Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Sedang Berpikir Karas


__ADS_3

Kerjaan yang menumpuk diperusahaan, terasa membosankan sekali. Ingin rasanya kulempar semua kertas-kertas yang ada dihadapanku sekarang.


"Aah, ada apa denganku? Kenapa otak tidak bisa diajak kerjasama hari ini," keluhku.


Pekerjaan kuhentikan sejenak. Bersandar santai dikursi kebesaran telah kulakukan. Pena terus saja kumainkan didalam mulut, untuk terus mengigit ujungnya.



Tok ... tok, pintu yang terbuka diketuk seseorang dan nampak Cakra berjalan ingin mendekatiku.


"Ada yang perlu ditandatangani hari ini, mengenai kerjasama dengan perusahaan BINTANG BUANA," terang sekertaris sambil menyodorkan map berisikan berkas yang dia maksud.


"Hmm, taruh saja disitu," jawaban lemah.


"Tapi aku perlu tanda tangan kamu sekarang, sebab nanti akan disetor segera sama mereka," suruhnya.


"Heeeeh. Aku bilang taruh disitu, sayang!" jawaban selembut-lembutnya agar Cakra mau memahami.



"Hahahahah, benar-benar 'dah. Aku sekarang sedang tidak bermimpi 'kan?" gelak tawanya mengejek.


"Hidih, dasar."


"Lah, tadi bilang sayang berarti aku beneran tidak mimpi dan salah dengar."


"Ciih, sudah tidak usah banyak ngoceh. Otak lagi kusut beneran 'nih," keluh memberitahu.


"Pengantin baru kok kusut? Emang kurang enyak-enyak servisan!" ejek Cakra.


"Aiiiiish, otak mesum mulai kambuh. Kamu tuh cepetan nikah sono, biar tahu duluan rasanya," keluh tidak suka sambil menimpuk Cakra memakai kertas yang sudah teremas.


"Hihihi, belum waktunya. Biar bos saja yang kupersilahkan duluan, kalau tahu rasanya enak 'kan bisa beritahu dan ajarkan aku gimana baiknya nanti," cakap Cakra yang kian ngawur.


"Mulut kamu ini benar-benar mau ditimpuk pakai sepatu, 'kah?" ancamku saat ingin melepas sepatu.


"Hahahah, wleeeek. Gitu saja kok marah, sekali-kali sebagai orang dewasa bicara menjurus kesitu boleh 'lah," bantahan lagi perkataan Cakra.


__ADS_1


"Haiiits, selalu ngawur saja kalau berucap. Sudah tutup mulut kamu yang bawel kayak burung berkicau itu. Pikiran benar-benar lagi kayak benang kusut, nih!" ucapku memberitahu.


"Iya ... iya, Bos. Tadi bercanda saja, sebab yang kusut siapa tahu bisa hilang akibat dibawa happy."


"Hmm." Malas lagi untuk menjawab si mulut bawel.


"Memang ada apa, sih? Tumben-tumbennya bosku yang selalu bisa menyelesaikan masalah, tiba-tiba harus pusing tujuh keliling," tanya Cakra.


"Biasalah masalah Kenzo."


"Hah, ngapain lagi tuh orang?."


"Kayaknya aku punya firasat dan mencium bau tak enak karena dia bakalan berulah."


"Berulah gimana maksudnya?" jawab Cakra masih tidak mengerti juga.


"Hadeh, telmi amat sih."


"Habisnya Bos menjelaskannya setengah-setengah, ya mana aku paham."


"Hilih."


"Serius, Bos."


"Masak, sih? Kok aneh gitu, ya!" Cakra sedang berpikir sambil telunjuk ditaruh didagu.


"Astaga, Cakra. Benar-benar mau ditimpuk ini orang, biar ngak telmi-telmi amat. Emang dari tadi aku bilang aneh, dasar kamu saja tidak kedengaran," geramku ingin kuremas-remas wajah polos Cakra itu.


Cakra sudah duduk santai diujung meja, dengan posisi menghadap pas ke ke arahku.


"Hehehe, iya maaf Bos. Aku dengar hanya ingin mengulang katamu saja. Tapi, beneran buat apa Kenzo datang kesana, sementara dia itu anti yang berbau deso kayak gitu? 'Kan aku mikirnya juga aneh?" jawab Cakra.


"Nah ... nah, 'kan aneh. Yang jelas ada maksud tertentu yang dia inginkan."


"Emm, apa patutnya kita menyuruh orang untuk selidiki saja."


"Kalau itu belum terpikirkan olehku. Dan anehnya lagi Kenzo sempat tanya-tanya Liona, mengenai pernikahan kami yang secara mendadak. Sementara tahu sediri 'kan, selama ini aku tidak pernah punya pasangan," cakap panjang lebar.


"Hmm, makin mencurigakan saja tingkahnya itu. Yang jelas dia ada maksud tertentu, sehingga tiba-tiba ada dikampung Liona."

__ADS_1


"Makanya itu pikiran sedang kusut mengenai hal itu. Kamu tahu sendiri aku tidak bisa terang-terangan menyelidiki dia."


"Berarti harus extra rapi, untuk mencari tahu apa maksud dan tujuan Kenzo itu."


"Hmm, benar sekali."


"Bentar-bentar, aku lagi mikir, nih! Gimana caranya Bos bisa selidiki dia dengan mudah, tanpa mengetahui siapa Bos itu sebenarnya," Cakra mulai mengetuk-ngetuk jarinya dipinggiran pelipis saat berpikir keras.


Sekian detik berjalan, tapi dari mulut Cakra tak kunjung jua keluar memberikan ide yang sedang dia pikirkan. Akupun tak luput juga berpikir keras, mencari cara sambil membalik kursi kebesaran untuk melihat pemandangan jalanan dari lantai atas.


"Ahaaaaaaa!" teriak Cakra tiba-tiba.


"Astagfirullah. Tidak bisa apa, bicara pelan-pelan saja? Mengagetkan jantung saja kamu ini."


"Hi .... hi, habis dapat ide cemerlang, Bos."


"Iya, tapi tidak usah pakai teriak segala."


"Hehehe, maaf."


"Emang ide apaan, sih. Kamu kayak antusias banget."


"Itu, Bos. Kamu itu bisa lho jadi si Jono lagi, 'kan walau orang sama tapi wajah nampak berbeda."


"Wah, ide bagus juga. Hahahah, good juga otakmu."


"Heleh, tadi saja mau nimpuk. Sekarang malah kegirangan lupa akan emosi tadi."


"Hihihi, maaf 'lah. Tahu sendiri sebab pikiran lagi buntu."


"Hmm, dimaafkan. Tapi .... tapi--?" Suaranya tertahan.


"Tapi apa?" Tidak sabar saat Cakra bertele-tele.


"Heheehe, tapi gaji bisa naik 'kan ... 'kan?."


"Haiiis, minta ditimpuk beneran kamu kali ini.


"Hahahaha, jangan sadis-sadis, Bos. Kalau sayangmu ini terluka, ide untuk membantu kamu tidak akan ada lagi," Cakra sudah menghindar dengan cara berlari, dan kini ditengah daun pintu untuk mengejekku.

__ADS_1


Phaaak, tanpa ragu lagi sepatu mahal telah terlempar kearahnya. Namun sialnya tak kena sedikitpun ditubuhnya, akibat dia dengan sigap bisa menghindar.


Walau sekertaris sering kali menyebalkan, tapi dia selalu bisa diandalkan dalam pekerjaan maupun urusan pribadiku. Sangat berterima kasih padanya, walau kadang pemberian sudah dilebihkan, namun bukan namanya Cakra kalau selalu kurang.


__ADS_2