
Pikiran lagi kacau, hati begitu keruh, saat perjodohan yang tidak diinginkan terjadi. Bukan tidak terima, tapi kenapa harus si bos kurang aj*r itu yang akan jadi calonku.
"Apa yang harus kulakukan. Heuuh, awas saja Arjuna, aku akan buat kamu menderita akibat menjebakku dengan perjodohan ini. Aah ... iiih, apa harus menolak mentah-mentah bos sombong itu, tapi bagaimana dengan nasib orangtua dan kampung ini nanti?" Kekesalan hati.
"Eghem ... hemm," Suara deheman seorang pria.
"Eh, Jono. Kamu ternyata? Sudah lama balik ke sini?" tanyaku lesu.
Semilir angin malam tak kuhiraukan ketika duduk diemperan hotel.
"Baru saja datang, kok!" jawabya santai.
"Kamu kenapa? Kok, wajahnya murung begitu, ditambah tangan menyangga dagu, seperti orang yang banyak masalah saja," tebak Jono.
"Emang."
Sekarang kami duduk sejajar dilantai, sama-sama santai menikmati panorama malam, saat kerlap-kerlip lampu para rumah warga telah menyala.
"Maksudnya? Kamu beneran lagi ada masalah?" imbuh Jono.
"Huufff. Benar Jono. Kamu tahu sendiri 'kan, mengenai masalah dikampung ini?" ucapku.
__ADS_1
"Yap, aku tahu. Lalu?" tanyanya lagi.
"Anak pemilik perusahaan yang jadi musuh kami, sangat- sangat mengesalkan karena akan dijodohkan denganku," Curhatnya diriku padanya.
"Bukankah itu lebih baik."
"Baik apanya. Orang dia itu sombongnya tujuh turunan. Suka menindas orang, apalagi sifatnya yang arogan itu, ingin sekali kutonjok mukanya yang selalu sok cool itu. Andaikan tadi tidak ada orang banyak saja sudah kutebas dia hidup-hidup, hahahaha!" gelak tawaku bahagia.
"Eheem ... hemm!" Dehem Jono lagi.
Aku yang seketika berhenti tertawa, melihat ke arah Jono dengan tatapan aneh. Kening sudah berkerut akibat melihat perubahan ekspresi Jono, yang sepertinya tidak terima.
"Ada apa dengan kamu? Kok kelihatan tidak suka, aku bercerita tentang si bos arogan itu?" tanyaku curiga.
"Eeh, enggak ada apa-apa, kok. Cuma heran saja atas ucapan kamu barusan. Memang kamu berani melawannya, sedangkan dia itu banyak sekali ditakuti orang?" tanya Jono yang aneh.
"Jangan ... jangan apa? Jangan bicara sembarangan," cakap Jono yang sepertinya takut melihat wajahku, yang sekarang sangat dekat sekali dengan mukanya.
"Jangan ... jangan, kamu ini mata-mata yang telah dikirimkan oleh bos Arjuna itu, untuk menyelidiki kampung kami," tebakku.
"Enggak!" bantahnya.
"Hah, ha ... ha ... hahhh!" tawanya yang aneh seperti dibuat-buat.
Pluk, tanpa permisi langsung kuayunkan tangan ke arah mulutnya.
__ADS_1
"Haiiist, main kurang ajar tampol mulut orang saja," Kemarahan Jono.
"Hehehe, maaf. Habisnya tawa kamu itu aneh. Masak orang menebak gitu saja, kamu malah tertawa, 'kan tidak tersambung sama kelucuan," jelasku.
"Iya juga, tapi kesannya tidak sopan saja tahu," imbuhnya masih tidak senang.
"Iya ... ya, aku minta maaf."
"Emm, selalu dimaafkan."
"Sudah, aku mau ke kamar dulu. Jangan lama-lama melamun sendirian disini, takutnya nanti kesambet," pamitnya mengejek.
"Kesambet apaan? Masih banyak orang yang berlalu lalang begini, masak ada hantunya yang mau ngikut," balasku.
"Beneran berani, nich! Kalau terjadi apa-apa jangan panggil namaku, ya."
"Waduh, kok aku mulai merinding begini, emm ... kenapa ini? Lihat ... lihat," tunjuk Jono mulai menakuti, dengan memperlihatkan tangan ada bulu yang mulai berdiri semua.
"Apaan sih, yang kamu bicarakan itu?" Kepura-puraanku tidak tahu.
"Ya sudah kalau berani. Bye ... bye. Awas ... awas, dibelakangmu itu ada apa?" pamit Jono menakuti.
Wajah seketika menoleh kearah yang Jono tunjuk. Tanpa diduga bulu kudukku mulai merinding juga.
"Hey, Jono. Tunggu ... tunggu aku!" panggilku yang sudah berlari terbirit-birit.
__ADS_1
Perasaan yang galau telah berubah menjadi ketakutan. Jono yang sudah masuk kamar, kususul untuk menutup rapat pintu gerbang hotel dan segera kembali kerumah utama.