
Dekat ... dekatlah denganku agar bisa menghirup roma tubuhmu yang kurindukan. Tiap detik hati terus saja ngedumel. Ingin rasanya dia dihadapanku terus. Kenangan wajahnya terus menghantui. Melakukan segala aktifitas jadi terhambat. Kerjaan hanya guling-guling dikasur.
"Apa kau tidak merindukanku juga, Liona? Kapan kita akan dipertemukan ketika sama-sama mengenggam erat tangan. Aku begitu merindukanmu, sampai rasanya ingjn mati saja bila tidak melihat wajahmu?" Kegalauan terus terjadi.
Drrzzt ... drrt, gawai diatas nakas bergetar.
Klik, tombolnya berwarna hijau kugeser.
[Gimana kabarmu, Nak?]
[Aku baik, Ma]
[Syukurlah kalau begitu. Mama sangat khawatir dengan keadaan kamu sekarang. Perusahaan sudah direbut sama anak musuh kita, jadi mama takut jika kamu terpuruk]
[Tidak masalah mengenai hal itu. Biarkan saja mereka menikmati sebentar. Kita lihat saja apakah si Kenzo bisa memegang kendali. Yang terpenting sekarang hati Arjuna harus sembuh, akibat Liona sudah membenciku]
[Kamu yang sabar. Masalah kamu tidak mudah untuk diselesaikan, mengingat Liona sendiri yang melihat kejadian itu. Yang utama adalah beri bukti jika kamu memang tidak bersalah]
[Tentu saja, Ma. Tapi sampai kapan Arjuna harus menunggu. Tidak tega melihatnya yang terus saja bersedih. Aku begitu takut jika kenyataan itu benar-benar terjadi yaitu kehilangannya]
[Kamu tenangkan pikirkan dulu. Pelan-pelan saja mendekati maupun menjelaskan. Hati wanita kalau sudah dikecewakan akan terasa mati dan rasa cinta itu seakan-akan hilang, yang mana hanya ada rasa kebencian dan balas dendam. Mama sudah mengalaminya, Nak. Maka dari itu raih tangan Liona lagi, jangan sampai kamu lepaskan hanya demi kenikmatan sesaat]
Mengenag masa tersulit yang beliau alami, hati kini trenyuh mendegarnya, saat banyak kesabaran yang beliau jalani walau sempat ada airmata darah. Semua tidak bisa dikembalikan dengan mudah , apalagi seperti awal pertemuan. Butuh proses panjang untuk meraih kesuksesan dalam membina kebahagiaan.
[Iya, Ma. Doakan terus Arjuna, agar bisa secepatnya membawa menantu kamu kembali]
[Tentu saja, Nak. Doa mama terus terpanjatkan, agar kamu sukses meraih segala hal termasuk pekerjaan dan rumah tangga]
[Iya, Ma. Makasih]
[Iya, Nak. Ya sudah, Mama ada sedikit kerjan. Lain kali kita sambung lagi]
__ADS_1
[Baik, Ma]
Setelah nada handphone terputus, berencana untuk membasahi seluruh tubuh, agar bau asamnya bisa hilang setelah bangun pagi. Mata yang terjaga terus terjadi. Pikiran terus saja melayang tentangnya. Tidak mudah mendapatkan cinta dan semua itu butuh ekstra perjuangan.
Duduk membungkuk. Kedua tangan menangkup wajah. Begitu berat beban yang kutanggung. Kuusap kasar, sebab masih berpikir tapi tetap tidak mendapatkan jalan keluarnya. Baju kusambar dan langsung menutupi tubuh, yang masih berbalut handuk sebatas pinggang. Rambut hanya kusisir menggunakan jari. Minyak wangi tidak lupa kusemprot disekitaran baju bawah ketiak.
Berlarian kecil, ketika tidak sabar untuk segera melihat wajahnya. Memutari beberapa bagian hotel tetap tidak kutemukan sosoknya.
Berjalan tergesa-gesa menuruni anak tangga pintu utama. Langkah menuju rumah utama dia. Pintu yang terbentang terbuka segera ingin kubertamu.
"Assalamualaikum," Salam yang tidak berani nyelonong masuk.
Kemarin status adalah menantu, masih bisa ditoleransi tidak salam saat masuk ke rumah mertua. Mereka terlalu ramah dan baik jadi tidak mempermasalahkan orang lain bertamu, namun yang dikhawatirkan adalah pencuri.
"Wa'alaikumsalam," jawab Ibu mertua.
"Iya, Buk. Terima kasih."
Ingatan beliau ternyata sangat baik.
"Emm, kayaknya kamu orang yang pernah datang kemarin 'kan. Yang kelaparan terus makan disini!"
"Iya itu saya."
"Ada apa, ya? Apa kamu sedang kelaparan lagi? Kalau iya, saya akan siapkan. Lagian baru saja masak nih."
"Oh, bukan ... bukan itu. Saya datang kesini sebab ingin ketemu anak Ibu."
"Oh, Liona. Maksud kamu?"
Tangan mengaruk belakang kepala. "Iya."
__ADS_1
"Memang kamu mau ngapain ketemu anak saya."
Tidak ingin dicurigai maka harus berbohong. "Ibu, jangan salah sangka. Saya ingin ketemu karena ada hal penting tentang kerjaan saja."
"Oh, begitu. Maaf jika salah menebak. Akhir-akhir ini pikiran Ibu lagi kacau memikirkan nasib anak. Sedikit takut jika ada yang berubuat jahat padanya lagi. Cukup dari suaminya saja. Kesedihannya adalah kesedihanku juga."
"Duh, kok jadi curhat. Maaf ya tadi sudah ada pikiran menuduh yang enggak-enggak."
"Oh, Tuhan. Ternyata tidak hanya gadisku yang sedang dilanda kesedihan. Ibu mertua juga kepikiran sampai kacau gitu," guman hati merasa bersalah.
Mencoba legowo. "Iya, Buk. Saya memahami kok. Ya sudah, klau dia sedang tidak ada dirumah, tapi kalau boleh tahu dia pergi ke mana, ya?"
"Kurang tahu juga, soalnya tadi diajak sama kakak suaminya."
"Apa, Bu? Maksudnya kakak tirinya. Uppps!" Keceplosan.
Mulut ingin kupukul saja, sebab dalam keadaan menyamar tapi bisa tahu saudara.
"Iya benar itu. Kamu kok bisa tahu sih?"
Nah kan benar. Tatapan beliau mulai ada kecurigaan.
Harus bisa menjawab walau ada kebohongan. "Hehhe, sebenarnya asal menebak. Tapi pernah ketemu sih dihotel dan Liona pernah cerita."
"Ooh, begitu."
"Ya sudah, Bu. Saya pamit ingin kembali ke hotel saja, karena orang yang saya cari tidak ada dirumah."
"Ooh, silahkan."
"Permisi."
Tidak ingin ada hal yang aneh dan membuat kecurigaan, akibat mulut yang tidak terkontrol yang bisa-bisa berakibat fatal salah berkata. Sudah menebak jika beliau tadi sempat memasang kecurigaan. Untung saja beliau percaya pada ucapan, sehingga bisa lepas dari tatapan intidimasi.
__ADS_1