
Tubuh mengeliat. Kepala terasa berat dan pusing. Angin berhembus kuat, terasa menusuk kulit. Mata mencoba membuka sedikit. Menyadarkan semuanya.
Berhasil duduk sempurna dan bangun dari tidur. Kepala kugeleng-gelengkan agar segera sadar sepenuhnya. Samar-samar mata melihat keanehan.
"Ini kamar siapa? Kenapa terasa beda?" Belum sadar sepenuhnya.
Sedikit demi sedikit menyapu seluruh ruangan.
"Hei, sayang! Kamu rupanya sudah bangun duluan," Sapa seseorang yang asing terdengar suaranya itu.
Mata terbelalak kaget saat Sonia tubuhnya terbungkus setengah badan oleh selimut. Menatap tubuh sendiri ternyata aku juga sedang bertelanj*ng dada. Syok, apa yang terjadi pada kami. Dengan secepatnya aku melompat dikasur. Untung saja bawahan tidak terbuka juga, jadi tidak malu didepannya.
"Bangs*t, apa yang kau lakukan denganku disini! Dimana aku?" umpat sudah emosi.
Tangan mengepal kuat, saat kesal melihat teman sendiri begitu santainya menanggapi kondisi kami. Wajahnya yang manja sangat memuakkan dan rasanya ingin kuga.par saja, namun tak kuasa melakukan itu sebab dia adalah perempuan.
"Jangan marah-marah dong Arjunaku, sayang. Apa kamu tidak ingat sama kejadian semalam, kalau kita begitu mesra memadu kasih diatas kasur ini. Bahkan kamu mengatakan kata-kata romantis terus lho kepadaku," Sonia semakin membual.
"Tidak ... itu tidak mungkin." Masih tidak percaya atas keterangannya.
Baju yamg berserakan segera kupunguti. Memakainya tanpa mengkancingkan baju. Mengingat semalam sudah berada dikamar ini, maka aku harus segera bergegas pergi, takut-takut jika Liona mencari.
"Eeeh, mau ke mana kamu, Juna? Tunggu!" Sonia berhasil menghentikan langkahku dengan mencekal tangan.
"Lepaskan. Tidak sudi rasanya tanganmu itu menyetuh kulitku lagi." Kebencian makin memuncak.
Sorot mata begitu tajam. Siapapun yang berada didekatku, pasti akan tahu jika emosi sudah dibatas ubun-ubun.
"Upps, maaflah. Jangan marah-marah gitu dong, sayang. Ngak baik,"
"Jangan pernah memaggilku sayang lagi. Muak mendengarnya. Oleh kau teman baik, aku masih berbaik hati dan ada rasa sopan. Sekarang jangan pernah ganggu aku lagi. Atas kejadiam semalam kita lupakan saja. Mungkin aku terlalu khilaf akibat mabuk minuman. Jadi maafkan aku," Langkah kembali meninggalkan Sonia.
Tidak seperti ini yang kuinginkan. Aku tahu jika Sonia sangat mencintaiku, tapi kenapa kami harus terjebak oleh situasi yang rumit. Hati terus saja mengutuk diri sendiri, sebab sudah berani menyentuh wanita lain selain istri sendiri.
Pintu tidak dikunci. Ganggangnya segera kutarik kasar, agar aku bisa segera keluar dari tempat durjana ini.
__ADS_1
Phakkk, tidak segaja kaki telah menendang sesuatu. Ternyata adalah sebuah handphone. Dari kejauhan kelihatan samar-samar seperti kenal dengan casing gawai itu. Tangan segera memungutnya daat teringat itu punya seseorang.
"Astagfirullah. Bukankah ini milik Liona? Kenapa ada dikamar ini. Aaah, tidak ... tidak. Semoga tebakkanku salah!" Hati merancau jadi tidak karuan.
Panik yang terjadi. Sekencang-kencangnya berlari. Sesampai dilift tombol terus kutekan-tekan tidak sabar. Rasanya dongkol sekali, saat lagi genting begini lift tidak berpihak.
Akibat kepikiran Liona. Dengan tidak sabar kaki menuruni anak tangga darurat milik hotel. Satu persatu kaki terus melangkah. Ketukan irama langkah sangat menakutkan, jika jatuh bisa parah terluka sebab terlalu tergesa-gesa. Belokan demi belokan kuhantam terus tanpa takut akan jatuh. Nafas mulai tersengal-sengal.
Tujuan utama adalah kamar Liona. Masih tidak lelah untukku berlari. Ganggang pintu itu tidak sabar kubuka.
"Liona?" Teriakku.
Terlihat kosong dan beberapa baju sudah ada yang berserakan dilantai. Berlari memeriksa lemari, ternyata kosong semua. Rambut kujambak kuat akibat frustasi.
"Kemana kamu, Liona?" Hati berguman khawatir.
Agar lebih jelas kalau Liona tidak pergi, maka kamar mandipun kuperiksa, namun apesnya tetap sama tidak ada sosoknya.
"Aah, sial. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Liona tahu kalau aku semalam tidur bersama Sonia?"
Tut ... tut, gawai mencoba menghubungi seseorang.
[Hallo, Bos. Iya, ada apa? Tumben menelpon saat sedang enak-enakkan bersama istri]
[Jangan banyak bicara. Apa Liona ada pulang kerumah?]
[Lho kok. Memang ada apa?]
[Tidak usah banyak tanya. Sekarang periksa dia di apartemen. Kalau tidak ada periksa dirumah orangtuanya juga]
Tangan sudah berdecak dipinggang. Rasanya bakalan menerima kabar mengecewakan. Liona baru menjejakki kota yang jadi tempat bulan madu kami, jadi pasti akan kebingungan mau pergi kemana. Mengingat dia baru pertama kali naik pesawat, pasti bakalan kesusahan juga sehingga aku tak bisa lepas dari rasa khawatir.
[Oh, ok ... ok, Bos. Aku akan periksa sekarang]
[Kalau tidak ketemu dimana, tetap cari. Aku akan terbang pulang sekarang]
__ADS_1
[Siap, Bos. Hati-hati dijalan]
Gawai yang tersambung langsung kumatikan. Melangkah ke kamar sendiri. Beberapa pakaian segera kupunguti dan masuk ke tas. Dalam kepanikan sudah memesan tiket, untung saja jam tidak mepet dan menungggu lama, jadi aku bisa langsung terbang untuk menyusulnya. Entah penjelasan apa yang harus kulakukan padanya nanti jika bertemu. Semua terjadi begitu cepat dan parahnya aku tidak bisa mengingat sama sekali kenapa bisa satu kamar bersama Sonia.
"Kamu mau kemana, Juna?" Wanita sialan itu masih saja mengikutiku.
"Bukan urasanmu, minggir!" Tas yang kutenteng harus ikut pergi meninggalkan hotel.
"Jangan bilang begitu. Apapun yang terjadi sekarang jadi urusanku juga, sebab kau sudah merampas segalanya yang aku milikku," Ocehan sonia yang memuakkan.
"Diam kamu!" bentakku yang langsung mencengkram mulutnya.
Kubuat dia tidak berkutik tersandar tembok. Jari-jari terus menekan pipinya.
"Aaah, Juna sakit. Lepaskan."
"Diam kamu."
Tidak peduli apakah aku sudah kasar atau melukainya. Mendengar dia banyak bicara, ingin rasanya segera kupatahkan lehernya. Emosi yang tertahan ingin kuledakkan opadanya.
"Tadi malam hanya kecelakaan dan aku dalam keadaan tidak sadar. Lupakan semua. Jangan lagi kepo sama urusanku. Jika kamu masih menganggu, aku akan berbuat lebih dari ini, paham. Cam kan itu, wanita laknat!" Nada bicaraku sudah hilang rasa kesopanan.
Teman yang menusuk. Tidak menyangka jika dia juga mau menyerahkan semua yang terjaga. Kekhilafan semalan benar-benar tidak bisa dimaafkan. Semua sudah terjadi, hanya ada penyesalan dan kemarahan yang bersemayam dalam jiwa.
"Maafkan aku juga, Arjuna. Semalan juga sedang mabuk berat. Kamu terus menarikku untuk masuk kedalam kamar. Semua terjadi begitu cepat saat kamu kenginginkan tubuhku," Sonia masih saja menjawab.
Mendengar penuturannya sangat menjijikkan. Kukutuk diriku sendiri. Tangan telah tega menyentuhnya.
"Bulsit atas semuanya. Aku akan menindak lanjutin masalah ini. Tak akan kubiarkan masalah ini merusak rumah tanggaku. Ingatlah, cintaku hanya pada liona, jadi jangan berharap lebih padaku sebab selamanya aku tidak akan jadi milikmu. Ingat itu! Permisi," Tangan yang sempat mencengkram kuat kulepaskan.
Pipi sonia nampak ada kemerahan sedikit. Dia hanya temenung tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tidak lagi mengejar dan mengikuti.
Waktu tidak boleh tersia-siakan. Tangan sudah melihat jam digawai. Waktu tinggal tiga puluh menit lagi. Aku harus bisa berlari cepat untuk mengejar waktu. Semua harus jelas dan terselesaikan, jika benar-benar Liona melihatku tidur dengan orang lain.
__ADS_1
"Semoga apa yang aku pikirkan tidak terjadi. Selamatkan dia, Tuhan. Jangan rubah hatinya untukku. Aku memang salah, tapi ini hanya kecelakaan. Semoga kamu bisa mengerti akan hal ini, Liona. Aku menginginmu, istriku. Maka bersabarlah menunggu dan menerima semua dari penjelasannku," Dalam taxi tidak tenang duduk.
Airmata penyesalan dan kekhawatiran bercampur baur jadi satu. Dia yang kucinta pasti akan terluka jika memang tahu atas kecerobohanku. Andai saja tidak ikut dengan Sonia pasti tadi malam tidak terjadi. ..