cara mudah.


"Silahkan, aku akan setia menunggu kamu. Jangan kamu kira papa sering kali membela kalian, kamu pikir aku takut begitu saja. Dasar manusia tak guna, bisanya hanya menyusahkan orang saja," keluhku tak suka.


"Heh, baiklah. Tunggu saja tanggal mainnya, sebab aku akan tetap berusaha minta hakku sebagai anaknya, walaupun orangtua telah nikah siri," cakapnya tak malu.


Tut ... tut, telepon perusahaan telah kutekan, untuk tersambung keruangan pengawal.


[Masuk sini cepat]


[Baik, bos. Kami akan secepatnya datang ke sana]


Rasanya sudah muak sekali, mendengarkan ocehan demi ocehan kakak tiri bernama Kenzo ini. Hingga dengan terpaksa kini menyuruh pengawal untuk mengusirnya. Tak butuh waktu lama untuk mereka datang ke ruanganku.


"Usir orang ini, dari sini segera!" perintahku pada tiga bodyguard bertubuh kekar.


"Baik, Bos. Siap laksanakan perintah," jawab kompak semua bodyguard.


"Eeh ... eeeh, mau apa kalian? Jangan macan-macam atau---!" cakap kakak tiri yang mulai ketakutan.


"Aah, banyak bac*t kamu. Cepetan usir dia dari sini," bentakku marah-marah menyuruh.


"Baik, Bos."


"Ayo ... ayo, kamu kesini. Cepat ikut kami keluar, ayo ... Ayo, cepat!" ucap paksa salah satu bodyguard.


"Tidak ... tidak, aku tidak mau pergi dari sini, sebab ada hal penting lagi yang ingin kubicarakan pada Arjuna adekku," ujar Kenzo meronta-ronta berusaha ingin lepas, dari cekalan tangan para bodyguard.


Karena Kenzo tak mau dibawa keluar secara halus, terpaksa mereka bertiga mengangkat tubuhnya secara tidak hormat, yaitu kedua orang memegang tangan dan satunya memegang kaki. Ancaman Kenzo begitu bikin emosi saja, hingga dada rasanya begitu panas tak tertahan, akibat api sudah mulai menyala-nyala, namun bisa tertahan semua hingga tak sampai mengotori tangan ini untuk memukul Kenzo.


Braaak, beberapa file sudah kulempar kasar kearah tembok, hingga kertas-kertas kini berantakan jatuh dilantai.

__ADS_1


"Awas saja, Kenzo. Aku tak akan membiarkan perjuanganku ini jatuh sia-sia ke tanganmu. Kamu pikir aku takut atas semua ancamanmu barusan, malah kau itu terlalu bodoh memberitahuku, agar aku harus berjaga-jaga dan hati-hati menghadapi kepicikanmu. Aku tak akan tinggal diam, untuk terus mengawasi kamu. Tunggu saja, siapakah yang kuat diantara kita nanti," guman hati yang sedang benci dan marah.


__ADS_2