Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Mengikutinya


__ADS_3

Tidak akan pernah bosan untuk mengunjungi pujaan hati. Apapun yang kulakukan harus tercapai. Walau kadang ada penolakan dari Arjuna untukku mengunjugi, tetap kebal merasakan baik-baik saja, yang terpenting senang saja melihat dia sehat wal afiat.


Dengan langkah berjingkat-jingkat, aku berusaha sebahagia mungkin. Tiba-tiba kaki mengerem mendadak, saat melihat Cakra yang sedang nampak sibuk berjalan ke arahku.


"Eiit ... iit, kawan. Berhenti dong. Masak tidak lihat teman cantik kamu ini sedang lewat, sih?" Keluh tidak suka.


"Hhehe, maaf. Aku lagi sibuk banget, nih."


"Hidih, iya tahu sibuk. Memang kamu itu orang yang super sibuk, sampai teman sendiri saja selalu diabaikan."


"Maaf-maaf 'lah, ya. Biasa 'lah, mau kumpulin harta buat modal kawin."



"Ciih, dasar. Mau nikah saja dipikirin. Santai saja 'lah, yang lebih penting tuh seharusnya kamu bantuin aku agar lebih dekat lagi sama ayang Juna."


"Astagfirullah, Sonia. Kamu masih saja banyak berharap pada bos. Apakah kamu itu belum sadar kalau dia itu sudah menikah."


"Sadar sih, tapi 'kan pernikahan mereka ada yang janggal. Masak mendadak dan kayak tidak akrab begitu. Aku jadinya curiga juga, tahu."


"Siapa bilang mereka tidak dekat. Buktinya saja mereka sudah rencana mau bulan madu. Upsss!" Mulut Cakra langsung ditutupi oleh tangannya sendiri.


"Hah, apa ... apa yang kamu bilang tadi? Ucapkan sekali lagi sebab aku tidak dengar" Liona bertanya penasaran.


"Ehh, ngak ada kok. Aku tadi hanya salah berucap." Cakra nampak kikuk dan berusaha ingin menghindar.


"Haiiis, mau kemana juga kamu? Aku belum selesai 'lah bicara sama kamu!" Cegah agar Cakra tidak bisa melarikan diri.


"Duh, maaf banget ya. Aku beneran sibuk banget ini."


"Tidak bisa. Kamu belum menjelaskan ucapan barusan."


"Serius. Aku harus cepat-cepat pergi, sebab bos sedang nunggu, nih. Bisa brabe kalau aku tidak bisa datang ke sana secepatnya."

__ADS_1


"Haisss, tidak bisa pergi begitu saja sebelum kamu menjelaskan semuanya."


Kamipun jadi tarik menarik. Lengan tangan Cakra berusaha kutahan agar dia tidak bisa pergi begitu saja, namun sekuat tenaga dia berusaha meronta juga ingin pergi.


Plok, sebuah amplop panjang jatuh yang terkeluar dari map yang dibawa Cakra. Secepat kilat langsung kuambil, sebelum tangan gesit Cakra mengambilnya duluan.


Cepat-cepat kubuka dan berusaha menepi dari posisi Cakra berdiri. Kubuka, dan betapa mengejutkannya bahwa ada sebuah pemesanan tiket perjalanan ke bali.


"Sini! Jangan main ambil saja milik orang," Cakra berhasil merebutnya saat aku terlalu fokus membaca.


"Apakah benar kalau Arjuna mau liburan ke bali?" Masih belum percaya.



"Mau kepo saja."


"Ya iyalah. Apapun yang menyangkut Arjuna itu jadi urusanku juga."


"Ngak gitu juga, Sonia. Bos sudah menikah dan itu hak pribadi urusan mereka, jadi kamu jangan jadi ulat bulu yang ingin menganggu."


"Sama saja itu berarti mau ganggu."


"Tidak sama, paham."


"Hidih."


"Lupakan 'lah, masalah ganggu menganggu. Yang penting sekarang katakan, apa benar mereka mau bulan madu? Dari tiket Arjuna akan melakukan perjalanan ke Bali? Berarti benar kalau mereka akan pergi berdua," Masih penasaran sebab belum menerima jawaban yang pasti.


"Kalau iya, kenapa? Kalau tidak ya, kenapa? Jangan usil lagi 'lah. Sekarang cukup urus saja urusan kamu sendiri biar tidak selalu merasa kecewa maupun disakiti, paham!" Cakra kelihatan kesal, sehingga aku ditinggalkan begitu saja yang masih mengambang akan jawaban.


Akupun jadi dongkol sekali atas sikap Cakra itu. Ingin rasanya tangan mengampar, tapi tidak cukup juga kebaranian ini pada teman sendiri. Banyak sekali dikepala ngantrinya pertanyaan.


"Aku cukup tidak senang sekali apa yang akan kamu lakukan sekarang bersama Liona. Awas saja kalau kamu beneran akan pergk dengan dia. Sampai kapanpun aku tidak akan rela jika kamu dimiliki oleh wanita kampungan itu," Guman hati kesal sekali.

__ADS_1


"Tunggu saja tanggal mainnya, Juna. Kamu pasti akan bertekuk lutut sama diriku suatu saat nanti. Awas aja!" Kekesalan yang tidak tahan ingin berbuat jahat.


Jalan yang tadinya berjingkat gembira kini berubah terhentak dilantai dengan kuat, akibat emosi begitu meluap-luap saat membayangkan jika mereka berdua nyata akan melakukan bulan madu.


>>>>>


Penyelidikan telah terjalankan. Buktinya bahwa mereka akan pergi adalah nyata. Akupun tidak ingin diam begitu saja melihat Arjuna bisa senang-senang dengan cewek kuper itu.


Secara mendadak akupun juga memesan tiket ke Bali. Tidak ingin ketinggalan, maka tanpa persiapan barang-barang dan baju kumasukkan begitu saja, asal bisa gerak cepat menyusul mereka.


Kaca mata, topi dan masker tidak lupa andil dalam mengikuti. Semua terpakai agar mereka tidak melihat dan merasa curiga kalau sudah berniat jahat mengikuti mereka.


Posisi duduk cukup aman dibelakang. Namun karena kepo, akupun pura-pura berjalan mengikuti pramugari yang sedang menawarkan makanan dan minuman untuk para menumpang, dengan cara berpura-puta ingin membeli sesuatu.


Cukup tersambar bagai kilat menyala-nyala ingin menyakiti hati. Kesal dan sedih mulai bersemayan, ketika melihat mereka sama-sama tertidur namun mesra sedang berpegangan tangan.


Roti yang tadi pura-pura kubeli, sudah kupaksa masuk ke dalam mulut, akibat emosi cukup meluap-luap namun tidak bisa tersalurkan.


Beberapa jam perjalanan, mata enggan juga untuk terpejam, mungkin ada rasa was-was dan takut kehilangan jejak, maka netra kupaksa bekerja untuk terus mengawasi gerak gerik dua sejoli yang kubenci.


Sampai dihotelpun dibuat panas saat melihat adegan memuakkan gendong mengendong. Ingin rasanya kutarik tubuh wanita kampung itu agar bisa jatuh terluka.


Dengan uang segepok akhirnya bisa juga membujuk recepcionist, untuk menyewa hotel kamar yang tepat sekali didepan mereka.


Karena tidak tenang maka aku mencoba mengintip dari lubang kunci, melihat ada tidak pergerakan mereka yang mencurigakan. Pucuk dicinta ulampun tiba, Arjuna nampak sedang gelisah dan buru-buru meninggalkan kamar hotel tanpa Liona menemani. Tidak ingin ketinggalan berusaha mengikuti dengan cara bersembunyi-bunyi dibalik tembok.


"Untuk apa Arjuna ke apotik?" guman hati dibuat bertanya lagi.


Tidak cukup lama dia membeli. Taxi yang aku tumpangi ikut juga dalam misi mengikuti. Sebab penasaran, akupun kepo ingin mewancarai petugas toko obat.



"Apa Liona hamil, sampai Arjuna bela-belain capek baru datang dari perjalan jauh sedang membeli obat mual? Tapi, bukankah mereka baru akan bulan madu? Ahh, ini pasti semua tidak mungkin dan mustahil. Semoga saja dugaanku salah kalau Liona sedang hamil," guman hati bertanya-tanya.

__ADS_1


Ternyata Arjuna balik lagi ke hotel.


__ADS_2