Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Mencoba Meminta Maaf


__ADS_3

Rasanya kok jadi repot juga kalau Liona ngambek. Mulutku benar-benar harus di lakban biar ngak selalu keceplosan. Sungguh menyesal sekali mengatakan yang enggak-enggak pada Liona tadi.


"Haduh, apa yang harus kulakukan padanya sekarang? Kali ini kayaknya beneran tersinggung, sebab kata-kataku yang tadi beneran kelewatan!" Penyesalan diri.



Saking marahnya tidak menungguku lagi. Mencoba mengejar langkahnya yang duluan berjalan, tapi takut kalau dia akan bertambah marah. Sekarang hanya bisa mengawasi dari kejauhan dibelakang.


"Aku harus cari cara agar bisa mencairkan suasana ini? Benar-benar merepotkan kalau wanita sudah ngambek. Hmm, apa yang harus kulakukan, agar dia luluh dan mau memaafkan!" Kepala sudah dibuat puyeng karena ke ngambekkan seorang wanita saja.


Tanpa mengucap salamat malam dan tidur lagi, Liona langsung masuk kamar dan menguncinya. Benar-benar sial hari ini, akibat kecerobohan mulut yang tidak terkontrol.


Langit-langit atap rumah sudah kupandangi seksama, saat santai duduk sambil selonjoran disofa ruang tamu. Pikiran begitu melayang-layang mencari cara.


"Aah, sudahlah. Besok saja aku pikirkan caranya. Huaaah ... huaah," Mulut mulai menguap.


Rasanya ke kamar saja langkah begitu berat. Tubuh kubanting kesembarang arah dengan posisi tengkurep. Akibat kecapek'an langsung saja memejamkan mata. Pedih dan berat membuat tidak tahan untuk tetap terbuka.


*******


Hawa dingin yang menusuk tulang membuatku terus meringkuk didalam selimut, ditambah lagi Ac masih menyala dan rasanya malas sekali untuk sekedar mematikan. Ayam pagi yang berkokok saling bersahutan tidak kupedulikan lagi, yang terpenting nyenyaknya tidur harus dipuaskan.


Tok ... tok, suara pintu diketuk.


"Aah, siapa sih pagi-pagi membangunkan?" guman hati yang kesal, sebab mata masih enggan untuk terbuka.


"Juna, ayo bangun. Ini sudah siang, apa kamu tidak ingin kerja!" Suara bidadariku yang mengetarkan jiwa.


"Iiissh, ternyata Liona. Btw, bukankah dia sedang ngambek atas apa yang kukatakan semalam, tapi kok sudah membangunkan? Apa dia sudah tidak marah lagi," Hati terus saja bergulat bertanya-tanya.


Tok ... tok, pintu masih saja diketuk.


"Tapi kayaknya omongan tadi malam memang tidak bisa dimaafkan sebab sudah menyinggung dia begitu kejam. Mungkin dia membagunkanku sekarang, sebab memang tugas dia sementara jadi istriku" rancau hati terus saja bertarung atas perkataan sendiri.


"Juna? Oh juna. Tok ... tok!" teriak-teriaknya yang terdengar mulai dongkol.

__ADS_1


"Aiish, inikah kesempatanku untuk meminta maaf sama dia. Tapi bagaimana?."


Sejenak otak sedang bekerja keras untuk mendapatkan ide.


"Aahaai, akhirnya ide dapat juga!" Kegembiraan saat menemukan cara untuk meminta maaf.


Wajah langsung saja kututup rapat-rapat dengan selimut. Suara Liona tidak kupedulikan lagi. Yang terpenting aku sekarang ingin los tidur seharian.


Ceklek, pintu terdengar sudah terbuka. Suara deru langkah memakai sandal mulai terdengar juga.


"Untung pintu semalam lupa menguncinya, sehingga kamu bisa masuk mudah ke dalam perangkapku sekarang, hihihihi!" Kegilaan sangat gembira, ketika misi akan terjadi sungguhan.


Rasanya pengap juga bersembunyi didalam selimut tebal, tapi tak apa yang penting bisa menjalankan misi untuk dapat maafnya.


"Juna ... jun, ayo bangunlah. Ini sudah siang. Apa kamu tidak ingin berangkat kerja." Liona sudah membangunkan dengan cara menarik-narik selimutku.


"Emm, malas 'lah!" Kepura-puraanku.


"Hadeh, kok bisa malas, sih!" tanyanya.


"Hah, benarkah?" tanyanya tidak percaya.


Tidak ada jawaban dariku biar Liona percaya.


"Ayolah, kamu biasanya tidak kayak gini. Juna ... oh, Juna!" panggilnya lagi.


"Hmmm, apa kamu beneran sakit sekarang?" Liona sudah menarik-narik kuat tanganku agar bisa bangun tegak.



Akting harus perfeck. Tubuh kupeluk sendiri dengan berpura-pura mengigil.


"Semoga Liona percaya. Hahaha, kamu pantasnya jadi aktor saja Juna daripada bos!" Guman hati grmbira.


"Juna .... juna, ayolah bangun. Jangan buat aku khawatir begini!" Liona sudah mengoyang-goyangkan tubuhku.

__ADS_1


Tidak ada respon untuk meredakan kekhawatirannya itu. Tangannya yang halus dan berbau bawang merah telah menyentuh keningku. Netra mencoba mengintip sedikit, dan Liona dengan pintarnya mencoha mengukur suhu tubuh sendiri dengan tangan satunya, mungkin ingin membedakan suhu kami.


"Tidak panas 'pun," ucap Liona.


"Matilah, bisa ketahuan benar 'dah!" Kepanikan.


"Aku memang tidak panas, tapi rasanya badanku sakit semua. Ditambah dingin benget ini, beeeerrrrr!" Berpura-pura kedinginan yang langsung menarik selimut.



"Wah, kalau begitu kita periksa ke dokter saja," usulnya.


"Matilah aku!" guman hati kaget.


"Tidak usah. Aku baik-baik saja, kok. Mungkin dengan minum obat yang tersedia dirumah ini nanti akan sembuh."


"Emm, benarkah itu? Kalau begitu, tunggu sebentar disini!" Liona sepertinya mulai percaya.


"Kamu mau ke-ke--ke-ma-na? Jangan tinggalkan aku!" Kepura-puraan kembali mengigil.


"Aku akan ambilkan obat dulu, jadi tunggulah disini sebentar, biar kamu nanti cepat sembuh."


"Emm, ya sudah."


"Tunggu disini, ya! Jangan bergerak apalagi ngapa-ngapain tanpa bantuanku, sebab bisa-bisa kamu malah bikin repot saja nanti."


"Iya."


"Ok, tunggu."


Liona beneran sudah melenggang pergi. Akupun langsung bangkit dari berpura-pura tak berdaya dipembaringan.


"Aah, sial. Kenapa Liona langsung ada ide mengambil obat. Bisa-bisa aku akan keracunan ataupun sekarat, sebab tidak sakit tapi minum obat. Apes beneran dah!" keluh kena karma langsung ditempat akibat berbohong.


Ingin berpuas molor yang kulakukan sekarang. Badan memang sedikit kelelahan jadi tidak apa sekali-kali cuti kerja, tapi herannya kenapa harus melenceng sama drama yang kubuat. Tangan mencoba mengetik pesan untuk dikirim pada Cakra, untuk membantu mengatasi pekerjaan diperusahaan

__ADS_1


__ADS_2