
Kesedihan terus mendera diriku. Kerjaan yang menumpuk dimeja terbiar begitu saja. Tangan tidak ingin menyentuh kertas sama sekali. Pikiran yang serba kusut membuat malas mau mengerjakan apapun itu.
Kutatap kendaraan yang sedang ramai berlalu lalang. Diterik panas begini masih banyak yang melakukan aktifitas laju mereka. Sangat menyengat sekali panas matahari, namun tidak bagiku yang tengah gundah gulana berdiri dipinggiran kaca.
Kabarnya sekarang tidak kuketahui, namun diam-diam tetap dalam pengawasan. Walau tidak tahu apakah dia masih tersenyum apa tidak, tetap saja khawatir maka dari itu menyewa orang. Pasti dia dalam kesedihan akut. Tidak tega melihatnya, maka dari itu terpaksa orang lain yang terus mengawasi.
"Sedang apa kau sekarang, Liona? Apakah kamu masih bisa menampakkan senyuman seperti kemarin? Dadaku terasa sesak jika aku tidak bisa mengembalikan itu semua. Rasa bersalahku sangat kuat."
"Saat kita berjauhan begini, banyak rasa kekhawatiran yang tidak bisa kusampaikan dengan mudah. Apakah kau akan memaafkan diriku yang sudah melukaimu? Kejadian itu begitu membuat kita semakin jauh. Aku sangat merindukanmu, Liona!" Hati terus saja merancau.
Kesepian ini membuat rasa rindu semakin mengebu. Tidak tahu caranya lagi agar bisa bersamanya. Hanya luapan kecewa, sedih, dan harapan banyak yang tertera. Masalah ini begitu menyiksa bathin dan pikiran, sehingga bisa merusak raga dikarenakan tidak ada satupun nasi yang masuk dalam perut.
Gawai yang terpegang tangan berkali-kali ingin mendeal nomornya, tapi takut jika menganggu dan malah bikin dia semakin membenciku. Tidak ingin menambah beban Liona. Cukup masalah kemarin membuat dia terpuruk dan sangat membenci diri ini.
Tok ... tok, pintu diketuk seseorang dari luar.
"Maaf, Bos. Ada seseorang yang ingin bertemu."
Wakil sekertaris memberitahu. Tangannya selalu membawa sebuah map yang berisikan beberapa berkas. Pekerja yang rajin dan telaten.
"Suruh masuk saja," jawab lemah.
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu," Dengan segera pintu ditutupnya.
__ADS_1
Masih sibuk menatap awan cerah yang menyinari pengguna jalanan.
Ceklek, suara pintu dibuka. Wajah langsung melihat kearah siapa gerangan tamu yang datang.
"Kamu?" Kekagetan saat Kenzo yang ternyata sedang syebuk berkunjung.
"Hai, Adek kesayangan. Gimana kabar kamu?" Terdengar memuakkan.
Tidak menghiraukan kedatangannya, masih sibuk menatap jalanan yang berada dibawah gedung.
"Tidak usah basa-basi. Cepat katakan apa maksud kedatanganmu kesini?" Tidak ingin berbasa-basi lama.
"Wah, kamu itu jadi orang yang sabaran dulu, kenapa! Emm, apa jangan-jangan aku sedang menganggu mood kamu yang lagi tidak baik itu."
Sikap yang awalnya bersantai menyandar di jendela kaca, kini merubah posisi berdiri tegak dan segera menghampiri Kakak tiri, yang selamanya tidak pernah akan kuanggap saudara.
"Hilih, jangan banyak drama menyembunyikan masalah yang kamu hadapi sekarang."
Dengan santai Kenzo duduk diatas meja kerjaku.
"Tidak usah banyak kepo atas urusan orang. Sekarang katakan apa maksud kedatanganmu ke sini? Kalau sudah mendengarkan ocehanmu silahkan pergi dari sini, sebab panas mendengar suaramu yang menyebalkan itu?" Langsung to the point atas ketidaksukaan.
__ADS_1
"Wuiih, mulai emosi 'kah? Kayaknya aku datang pada waktu yang tidak tepat, nih."
"Tahu kalau tidak tepat datang kesini. Sekarang keluarlah dari sini. Kedatanganmu tidak diharapkan. Aku malas layan kamu, jadi langkahkan kakimu keluar, sebab aku mau kerja dan banyak kesibukkan hari ini," Menyuruh tidak sopan.
Tangan terbentang agar dia menuju pintu yang kutunjuk.
"Hahahaha, sekarang jangan mimpi bisa mengusirku. Justru kedatanganku ke sini mau memberitahu kamu bahwa sebentar lagi kamu 'lah yang harus keluar.
"Apa maksudmu? Jangan ngadi-ngadi kalau berbicara."
"Mana ada aku ngadi bicara. Semua akan jadi kenyataan jika kamu akan turun jabatan," Dengan santai Kenzo berani membisikkan sesuatu ditelinga.
Mata mendelik tidak percaya, apa yang barusan dia lontarkan.
"Aku sungguh tidak mengerti. Berbicaralah yang jelas, apa maksud omongan kamu barusan?"
"Duh, kasihan banget pintar-pintar tapi lola."
Dengan Emosi ingin segera menabok mukanya yang sok sombong itu. Dari dulu ingin melampiaskan kekesalan dengan menojok mukanya yang memuakkan itu, tapi selalu saja tidak ada alasan tepat memberi pelajaran pada Kenzo.
"Hentikan!" Teriak seseorang yang tiba-tiba masuk ruanganku.
Mata mendelik lebih kaget lagi saat Papa kandung masuk, dengan Cakra mendorong kursi roda itu. Lebih heran jadi petanda pertanyaan besar, yaitu beberapa dewan dereksi pemegang saham perusahaan ikut dalam rombongan yang entah tidak kumengerti maksudnya ini.
__ADS_1
Cakra menyiratkan sebuah wajah kesedihan. Semoga tebakan dan firasat meleset. Jangan sampai kesedihan akan bertambah besar menjadi sebuah malapetaka baru bagiku. Sungguh ini akan jadi hal besar diluar dugaan.