Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Muak melihat keluarga sendiri


__ADS_3

Paling malas sekali jika disuruh kerumah. Walau dalam keluarga nampak tenang, namun bagiku sangatlah memuakkan dengan segudang intrik drama. Selama ini aku hidup sendirian di Apartemen. Kini kalau bukan berkas yang penting ketinggalan dirumah, mungkin aku tak kembali lagi mengambilnya.


"Kenapa Bos tak datang sendiri atau menyuruhku saja mengambilnya," keluh Cakra.


"Nanti kamu akan tahu gimana keluargaku yang ssbenarnya, hingga Bosmu ini bisa kabur tidur diapartemen," jawabku duduk manis dalam mobil.


"Hmm, baiklah."


"Oh ya, lagian kalau kamu kubawa ikut serta, bisa membantu mematahkan ucapan-ucapan mereka, sebab kamu itu 'kan orang paling cerewet," hinaku.


"Cerewet-cerewet begini Bos suka dan tak mau kutinggalkan, atas rasa sayangmu padaku," ucapnya mencoba mengajak bercanda, dengan tangan masih sibuk menyetir mobil.


"Ciih, siapa juga mau sama kamu. Aku masih waras dan belum gila, tahu. Jangan meracuni otakku untuk mencintaimu. Iiih, amit-amit! Kayak tak ada wanita saja didunia ini," keluhku jijik.


"Ha ... ha ... ha, 'kan barang kali siapa tahu mau, sebab Bos ini pria tertampan dan selalu digandrungi para cewek-cewek, jadi aku ikutan antri dong!" cakap Cakra semakin membuatku bergindik ngeri, saat melihat kedipan mata satunya kearahku.



"Ueeek ... ueeek, dasar pria kurang kerjaan, hingga mengejar cinta kepada pria. Kamu masih waras 'kan? Kata-kata kamu itu tidak sungguhan 'kan?" tanyaku mulai takut atas ucapan Cakra yang nampak serius.


"Dua kali serius!" jawabnya santai.


Plaaak, dengan kuat jari kujentikkan ke kening Cakra.


"Awww, sakit Bos!" keluhnya yang mulai mengelus perlahan kening.


"Rasain, itu akibatnya kalau mau membuat ulah pada Bos sendiri. Awas saja kalau kamu diam-diam mengincarku, kalau ketahuan langsung tebas dan pecat secara tak hormat, paham!" tekanku memberi peringatan.


"Hihihihi, sadis amat ini Bosku. Aku tadi cuma bercanda dan mau ngetes saja, ternyata sifatmu tak berubah juga. Kalau begini terus mana ada yang mau mendekati kamu, Bos. Pasti ketika mau sayang-sayangnya mendekati, kamu gertak sedikit saja, langsung kabur tuh cewek," hina Cakra.


"Itu mungkin untukmu, kalau buat Arjuna cewek itu mudah didapat hanya dengan jentikkan jari," jawabku sombong.


"Yah ... yah, kamu yang paling hebat disegala bidang, termasuk menaklukkan hati cewek," jawab Cakra yang akhirnya mengalah omongan.


Tanpa terasa kami sudah sampai dirumah utama kediaman keluarga besar. Disini ada Papa, Mama, paman, bibi dengan beberapa anaknya, serta disebelah rumah kami ada ibu tiri beserta anaknya. Mereka semua sebenarnya memiliki sifat baik, namun ocehan mereka yang selalu berucap kasar selalu tak kusukai.



Tanpa mengetuk maupun memencet bel, langkahku bersama Cakra langsung nyelonong masuk saja ke dalam rumah. Terlihat mereka semua sedang berkumpul menikmati meja makan memanjang, dengan beberapa hidangan lauk yang mengugah selera.

__ADS_1


"Wah, anak kesayanganku ternyata datang!" sambut Mama yang langsung berdiri menghampiriku, kemudian langsung memeluk.


"Iya, Ma. Ada file-file yang penting milik Papa kemarin ketinggalan," jelasku.


"Ooh. Kamu ikut sarapan sama kami saja, Arjuna!" suruh Mama.


"Tidak usah, aku sudah makan diapartemen tadi dan sekarang mau buru-buru," tolakku halus.


"Biar saya saja yang makan, Tente. Karena tadi belum terisi sama sekali ini perut, saat akan berangkat kerja," sela-sela jawab Cakra.


"Ciieh, dasar. Ada makanan saja gercep amat," simbatku tak suka.


"Tidak apa-apa, Arjuna. Cakra adalah teman yang baik, hingga kami menganggapnya sudah sebagai keluarga," jawab Mama ramah.


"Nah tuh, Tante saja baik sama saya, kenapa Bos malah tak suka," keluh Cakra.


"Kalau makan-makan saja, jangan ngegas cerewet. Ya sudah, kamu makan sana! Aku mau ambil file itu, jangan lama-lama makannya," jawabku berbalik ngeluh.


"Siip, Bos."


Kini langkah kaki sudah berjalan tergesa-gesa, untuk mengambil barang yang menjadi tujuan utama. Papa, paman dan bibi nampak hanya diam saja atas kedatanganku, hanya Mamalah dikeluarga ini yang ramah dan tak takut atas sifat-sifatku. Entah mengapa semua orang acuh tak acuh pada diriku, sebab sekali mereka mengeluarkan kata, maka aku akan seratus kali menjawab mematahkan omongan.


"Ya Salam, drama apa ini? Kenapa si pelakor dan anaknya itu harus ikut makan bersama? Apakah ini sudah menjadi hal biasa, saat aku tak berada dirumah lagi? Benar-benar bikin kesal saja atas pemandangan ini, awas saja kalian! Akan kuperbuat perhitungan pada mereka, jika secuil saja menyakiti Mama," guman hati yang dongkol melihat ke arah meja makan.



Kaki yang baru turun tangga, langsung melangkah lebar-lebar ingin segera keluar, saat rasa muak telah datang.


"Ayo, Cakra. Cepetan kita keluar dari rumah ini," panggilku mengeraskan suara.


"Iya, Bos. Sebentar!" jawab Cakra yang kelihatan masih sibuk menyendok makanan.


"Kenapa terburu-buru, Arjuna. Ayo duduk sebentar, gabung bersama kami," suruh Mama.


Karena kesal atas sikap Cakra yang tak bergerak sama sekali untuk menyudahi makan, kini dengan terpaksa menghampiri untuk siap menyeretnya.


"Lain kali saja, Ma. Ayo Cakra!" cakapku yang sudah menarik kerah baju lehernya.


"Eeeiit, iya Bos."

__ADS_1


"Hai Adek kesayangan. Gimana kabar kamu? Sudah lama kita tidak bertemu," ucap basa-basi kakak tiri bernama Kenzo.



Tak kupedulikn atas ucapannya, hanya tanganlah kini sibuk mengambil minuman jus dari gelas, karena rasa kesal melihat drama keluaga ini begitu membuatku merasa panas.


"Dasar tak tahu diri, sudah menyambut dengan baik-baik, eeh ... malah tak ramah saja ini orang," keluh Kenzo atas sifatku.


Praaank, tiba-tiba gelas yang awalnya kupegang ditangan, tanpa berpikir panjang lagi langsung kulepaskan begitu saja dilantai.


"Uuppss, ternyata gelas terlepas akibat mendengar ucapan seseorang yang memuakkan," singgungku berkata.


Dengan tanpa rasa bersalah, kini kaki ingin segera melangkah pergi lagi.


"Apakah ini yang selama ini kuajarkan padamu atas rasa sopan santun," ucap Papa akhirnya angkat bicara tak suka.


"Kalau iya, kenapa!" jawabku belagu.


"Kamu ini kenapa bicara kasar sama kakakku!" keluh paman yang kini ikut-ikutan tidak suka.


Aku langsung berbalik badan, kembali lagi kemeja makan. Praaang ... preenk, untuk yang kedua kalinya bahan kaca kubuang kulantai, namun kali ini adalah piring.


"Kenapa, apa kamu tak suka!" tantangku.


"Bukan gitu, Arjuna!" imbuh ucap Paman.


"Jangan banyak omong kau, pranngk!" Lagi-lagi mangkok yang berisi lauk kubuang kelantai.


"Sudah, Arjuna. Hentikan! Apa yang kamu lakukan," ucap Papa mulai kelihatan marah.


"Bela terus saja mereka, atau kamu akan kehilangan anakmu ini," ancamku.


"Jangan begitu Arjuna, kita semua adalah keluarga," jawab Papa.


"Apa ... apa? Keluarga? Jangan bicara mengenai kekuarga didepanku, sebab aku rasa itu semua sudah hancur, saat kau telah memasukkan orang-orang yang tak bermanfaat seperti mereka itu. Jangan sok jadi yang merasa benar, saat kau dulu sering membuatku dan Mama menangis," geramku berbicara dengan mengemerutukkan gigi.


"Sudah ... sudah, Arjuna. Kita keluar saja!" suruh Mama yang sudah menarik tanganku kuat.


Rasa amarah dihati begitu terasa panas, yang untung saja Mama menarikku cepat, hingga api kemarahan tak langsung meledak begitu saja. Mereka semua nampak terbungkam tak ada simbatan lagi, aaat semua ucapanku adalah benar. Mungkin entah takut atau tak berani menyalakan kobaran api kemarahan, hingga semua orang terdiam seribu bahasa apalagi Papa kandung sendiri.

__ADS_1


__ADS_2