
Alhamdulillah hotel kembali ramai pengunjung. Walau agak repot tapi pemasukkan keluarga terus bertambah. Mungkin ini efek desa terpencil, jadi banyak yang tidak tahu dan malas berkunjung sebab keadaan sedikit jauh dari kota.
Malam yang sunyi sepi, kini hanya ada suara jangkrik saling bersahutan membunyikan suara. Aku sekarang tengah duduk diteras hotel, sedang menunggu Arjuna untuk menjemput, sambil netra menatap keindahan rembulan nan jauh disana.
Waktu baru menunjukkan diangka delapan malam. Keadaan hotel masih ramai, walau hanya ada orang yang berlalu lalang sedang keluar membeli makanan, maupun menikmati keindahan alam diwaktu malam pekat begini.
"Kamu sedang menunggu jemputan 'kah, Nak!" sapa suara Bapak.
"Ee'eh, iya, Pak."
Beliau kini ikutan duduk berdekatan dengan diriku .
"Tunggu saja, pasti sebentar lagi nak Arjuna akan datang."
"Iya, Pak."
"Gimana? Apa mantu Bapak itu memperlakukan kamu dengan baik?" tanya kekonyolan beliau.
"Arjuna, dari dulu selalu baik sama Liona!" jawabku sudah memeringiskan wajah.
"Baguslah kalau begitu. Takutnya kamu itu salah pillih. Apalagi mereka itu dari keluarga kaya, dan pastinya kamu harus banyak menyesuaikan keadaan disana," Kekhawatiran beliau.
"Liona, paham sekali apa yang menjadi kekhawatiran Bapak. Tapi alhamdulillah selama ini Arjuna masih aman dan baik. Pihak keluarga dia saja, yang sepertinya nampak tidak saling akur antar keluarga dari satu dengan yang lainnya," jelasku.
"Oh, gitu. Tapi kamu harus tetap waspada sama mereka, sebab kasta mereka sangat berbeda jauh sama kita."
"Iya, Pak. Pasti itu, lagian Arjuna tidak akan macam-macam sama Liona."
"Baguslah kalau begitu, berarti Bapak bisa sedikit tenang, saat kamu sudah lepas tidak jadi tanggung jawab kami lagi"
"Iya, Pak. Alhamdulillah!" Sebisa mungkin kuberikan senyuman selebar-lebarnya agar beliau tenang.
Sebenarnya apa yang dikatakan Bapak ada benarnya, tapi aku harus bisa menutup rapat-rapat ini semua, demi kebaikan para pihak keluarga kami.
Obrolan antara anak dan orangtua terus berlanjut. Walau diri ini sudah dewasa dan berumah tangga, yang namanya anak tetap saja orangtua akan khawatir, mungkin takut-takut jika anaknya akan mendapatkan perlakukan tidak baik dari pihak suami. Rasa yang tidak penah putus dari orangtua yaitu kasih sayang sepanjang masa untuk anaknya.
Beberapa jam kemudian akhirnya mobil yang kutunggu datang juga. Arjuna nampak gagah dengan balutan kemeja putih bergaris-garis. Rasa hormat tidak hilang, saat tangan pungung Bapak sudah di cium takzim olehnya. Setelah sedikit berbasa-basi sama bapak, Arjuna tak sabar lagi segera memboyongku untuk pulang.
"Kami pamit dulu, Pak!" Suaranya ingin pergi.
__ADS_1
"Iya, hati-hati kalian dijalan."
"Iya, Pak."
Salam dan lambaian tangan untuk beliau kami lakukan. Mesin sudah dihidupkan. Didalam jalanan yang berliku serta gelap, mobil terus melaju ketempat peristirahatan.
Perasaan begitu aneh saat melihat wajah Arjuna. Mukanya datar tapi mulut sedikit moncong, seperti orang yang sedang sebal saja.
"Tumben kamu hari ini banyak diam, biasanya selalu ngoceh!" singgungku.
"Emang aku burung, pakai ngoceh."
"Kayaknya. Heehehe!" Cegegesan yang bisa kulakukan, saat Arjuna melotot tajam kearahku.
"Dasar."
"Kamu kenapa, sih! Kayak lagi bad mood saja," tebakku.
"Mana ada."
"Ada 'lah, kelihatan banget wajahmu itu."
"Masak sih. Mungkin perasaan kamu saja itu."
"Emang ketara 'kah?" tanyanya.
"Ketara sih enggak, cuma aku tadi nebak saja sebenarnya."
"Anda benar sekali. Aku memang lagi bad mood sama seseorang."
"Benarkah itu? Siapa ... siapa itu?" Kekepoan yang tak sabar ingin tahu.
"Mau tahu beneran 'kah?" Balik tanyanya.
"Iya."
"Aku lagi kesel sama seorang wanita yang tidak bisa menjaga sikap."
"Maksudnya, dan siapa itu?" Ke akut'an terus saja ingin tahu.
"Ada dech. Intinya cewek itu sudah punya suami, tapi masih saja berani berdekatan dengan pria lain tanpa sepengetahuannya. Kalau itu terjadi padaku langsung phang ... phang, kutabok itu muka si ceweknya."
"Hah, aneh bener yang dikatakan Arjuna? Apa yang dia maksud itu diriku? Tapi ... eh tapi, dia 'kan tidak ada didekatku seharian ini. Waduh, apakah ada yang lapor tentang kelakuanku yang akhir-akhir ini dekat dan berteman sama Kenzo," rancau hati yang merasa aneh.
__ADS_1
"Benarkah itu? Siapa dia? Kamu kok geram gitu, mau menabok?" Kepura-puraan terus bertanya.
"Ya ... iyalah. Mana ada seorang suami akan senang melihat wanitanya itu asyik ngobrol sama pria lain. Saat suami sibuk banting tulang mencari nafkah, masak dia malah enak-enakkan santai ngerumpi yang tidak ada faedahnya, ditambah lagi pria itu yang baru dia kenal," Arjuna mulai mengoceh mengelanturkan pembicaraan.
"Eh, sebentar ... sebantar. Apa kamu menyinggungku?" tanya penasaran.
Shet, tiba-tiba rem mobil diberhentikan mendadak. Tatapan Arjuna sudah penuh emosi, dan sedikit membuatku ciut tak berani menatapnya balik.
"Aaah, benar-benar apes kalau Arjuna sampai tahu dan yang dia maksud adalah diriku."
"Kok kamu merasa begitu, padahal aku sedang membicarakan orang lain loh ini," cakapnya yang bikin kesel.
"Astaga, kenapa aku jadi baper gini. Kenapa tadi harus merespon cepat-cepat. Mau jawab apa nih!" Kepanikkan hati mati kutu.
"Hehehe, tidak ada 'lah. Aku tadi cuma kebawa suasana dan perasaan saja. Takutnya menyinggungku sebab ada salah," balas kata-kata tidak bisa mencari alasan.
"Salah? Apa maksud kamu itu?" Arjuna sudah mendekatkan wajahnya ke arah muka, yang berkerut takut di apa-apain olehnya.
Hembusan nafasnya yang hangat dan wangi sudah menyapu wajah. Netra mencoba mengintip apa yang sebenarnya Arjuna inginkan, tapi malah bikin jantung kian berdetak bagai pacuan kuda. Tatapannya begitu mengisyaratkan menginginkan sesuatu, tapi sayangnya aku tidak bisa membacanya sekarang.
Sedetik, dua detik, dan waktu terus berjalan, Arjuna masih saja dalam posisi yang sama., membuat wajah merona dan memanas saja.
"Apa sudah puas menatap wajahku," ucap ketakutan.
"Egkhem ... hem. Oh jelas sekali, aku sangat-sangat puas sekali melihat wajahmu yang jelek itu."
"Iiisssssh, jelek-jelek begini kenapa kamu mau menikahiku?" Rasanya dongkol sekali jawaban Arjuna tadi.
"Kalau bukan ada perjanjian itu, mungkin aku juga ogah menikah sama kamu," jawabnya to the point.
"Ya sudah, kalau kamu benar-benar menikah hanya beralasan diatas kertas saja, berarti secepatnya kita bisa berpisah. Lagian buat apa kita menikah jika tidak bisa mengakurkan hubungan kita," sewot jawaban sebab tak terima atas perkataannya tadi.
"Tapi--?" Suaranya tertahan.
"Ngak ada tapi-tapian. Kalau tanggal kontrak perjanjian pernikahan itu berakhir, secepatnya kamu harus mengurus semua agar kita bisa pisah," sautku sudah memonyongkan bibir.
"Hmm."
Begitu mudahnya dia berucap maupun menjawab sekarang. Seketika mulut ini terbungkam rapat, tidak ingin menanggapi lagi ocehan Arjuna yang mencoba mengajak bicara lagi.
Tak terasa akhirnya kami sampai ke apartement. Langkah sudah berjalan duluan, tanpa menunggu Arjuna yang masih sibuk memakirkan mobilnya.
__ADS_1