
Warna dedaunan yang nampak menghijau, dengan udara begitu sepoi-sepoi sejuk. yang semakin lama semakin membuat nyaman diriku, untuk terus melangkah berjalan-jalan. Tanpa henti aku berlarian kecil, sambil terus membentangkan tangan menikmati keasrian alam ini. Si culun hanya diam, yang dapat kulirik sesekali tersenyum kecil, saat melihat tingkah polahku bagaikan anak kecil.
"Apa disini memang asli semua pohonnya? Aku lihat masih utuh semua," tanya si Jono dengan konyolnya, melihat ke sekeliling atas pohon.
"Lha terus kalau tidak asli mau palsu, gitu? Apa kamu itu tidak mikir, mana ada tanaman palsu yang besar-besar begini," jawabku sebab merasa aneh.
"Bukan itu maksudku. Yang kutanya itu, belum adakah yang menebang atau mengusik pepohonan disini?" imbuh tanya Jono.
"Oh, begitu. Selama aku disini sejak masih bayi sampai sedewasa ini, kayaknya belum pernah. Memang kenapa? Apa kamu kagum atas keindahan disini?" balik tanyaku.
"Iya, aku kagum. Udaranya begitu menyejukkan dan keasrian atas daun sangat memanjakan mata. Kalau dikota jarang menemukan rasa kedamaian seperti ini, dan aku sekarang suka melihatnya," jelas Jono.
"Baguslah kalau kamu suka."
Setapak demi setapak kami terus saja berjalan, menyusuri hutan asri namun tak menakutkan. Banyak pepohonan buah seperti jeruk, pepaya, mangga, dan lainnya yang terus kami lewati. Si culun Jono dari tadi hanya memegang handphone, untuk terus sibuk memotret.
Setelah puas, kini kuajak dia jalan-jalan dekat dengan sawah, yang sedang ditanami jagung dan beberapa sayuran lainnya. Kurasa belum cukup memuaskan untuknya, kini kuajak Jono jalan-jalan menyusuri bukit yang tak terlalu tinggi, hingga kini menampakkan pemandangan bawah bukit terlihat indah menawan, dengan beberapa perumahan dan pohon-pohon yang terlihat kecil.
"Disini hawanya adem dan nyaman sekali," pujinya.
"Kamu suka 'kah, Jono? Banyak orang suka dengan kampung ini, akibat keindahan dan hasil panen dari kami. Heh, tapi sayangnya masih ada saja orang yang jahil, untuk berusaha mengambil paksa kampung ini," keluhku sendu.
"Uhuuk ... uhuuk!" Suara batuk Jono akibat tersedak air minum dari botol yang dia bawa.
"Kamu tidak apa-apa, Jono?" tanyaku yang menghampirinya.
Hanya lambaian tangan yang dia berikan sekarang, yang kelihatannya si culun dalam keadaan baik.
"Kenapa tidak hati-hati sih minumnya tadi?" keluhku.
"Uhuk ... uhuk, aku tadi sudah hati-hati, cuma lagi tak sengaja tersedak saja," jelasnya santai.
__ADS_1
"Ooh."
"Kalau boleh tahu, apa orang yang ingin merebut tanah kampung kecil ini adalah orang yang benar-benar jahat, yang akan serius mengambilnya?" tanyanya.
"Tentu saja iya 'lah. Keluargaku sangat benci banget sama si bos si*lan itu apalagi diriku, kalau ketemu saja kuremas itu muka dengan bon cabe level sepuluh. Kalau masih belum jera, akan kupatahkan kaki dan tangannya sekalian," Kekesalanku menjawab.
"Ekhem ... hmm, benarkah kamu akan melakukan itu? Dia itu kalau tidak salah sangat-sangat kuat, anak buah diapun ada dimana-mana dan pastinya jika kamu menghadapi akan kalah," jawabnya yang aneh.
Aku hanya bisa mengkerutkan kening, dengan alis sedikit naik keatas, sebab merasa aneh apa yang baru saja dikatakan si culun, yang sepertinya tahu banyak hal tentang musuh.
"Kamu kok tahu? Memang kamu kenal baik sama si dia?" tanyaku.
"Ee'eh, enggak kok. Cuma dengar-dengar saja dari ucapan para isu warga disini," jelasnya.
"Ooh, Memang warga disini tahu semua, sebab mereka juga benci setengah mati pada yang namanya Arjuna musuh kami itu, bahkan saking jengkelnya pada pria itu, warga telah mengucapkan sumpah serapah yang jelek-jelek untuknya," jelasku.
"Benarkah itu? Kok sampai segitunya, aku jadi merinding ini," cakap Jono memberitahu, sambil menunjukkan lengannya yang ada bulu halus sedang berdiri semua.
"Mana ... mana? Mungkin kamu merinding bukan karena ucapanku tadi, tapi hawa dingin ditempat ini. Lagian untuk apa kamu takut pada sumpah itu, sebab 'kan bukan untukmu," terangku merasa curiga.
"Ya sudah, kita turun saja. Lagian tak enak diatas puncak ngomongin masalah ini," ajakku.
"Baiklah, ayo!" jawabnya setuju.
Kini aku mengajak Jono untuk menapakki jalan yang berbeda tempat, agar dia bisa melihat pemandangan lain. Suara gemericik air terdengar mengalun merdu, disaat alirannya begitu deras melewati alur bebatuan, yang masih utuh ukurannya yaitu besar-besar.
"Wah, ada sungai! Benar-benar lengkap kampung ini," pujinya takjub saat melihat sungai.
"Kamu suka 'kah? Kalau suka kita turun untuk mencoba menangkap ikan, gimana?" tawarku.
"Memang bisakah?" tanyanya yang tak percaya.
"Yang jelas pasti ada dan bisa. Kalau beruntungpun pasti dapatnya gede-gede, lagian banyak warga yang sering memancing disini," jelasku.
__ADS_1
"Ayo, siapa takut. Lagian aku belum pernah mencobanya dan pasti itu sangat menyenangkan sekali, jadi nanti ajarin aku supaya dapat ikan seperti yang kamu ceritakan tadi," cakapnya setuju.
"Ok, siapa takut."
Tantangan dan keingintahuan dia, telah membawa kami untuk turun mendekati sungai yang mengalirkan air jernih. Sebuah kayu memanjang dengan ujungnya kubuat lancip oleh pisau, yang ada dalam tas kecil berada dipinggangku, kini kubuat untuk menombak membunuh ikan yang sedang berlalu lalang. Pisau kecil namun tajam, tak pernah lepas dariku untuk berjaga-jaga saat dalam keadaan genting, apalagi tadi sempat memasuki area hutan.
Dengan konsentrasi penuh, netra kini harus memperhatikan seksama ikan-ikan yang sudah gesit berseliweran dikaki kami. Sekarang aku mencoba mengajari si Jono untuk menombak yang baik itu bagaimana. Bagiku mudah, sebab bapak dulu sering kali mengajak kami ke sungai, sambil memberi ilmu belajar menombak ikan dengan baik.
Jleb, dengan kasar akhirnya aku dapat juga menombak ikan walau dapat kecil.
"Yes, akhirnya dapat juga!" Kekegembiraanku berucap.
"Yah, kamu mudah sekali dapatnya. Aku dari tadi sangat fokus memperhatikan ikannya tapi ngak dapat-dapat," keluh Jono.
"Cara menangkap seperti ini memang butuh kesabaran dan konsentrasi, jadi pelan-pelan saja kalau mau dapat," jelasku.
"Apa aku tangkap pakai tangan saja biar cepat, plug!" Dengan tak sabarnya si culun sudah membuang tombak buatanku.
"Terserah kamu saja!" jawabku membiarkannya.
Berkali-kali si Jono benar-benar menangkap ikan memakai kedua tangannya, hingga tanpa peduli lagi dia sering kali jatuh terperosok dalam air, dan aku hanya melihatnya dengan tertawa ria akibat puas dia terjatuh dengan lucunya.
Dengan santainya kini Jono keluar dari dalam air, dengan sikap cool sedang merapikan rambutnya yang berponi untuk disingkap kebelakang. Sungguh pemandangan yang bikin air liur menetes, saat tubuh dibalik kaosnnya begitu ketara memperlihatkan garis-garis bodynya.
"Buju bune, Kenapa si Jono dapat ikannya lebih besar dari punyaku?" guman hati yang sudah meneguk saliva, ketika tak sengaja melihat bawah sel***ngnya.
Aku yang melihat pemandangan yang tak mengenakkan itu, seketika berbalik badan agar tak melihat itu.
"Aku mau naik dulu," pamitku.
"Hei, kenapa kamu sudah naik duluan, sementara kita belum banyak mendapatkan ikan," teriaknya memanggil.
"Nanti kita beli saja ikannya, ayo kita pulang saja! Sebab hari sudah mulai nampak sore," jelasku mencoba menghindari.
"Hey ... hey, tunggu. Aku belum puas mandi air sungai ini, kenapa harus cepat-cepat pergi?" panggilnya lagi.
__ADS_1
Tak kupedulikan lagi panggilannya, sebab penampakan itu telah membuatku gemetaran bukan main, sebab pemandangan yang aduhai itu baru pertama kali kulihat. Kerena tak ingin dipergokki oleh si Jono, maka aku harus secepatnya menghindari dia, walau dia berulang kali berteriak memanggil, saat jarak kami sangat jauh untuk berjalan pulang, aku tetap jalan lurus tak menunggunya.