Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Hari Yang Tak Baik


__ADS_3

"Ciih, apa aku salah meminta hak, sementara dia sudah sah jadi milikku," Hati ngedumel tidak suka atas sikap Liona.


"Aaaaaa, jedoook!" teriakku kesakitan, saat tiba-tiba kesandung oleh kaki sendiri, yang tidak sengaja berjalan telalu menyilang.


Lebih parahnya, karena tak seimbang jadi jatuh menabrak tembok besi lift, dengan kening kepentok. Tangan berusaha mengelus-ngelusnya agar rasa nyeri cepat mereda.


Cakra nampak hanya tersenyum-senyum. Sepertinya dia sedang bahagia mengejek.



"Kalau ada mata, jalannya hati-hati," keluh Cakra.


"Bawel. Pasti aku ada mata 'lah."


"Kenapa, wajahmu tersenyum berseri-seri begitu? Jangan bilang kamu bahagia jika bosmu ini terluka," tuduhan tidak senang.


"Masak sih! Perasaan tidak ada. Nampak sekali 'kah? Tapi kalau memang ada, itu tandanya aku besyukur karena karma sekarang nyata," Cakra sudah mengejek dengan kedua tangan menengadah ke atas.


"Ciih, sekertaris lucknut." Tangan masih sibuk mengelus kening.


"Mungkin memang kenyataan, sebab itu karma bos tidak pamit sama istri. Mungkin Liona berdoa tidak baik, saat kamu tidak baik juga ketika pergi tadi."


"Hah ... haah ... hahh, ngadi-ngadi kalau bicara. Bela dia teruuuus."


"Kan memang kenyataan."


"Sebenarnya kamu itu siapa yang bayar, dan bawahan siapa, hah ... hah!" ketusku.


"Bos!" Telunjuk Cakra sudah ke arahku.


"Tahu 'pun."


Pletakkk ...


"Kalau bekerja padaku, ya harus nurut dan membela bos sendiri bukan orang lain," Kepalanya sudah kujitak.



"Issssh, main jitak saja." Cakra tak senang sambil mengelus ubun-ubunnya.


"Biarin, hukuman kamu."


"Bukan membela istri kamu, tapi ritual yang selama ini selalu terjaga turun temurun, kalau bisa dilakukan agar hubungan rumah tangga tetap harmonis."


"Ooh! Emm, emang benar juga sih. Tapi ngeselin banget sikap Liona itu."

__ADS_1


"Jangan lama-lama mengacuhkan istri, entar kalau sudah bebabalik marah susah juga lho membujuknya."


"Iya ... iya, pak guru. Paham dan cukup mengerti," Senyuman pura-pura terlempar, dengan tangan mengudara ingin rasanya menjitak lagi.


"He ... hheee, damai, Bos. Peace."


Kling, lift terbuka. Percakapan yang tidak begitu lama, tidak terasa sudah membawa kami ke lantai dasar apartement.


"Sini kuncinya!" pintaku.


"Untuk apaan?" Cakra banyak tanya.


"Untuk kumakan."


"Wah, tidak doyan nasi lagi 'kah."


"Haissss, lola banget hari ini kamu."


"Hihihi, masak sih."


"Emboh. Lempar sini kuncinya, biar aku saja yang nyetir."


"Tumben."


"Hiiiih, tinggal lempar saja kamu ini banyak tanya benar hari ini."


"Ya, sekarang mau dibiasakan."


"Nih. Ambil!" Cakra melempar tepat ditanganku untuk menerima.


"Baguslah, sekarang leyeh-leyeh bisa gantian jadi Bos, ngak susah-susah buang tenaga untuk nyetir."


"Dasar. Mulut bawel melebihi cewek."


Kami berduapun segera masuk mobil. Sebenarnya tidak ada hal penting tentang perusahaan, cuma alasan saja biar tidak ketemu terus sama Liona dirumah. Padahal cuma klien biasa, dan Cakra bisa mewakili serta mengatasinya untuk ketemuan.


Perasaan masih terselimuti kedongkolan, dengan kecepetan penuh mobil kulajukan. Cakra nampak mringis ketahuan sekali kalau agak sedikit takut, tapi tidak berani mengoceh lagi sebab mata sering mendelik ingin marah ke arahnya. Jikapun dia berani menjawab mungkin akan kusemprot. Cakra sampai duduk tidak tenang dengan penuh ketegangan.


Sekian menit ngebut, akhinya hampir sampai juga ditempat yang dituju, yaitu sebuah kafe yang bisa ditempah pribadi.


Sheettt, braaak. Badan sampai terpental ke depan, ketika badan mobil depan tak sengaja menabrak tembok.


"Astaga, Bos. Bisa nyetir ngak sih, atau lagi ngatuk tuh mata," keluh Cakra.


"Hehehe, kaki tak sengaja kaku mau ngerem tadi."

__ADS_1


"Ngak sengaja sih, ngak sengaja tapi jangan pula hampir buat celaka. Pikiran pasti lagi melayang-layang nih, sehingga tidak fokus nyetirnya."


"Terus? Apa kamu mau protes lagi? Ini mobilku, sesuka hati mau kutabrakkan ke gunung sekalipun," ketusku.


"Emm, benar. Ya sudahlah, mau diapain lagi. Untung cuma nabrak dikit."


"Bagus. Tidak usah banyak bawel lagi. Kalau terdengar ngeluh lagi gaji kupotong 5 kali lipat, paham!" ancamku.


"Gaji seuprit mau dipotong juga. Kejamnya."


"Biarin 'lah, hukuman buat kamu sebab banyak protesnya."


"Iya ... iya, minta maaf."


"Bagus. Anak buah yang nurut dan patut diandalkan.


"Banyak karma yang didapat, makanya hari ini ketiban sial melulu." Cakra terdengar ngedumel tidak suka. Walau berbicara pelan seperti berbisik, tapi masih terdengar ditelingaku.


"Kamu bilang apa?"


"Hehehe, enggak kok, Bos."



Plak ... plak, tangan Cakra sudah menepak nyamuk.


"Aku dengar lho tadi."


"Beneran aku tadi tidak bicara apapun. Suer terkewer-kewer. Ini nih, nyamuk banyak ulahnya menyedot darah manusia, awas saja dapat karma kena tabok tangan manusia. Hehehhe!" Cakra sudah mengalihkan pembicaraan sambil cegegesan.


"Ciiih, aku belum tuli lagi."


"Iya ... iya, aku salah lagi."


"Sudah. Cepetan turun sana. Bawa ke bengkel kalau mobilnya rusak parah. Aku mau ketemu klien saja."


"Ok, siap, Bos."


Dasar sekerteris yang mulutnya terus berkicau, kalau sudah ada topik pembicaraan.


Kerusakan hanya sedikit, penyok bagian ujung depan mobil. Cakra kusuruh memeriksa ke bengkel, sedangkan diriku sibuk untuk menemui orang yang akan mengajak kerjasama dengan perusahaan.


"Hhhhhh, apa yang dikatakan Cakra hari ini apakah benar, kalau kesialan yang terjadi karena Liona tidak ridho aku berangkat, sebab tidak ada pamit sama dia tadi? Mungkin ini sebagai pembelajaran kalau aku harus baik untuk pamit, agar sampai perjalanan bisa selamat."


"Walau hanya dengan mencium tangan, semoga aku bisa membenahi sikapku yang keterlaluan tadi."

__ADS_1


Klien sedang berbicara panjang lebar, namun aku hanya sibuk dengan pikiran melayang-layang tentang kelakuan yang tak baik sama istri hari ini.


__ADS_2