Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Mengajak makan malam ditempat mewah


__ADS_3

Wanita harus selalu dihargai. Walau aku dan Liona hanya dalam pernikahan kontrak, tapi sebagai seorang pria yang pernah merasakan sakit hati ketika melihat seorang wanita terluka, maka sebagai janji seorang pria aku harus selalu membahagiakan wanita juga termasuk Liona.


Tangan terus menyetir kendaraan yang akan membawa ke tempat yang tidak pernah dia pikirkan. Wajahnya nampak kebingungan atas sikapku ini. Mungkin selama ini kami saling berdebat atas ucapan, namun kali ini akan baik sama dia, sebab sudah mau nurut atas ucapan untuk menjauhi Kenzo.



"Nah, kita sudah sampai!' ucapku saat ingin mematikan suara deru mesin mobil.


Wajah Liona kelihatan kebingungan lagi, yang menatap terus ke arah sebuah bangunan mewah nan klasik. Tangan sudah melepas sabuk pengaman, sambil melihat wajah seksama ke arah Liona yang dari tadi masih merasa keheranan.


"Ayo turun. Apa kamu mau sendirian didalam mobil ini," ucapan.


"Ooh, emm." Tangannya kini melepas sabuk pengaman jua.


Pintu mobil segera kubuka. Kaki sudah sibuk mengitari badan mobil.


Klik, pintu disebelah bagian Liona telah kubukakan.


"Terima kasih," cakapnya ramah.


"Emm. Sama-sama."



"Ini tempat apa?" tanyanya.


"Nanti akan tahu juga. Lebih baik kita segera masuk kedalam saja. Udara sangat dingin disini, takutnya nanti akan membuat kita sakit," suruhku.


"Ok."


Wajahnya masih melongo melihat ke arah bangunan. Langkahnya telah ketinggalan membiarkan aku berjalan duluan. Karena tak sabar langsung saja kuraih tangan kurusnya, untuk segera menaruh dipergelangan tangan yang sudah melingkar. Netranya telah berhasil melotot tajam atas tindakan barusan.


Mulutnya masih terdiam. Tak banyak kata-kata yang terlontar dari mulut, Liona.


Pintu berhasil terdorong dan terbuka. Restaurant mewah nampak sepi. Memang ini khusus untuk orang-orang yang berkantong tebal, jadi kelihatan tidak berpenghuni tapi sesungguhnya ada ruangan-ruangan khusus bagi penyewa.


Sikap kami yang romantis bergandengan tangan, sudah mulai menapakkan anak tangga yang menuju lantai dua, menuju tempahan yang sebelumnya sudah kupesan.


Alunan musik yang mengalun merdu dan romantis, mulai sayu-sayu terdengar saat kami mulai mendekati kursi mewah berbalut kain cantik berwarna putih. Liona langsung kuantar ketempat duduknya, namun sebelumnya kugeser kursi dulu, agar dia merasa nyaman untuk segera mendudukkinya.


"Kenapa?" tanyaku saat Liona begitu menatap keheranan.


"Hehehe, ngak ada pa-pa. Tapi--?".


"Tapi, apa?"


"Apa ini tidak berlebihan?"


"Apanya yang berlebihan?"

__ADS_1


"Ini tempat makan 'kan? Tapi kenapa kelihatan mewah sekali," tanyanya polos.


"Hmm, ini namanya adalah restaurant elit. Memang kenapa?."


"Ooh, heeehe. Baru tahu."


"Tidak enak saja, masak makan ditempat mahal kayak gini."


"Tidak apa-apa, anggap saja ini hadiah."


"Hadiah apa?" tanya kebingungan.


"Ada 'lah."


Liona tidak bertanya lagi.



Plok ... plok, tangan langsung bertepuk untuk memanggil para pelayan agar segera melayani kami. Lagi-lagi Liona hanya terperangah menyaksikan para pelayan mulai keluar satu-satu, dengan mendorong meja yang diatasnya berisi beberapa makanan.


"Silahkan pilih, mana yang kamu akan makan," suruhku ketika penutup makanan terbuka satu-satu.



Nampak Liona mulai kebingungan memilih. Semua menu kelihatan lezat dengan berbagai menu mewah ditata apik dan mengugah selera.


"Aku bingung banget ini, karena tidak pernah memakan makanan kayak gini. Kamu saja yang pilih mana baiknya. Yang penting bisa dimakan dan tidak bikin sakit perut," balasnya yang masih memperhatikan menu dimeja dengan seksama.


"Ciiih, mana ada makanan kayak gini sakit perut. Harganya saja cukup fantastis dan pastinya akan terjamin semua kesehatannya."


"Iya ... iya, aku paham. Tapi 'kan aku tidak pernah makan seperti ini, takutnya tidak cocok diperut, maka dari itu was-was saja kalau nanti bisa sakit perut, bukan tidak percaya atas kualitasnya," terang Liona.


"Ooh, begitu."


"Kamu coba dulu pasti suka. Kalau tidak cocok sama lidah, 'kan bisa tidak usah dimakan."


"Hmm. Ok 'lah," Mulut Liona sudah bergerak-gerak seperti tak sabar ingin segera mencicipi saja.


Tangan sudah memberi aba-aba, agar tiga pelayan segera menaruh semua menu dimeja pipih memanjang didepan kami. Satu-persatu mulai terhidang, namun Liona masih melototi saja tanpa menyentuhnya sama sekali.


"Ada apa lagi?" tanya balik keheranan.


"Gimana cara memakannya ini?" tanyanya menunjuk kearah steak.


Hufff, nafas panjang segera kitarik. Benar-benar harus esktra sabar menghadapi istri yang katrok tidak mengerti sama sekali.


"Sebentar." Tangan sudah mengambil piring yang diatasnya ada daging, yang masih utuh berbentuk persegi itu.


Dengan lihai pisau kecil ditangan kiri mencoba mengiris menjadi kecil-kecil. Sementara tangan kanan memegang garpu agar menahan daging itu tidak bergerak, serta mudah untuk segera memotongnya.

__ADS_1


Netra Liona dibuat terheran, mungkin baru pertama kali menyaksikan ini. Lucu juga ekspresinya itu, namun senyuman sebisa mungkin kusembunyikan dan tahan agar dia tidak tersingung.


"Ini ambil 'lah," Piring sudah kusodorkan, berisikan potongan steak kecil-kecil.


"Cobalah. Pasti kamu akan suka," suruh.


"Baiklah." Dengan hati-hati tangan Liona mulai mencicipi untuk segera masuk mulut.


Kini gantian wajahku bergantian dibuat penasaran dan mengkerut, takut-takut jika Liona tidak menyukainya.


"Gimana?" tanyaku.


"Emm, euenak banget ini!" Mulutnya begitu penuh makanan sedang lahap mengunyah mungkin akibat tarasa enak, hingga dengan cepat terus saja menjejalkan daging itu kedalam mulut.


"Hm, baguslah kalau kamu suka."


Senyuman ramah terus saja terlontar dari bibir. Rasanya cukup bahagia juga saat melihat wanita yang baru beberapa hari menjadi istri, kini nampak berseri-seri ketika diajak makan ketempat romantis. Alunan musik tidak henti-hentinya mengalunkan suaranya, dengan syahdu dan penuh penghayatan keromantisan.


Semua makanan dicicipi Liona dengan lahapnya. Tanpa henti gigi putih bersih itu terus saja mengunyah makanan, yang kemungkinam yang baru pertama kali dia rasa itu.


"Alhamdulillah!" cakap Liona sudah mengelus perutnya keatas bawah.


"Gimana? Apa kamu menyukainya atau sekarang tidak nyaman diperut saat kamu memakannya tadi?" tanya penasaran sebab Liona terus saja meraba daerah area perut.


"Oh, bukan ... bukan itu. Memang rasanya sekarang tidak nyaman diperut, tapi bukan tidak enak makanannya, tapi mungkin karena terlalu lezat sampai rasanya begitu kenyang banget nih. Bengas banget ini diperut," terangnya.


"Ciiih, rakus berarti. Lihat! Semua piring hampir habis isinya." Tunjuk jari ke arah piring yang masih ada sedikit sisa makanan.


"Heehehe, habisnya enak banget."


"Iya, enak. Tapi ya jangan rakus begitu juga."


"Enggak pa-pa 'lah, sekali-kali kan merasakannya kayak gini."


"Hmm. Kalau kamu suka, entar kalau ada waktu kita bisa makan disini lagi."


"Hah? Benarkah itu?"


"Hmm."


"Wuiih, sekarang Arjuna yang sombong ternyata bisa juga romantis dan tidak pelit," hinanya.


"Eghem ... hemm." Deheman akibat tak nyaman atas hinaannya.


"Bukan gitu. Aku ingin membahagiakan istriku juga, kan siapa tahu barokah untukku."


Tatapan Liona begitu tajam kearahku dengan penuh selidik, tapi aku cuek pura-pura tidak menyadari itu.


Setelah sedikit santai habis mencicipi makanan dan mendengarkan nada musik, kami akhirnya pulang ke rumah untuk segera mengistirahatkan badan yang mulai terasa pegal disekujur tubuh. Pekerjaan yang bertumpuk dan menjemput Liona rasanya cukup menguras tenaga, sehingga badan agak sedikit ngilu semua.

__ADS_1


__ADS_2