Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Aku yang mulai menganas


__ADS_3

Tangan mulai membelai wajah ketakutan Liona.


"Cantik juga," gumam hati dengan menampilkan senyuman smirk andalanku.



Mungkinkah ini akan jadi malam pertama bagi kami?.


"Liona, apa kamu menginginkan kita agar bisa punya anak? Dan tahukah kau gimana caranya?" Kepolosan bertanya.


Mungkin dada Liona sedang bergemuruh, tampak dari wajahnya bersemu kemerahan. Akupun terus semakin berani mendekat, lalu mendongakkan wajahnya. Awalnya kami tidak saling kenal, namun sekarang takdir telah membuat kami resmi menjadi pasangan suamii istri yang menikah. Panas, saat pipi berbias merah itu telah kubelai.


"Sse-sed-ikiit, tahu." Dengan suara bergetar dan gugup. Dia menyahut lirih.


Keringat dingin nampak mulai membanjir di wajah pucat Liona.


"Lalu, apakah kau tidak ingin membuatnya bersamaku?" Goda lagi.


"Tidak ... itu tidak bisa."

__ADS_1


"Kenapa tidak bisa? Bukankah kau sudah halal untukku."



"Tidak bisa, sebab kata ibu, ketika aku kecil dulu, cara membuat anak itu sangat mudah. Tinggal ambil tepung terigu, lalu bentuk menyerupai bayi, kemudian aku memakannya, nah kemungkinan besar jadi deh hamilnya," sahut Liona mengada-ada. Mungkin saat ini dia sedang begitu gugup akut, sehingga menjelaskan semua yang tudak masuk akal.


Akupun hanya menahan tawa sekuat tenaga mendengar sahutannya yang bagiku sangat lucu sekali. Perut rasanya agak sedikit sakit, akibat mau tertawa tapi tidak bisa.


"Bukan itu yang kumaksud. Semua orang bisa membuatnya, namun untuk pasangan seperti kita harus memulainya dengan pemanasan. Bukankah begitu?"


Liona berbalik menatapku lekat-lekat diwajah rupawan ini. Sepasang mata bulat jernih nan elok, menyiratkan sesuatu namun aku belum bisa menebaknya. Mungkinkah dia akan siap jika aku merampas yang dia jaga selama ini.


Kungkin tidak usah berbasa-basi lagi. Mungkin ebih baik segera melakukannya. Buat apa jika haeus menunda waktu? Sayang sekali jika tak dicicipi. Toh, gadis di depanku ini adalah miliknya yang sah sekarang.


Liona kelihatan menahan napas, ketika menyadari wajahnya yang begitu dekat denganku. Begitu gugup dan tegang. Seumur-umur, baru pertama kalinya bersama wanita dalam satu ranjang. Apakah aku bisa memulainya dengan kesadaran, kalau hati ini harus sepenuhnya jadi milik Liona.


Tentu saja aku dialam kesadaran penuh. Bukan karena saling mencintai yang membuat kami di ruangan ini, namun ada ikatan sah yang terhalang dinding perjanjian.


Untuk meredamkan kegugupan yang bersemayam dalam diriku, aku mencoba fokus menatap lekat-lekat wajah ayu bak bidadari. Setiap inci kulihat, sangat sempurna tidak ada cela sama sakali. Sungguh keberuntungan yang tidak terduga, yang kemungkinan ini sudah menjadi jalan takdir kami untuk bersama.

__ADS_1


Liona memejamkan mata kuat, saat diriku hendak menciumnya. Nafas hangatnya terasa menyapu wajah, sungguh harum bau hembusan mint itu, sehingga rasanya begitu kecanduan ingin terus menikmatinya.


"Juna?" lirihnya dia berkata.


Aksi yang makin brutal tidak memperdulikan panggilannya. Tangan terus saja berjalan-jalan menjelajahi tiap inci kain yang melekat ditubuhnya. Liona berusaha menolak, namun kalah kekuatan oleh diriku yang makin bringas ingin mengusainya.



"Hentikan, Juna! Jangan lakukan ini," pintanya saat tangan sudah berhasil membuka kancing baju satu persatu.


"Kenapa berhenti. Aku ingin kau manjadi milikku seutuhnya," jawaban saat leher jenjangnya kujelajahi dengan memberikan beberapa kecupan.


"Ingatlah kontrak itu. Aku tidak ingin kamu melanggarnya. Bukankah jika kau merampas apa yang selama ini kujaga dan pertahankan, dirikulah yang nanti akan merasa rugi setelah kontrak itu berakhir," Liona terus saja mengoceh, namun aksiku tidak berhenti begitu saja melainkan semakin menjadi-jadi.


"Aku tidak peduli. Jika aku melakukan ini berarti kau akan kumiliki selamanya, paham!"


Nafasnya mulai memburu. Semua yng tertahan sudah mencapai level tingkat tinggi di ubun-ubun. Entah, apa yang sedang merasukiku sekarang. Yang terlihat, aku hanya ingin menyalurkn hasrat kepada wanita yang sudah kusayangi.


Tidak lama. Sedetik kemudian, senyum lebar penuh kemenangan terukir di bibirku. Liona nampak pasrah tidak ada perlawanan, beda seperti awal-awal tadi. Sempat ada aliran bening yang jatuh disudut pelupuk matanya, namun dengan bujuk rayuan dan menyakinkannya, bahwa aku tidak akan meninggalknya dan akan terus mencintainya, maka Liona akhirnya luluh dan hanya bisa menerima kebrutalan dalam buaian nafs*.

__ADS_1


__ADS_2