Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Rasa deg-degkan


__ADS_3

Semua nampak sempurna bagi permintaan pelanggan baru yang akan menginap dihotel ini selama sebulan. Kami bertiga telah bekerja keras, untuk menata dan memindahkan barang-barang agar bisa memenuhi permintaan orang itu, yaitu memberikan kualitas yang terbaik.



"Huuufff, akhirnya selesai juga!" Hembusan nafasku kasar saat lelah selesai membersihkan.


"Memang dia itu siapa, sih! Kok permintaannya aneh-aneh? Baru kali ini hotel kecil kita ada pelanggan yang minta macam-macam, apa dia orang kaya, ya? Masak meminta yang terbaik semua atas pelayanan kita," tanya Ibu.


"Aku juga tidak tahu siapa dia, Bu. Yang jelas uang yang dia berikan cukup atas permintaannya itu. Lagian biarkan saja, sebab siapa tahu dia itu bakalan membawa berkah untuk hotel kita, sebab kemungkinan dia itu orang kaya," jawabku santai.


"Benar itu, siapa tahu dia orang kaya yang membawa berkah buat kita. Jangan banyak ngeluh sekarang, yang penting uang sudah ada ditangan untuk kita sekeluarga bisa bersenang-senang nanti," saut jawab Bapak.


"Benar itu, Pak. Liona mau kita sekeluarga refresing sebentar, akibat kejadian yang akhir-akhir ini terjadi, hingga membuat kita sekeluarga tak bisa cuci mata menikmati jalan-jalan," ucapku sedih.


"Pasti itu, Nak. Pokoknya Bapak dan Ibu akan selalu membahagiakan kalian, sebab kalianlah penyemangat dan penghibur lara kami saat dalam kesusahan," jawab Ibu nampak sendu.


"Kami akan tetap bersama kalian, walaupun keadaan sesusah apapun itu, sebab kami sangat menyayangi kalian melebihi hidup kami sendiri," balik jawabku memberikan senyuman manis ke arah kedua orangtua.


"Terima kasih, Nak."


"Iya, Bu!" jawabku langsung memeluk tubuh beliau.


Setelah semua siap, aku langsung ingin memberitahu orang itu, saat dia kini tertidur pulas dikursi memanjang tampat menunggu tamu.


"Kak ... Kak, permisi!" panggilku secara pelan.


"Eemmm!" jawabnya sudah mengeliatkan tubuh sedikit.


"Bangun, Kak. Itu tempat yang Kakak minta sudah siap, jadi sekarang boleh segera ditempati," ucapku memberitahu.



"Oh, iya. Terima kasih, aku akan segera kesana," jawabnya yang sedang membuka kaca mata dan berusaha mengucek mata.


"Kalau boleh tahu siapakah nama, Kakak? Saya ingin minta ktp sebagai daftar tamu hotel ini, sebab takutnya jika terjadi apa-apa kami bisa dengan mudah mencari tahu, apa bisa?" cakapku sepelan mungkin, karena takut-takut dia akan marah.

__ADS_1


"Oh, tentu saja, sebab ktp memang penting untuk daftar catatan hotel. Sebentar, saya akan ambilkan," cakapnya yang kini sibuk mengambil dompet disaku celana, kemudian nampak mengeluarkan sesuatu yang kuminta.


"Ini!" ujarnya memberikan.


"Terima kasih atas pengertiannya.


"Ya ampun, namanya adalah Jono. Apa ini tidak salah? Waduh, namanya ternyata sama dengan wajah yang nampak cupu. Tapi dia sepertinya pria tajir, jadi kamu jangan merendahkan orang dengan rupa saja, Liona!" rancau hati yang sudah membaca bagian ktp.


Kamipun terpisah, si Jono ke kamar yang kami siapkan, sedangkan aku kini sibuk mencatat beberapa hal penting mengenai dia. Sambil menunggu pelangan datang lagi, kini kepala kugolekkan dimeja tunggu penerimaaan tamu.


Tuk ... tuk, sebuah benda diketuk dimeja, hingga membuat tidurku yang baru beberapa menit terjadi, harus bangun mendadak. Tangan berkali-kali menahan nguapan, akibat masih ngantuk ingin tidur lagi.



"Ada apa'an, sih! Pakai bangunkan orang segala?" ketusku bertanya.


"Maaf, jika menganggumu. Aku kini lapar sekali, antarkan aku ke rumah makan yang siap saji, sebab aku sekarang ingin makan," jawabnya.


"Ogah, aaah. Kamu 'kan bisa pergi sendiri," tolak jawabku.


"Wah, kalau itu aku akan langsung siap antar kamu, tapi naik motor saja, gimana?" jawabku antusias.


"Ciih, lihat uang saja langsung gercep. Ayo cepetan antar. Tidak masalah jalan kaki maupun naik motor, asal cacing dalam perutku bisa langsung dikasih makan," keluhnya tak suka.


"Hehehe, biasalah kak. Lagi butuh! Okelah, akan kuantar, tapi ambil motor dirumah sebelah sebentar, sebab itu milik orangtua," jawabku cegegesan.


"Ok 'lah, tak apa. Jangan panggil aku, kak. Sebab diriku belum tua lagi, panggil nama saja. Lagian kayaknya kita ini seumuran. Oh ya, antarkan aku ke pasar juga nanti, untuk membeli keperluan makan selama sebulan disini," cakapnya memberitahu.


"Siiap, kak. Eeh, maksudnya Jono."


Kami berdua langsung pergi ke rumah sebelah, dan berpamitan kepada orangtua.



Tangannya langsung saja mengambil helm yang tergantung dimotor, dan tanpa ragu kini langsung memakaikannya padaku. Netra begitu seksama tak sengaja menatap keindahan wajahnya namun kelihatan cupu, yang nampak meneduhkan. Saat dia berbalik menatap kearahku, aku langsung mengalihkan pandangan ke arah lain, supaya dia tak tahu kalau diriku tengah mencuri pandang padanya.

__ADS_1


Perlakuan si cupu Jono, membuatku tertegun sejenak, tapi untung saja langsung bisa menarik diriku supaya sadar, karena aku tak ingin dia tahu juga, bahwa aku sempat sedikit melayang dengan perlakuannya tadi, dan dipastikan takutnya kalau dia nanti akan besar kepala saat menyadari atas sikapku barusan.


Tanpa banyak bicara si Jono langsung menstater motor, dan memberikan kode agar aku langsung naik.


Ketika motor sudah menyala, tanpa diduga si Jono telah mengambil kedua tanganku, untuk langsung ditaruh dipingangnya.


Deg, dalam posisi yang seperti ini aku merasa begitu tak enak, dan mulai dengan hati yang deg-degkan. Rasa-rasanya telapak tangan mulai dibanjiri pulak oleh keringat akibat grogi. Posisi kami sangat dekat ... dekat sekali, hingga aku bisa mencium aroma maskulin keharuman minyak yang menguar dari tubuhnya.


"Pegangan yang kuat, agar kamu tak jatuh. Atau kamu ingin tubuhmu yang kurus ini terbang dibawa hembusan angin," cakapnya yang mengesalkan.


Mendegar ucapannya aku sontak menarik tangan, dengan diiringi wajah cemberut sebab tak suka.


"Kalau tak mau membonceng bilang saja, ngak usah pakai ngomong yang aneh-aneh!" ketusku marah.


Netra kini tertunduk untuk melihat ke arah tubuh, mencoba memastikan apakah benar yang dia katakan barusan.


"Sudah, jangan dilihat terus tubuhmu yang kayak triplek itu, semuanya tak akan berubah meskipun kamu menatapnya terlalu lama-lama," imbuhnya yang semakin mengejek.


Benar-benar mengesalkan sekali pria cupu ini, rasa-rasanya ingin kutampol saja mulut dia itu dengan sandal, yang sudah seenaknya mengataiku.


"Apa yang kamu bilang tadi? Triplek? Apa kamu tidak sadar dengan wajahmu yang cupu itu. Lihat saja, pasti bakalan tak ada wanita yang mau mendekati kamu itu," balik hinaku sebab tak terima.


"Kamu?" jawabnya yang kelihatan marah, namun sudah nampak menahannya.


"Apa ... apa?" balik tantangku berani.


"Haah, sudah ... sudah, ayo cepetan ikut naik, atau aku nanti akan mati kelaparan disini, dan pastinya kamu akan disalahkan sebab tak mau menuruti, hingga tuduhan pembunuhan bisa terjadi" suruhnya.


"Biarkan saja kamu mati, itu lebih bagus kayaknya," jawabku yang masih ingin mengajak berdebat.


"Kamu? Heeh ... sudah, ya. Aku tak ingin kita berdebat lagi. Ayo cepetan ikut, sebab perut sudah melilit sakit ingin minta diisi," suruhnya lagi yang kini menarik tanganku dengan kuat lagi.


Sebab tak siap tanpa keseimbangan lagi, tubuhkupun terbentur dengan kuat ditubuhnya. Netra kami sempat beradu mengkunci, akibat kaget atas kejadian barusan. Karena sedikit malu atas kejadian ini, aku langsung saja bergegas duduk tanpa memeluk pingangnya lagi.


Akupun yang tak ingin dekat dengannya, kini duduk diujung sekali diatas motor. Entah dengan sengaja atau tidak, berulang kali si culun menjalankan motor dengan cara mengerem mendadak, hingga mau tak mau berulang kali tubuhku terus membentur tubuhnya. Sungguh mengesalkan sekali sikapnya ini, namun harus berbuat apa saat diriku terlalu dibutakan oleh iming-iming uang.

__ADS_1


__ADS_2