
Pekerjaan yang telah kutinggalkan, telah membuatku harus fokus menyendiri didalam kamar, entah berapa lama aku terus saja mengurung diri, sebab pekerjaanku sekarang juga penting untuk kemajuan perusahaan.
Krucuk ... krucuk, suara perut berbunyi, ketika waktu yang tak tepat untuk makan, karena kerjaan yang menumpuk tidak kelar-kelar juga mengerjakan.
"Haaist, kenapa juga kau berbunyi perut, ketika aku sibuk begini. Heeh, mungkin aku sekarang harus mengisinya, sebab dari tadi pagi belum ada makanan yang terganjal dalam perutku sama sekali. Yang sabar ya perut, aku selesaikan dulu file yang sedang kukerjakan sekarang," cakapku pada diri sendiri.
Dert ... dert, gawai tiba-tiba berbunyi, tanda ada sebuah panggilan masuk.
[Heh, ada apa?]
Tanyaku pada sekertaris yang sedang mengajak video call, namun aku tak terlalu jelas memperhatikannya, sebab netra tengah sibuk melihat ke arah laptop.
[Widuh, mata kamu kenapa, bos? Kayak panda gitu, ha ... ha ... ha]
[Diam tidak tawamu itu, atau mau kutampol itu mulut]
[Hehehe, iya ... iya, bosku sayang. Galak amat sih jadi orang]
[Habisnya orang lelah akibat bekerja, kamu malah keenakan tertawa. Cepetan apa yang ingin kamu bicarakan? Aku tidak ada waktu melayani telephonemu yang sangat menganggu ini]
[Ya elah, benar-benar penyibuk bener sekarang, dah!]
[Ya, iyalah. Kamu sendiri tahu, kalau aku tak bisa bekerja dikantor sekarang, jadi harus merangkap kerjaan dihotel]
[Iya ... iya. Oh ya, besok bos harus usahakan untuk keluar dari hotel itu, karena ada rapat penting dari para bos perusahaan lain, untuk membahas masalah tanah itu. Gimana apakah ada pekembangan? Emm, ditambah lagi masalah si centil yang terus saja datang menganggu pekerjaanku, nih! Aku harus apakan dia, seoalnya dia ngotot banget ingin bertemu kamu, bos]
[Masalah tanah ini aku belum bisa menemukan solusi secara jitu, sedangkan masalah si centil kamu urus sendiri, kamu 'kan juga temannya yang selalu bisa diandalkan untuk mengurusnya]
[Hadeh, kalau masalah dia aku angkat tangan, dah. Sudah berulang kali menasehati, namun masih saja hanya satu keinginannya yaitu ingin cinta bos. Lagian kenapa tidak terima saja dia, sih? Biar tidak bikin repot melulu]
[Gila apa, mau menerimanya? Kayak tidak ada perempuan lain saja. Walau dia itu baik dan selalu ramah, namun aku tak suka yang sifatnya selalu manja dan centil]
[Heeh, lalu aku harus bagaimana ... bagaimana? Sementara bosku saja tak tahu caranya]
__ADS_1
Keluh sekertaris sedang bernyanyi.
[Tidak tahu, pikir sendiri. Sudah, aku mau makan dulu sebab belum makan dari tadi pagi. Pokoknya jangan kasih tahu si centil, bahwa aku sekarang sedang berada disini]
[Emm, sipp dah. Selalu akulah yang disusahkan oleh bosku ini]
[Jangan banyak mengeluh, perusahaan sedang susah. Kalau mau awet gajinya turuti saja perintahku, atau mau kupotong tinggal seperempat?]
[Hadeh ... hadeh, nasib ... nasib jadi bujangan, ya beginilah nasibnya]
Lagi ... lagi, suara cempreng sekertaris bernyanyi begitu mengema, hingga didengarkan begitu tak enak.
Klik, tanpa pamit langsung saja kumatikan gawai, sebab tak ingin lagi mendengarkan suarannya. Laptop kini kututup segera, sebab perut semakin melilit tak tahan akan laparnya.
Langkah sudah menuju kedepan hotel, mencoba mencari pemilik hotel untuk meminta membantuku meminjamkan motor orangtuanya.
"Permisi ... permisi, hello pemilik hotel, dimanakah kamu sekarang?" teriak-teriakku bertanya, sambil wajah clingak-clinguk mencari.
Tak ada simbatan sama sekali darinya, tapi bekas teh yang masih mengepulkan asapnya diatas meja, menandakan bahwa dia baru saja ada disini.
"Pemilik hotel ... pemilik hotel, kamu dimana?" teriak-teriakku memanggil lagi.
"Aku disini, Jono. Ada apa?" jawabnya disebuah ruangan.
Dengan segera aku mencari sumber suara itu, yang kini langsung masuk ke dalam ruangan gelap, namun sedikit nampak kelihatan ruangan itu, akibat ada celah-celah jendela yang membuat cahaya bisa terang masuk.
"Hooi, lagi ngapain kamu, diruangan gelap-gelap begini?" sapaku menyenggol tangga dengan tanganku.
"Aaaah ... aaa, awasss!" teriaknya yang tak disangka akan jatuh.
Tubuhnya yang tiba-tiba oleng ingin jatuh, kini dengan secepat kilat aku mencoba menangkapnya. Berat badannya yang ringan, memudahkanku untuk memegangi kuat tubuh dia agar tak jatuh dilantai.
Pandangan kami bertemu, posisi wajahnya telah sejajar denganku. Kami sama-sama terdiam dalam posisi yang tidak terduga.
Wajah Liona sekarang hanya berada bebeberapa inci dari wajahku, terasa sudah sangat dekat sekali, hingga hembusan nafasnya terasa mulai menyapu pipiku. Tatapannya kini seakan-akan langsung menusuk ke bola mataku.
__ADS_1
Deg, dalam posisi seperti ini aku merasakan ada getaran jiwa yang semakin deg-degkan, sampai-sampai terasa tak bisa menghirup udara dengan baik akibat kekurangan oksigen. Jantung seperti pacuan kuda begitu kencang rasa getarannya, hingga tak sadar aku telah menatap dalam balik kepadanya.
Semenit ... dua menit, hingga waktu terus berjalan, kami masih dalam posisi seperti ini. Rasanya waktu telah berhenti sejenak, sampai pada akhirnya Liona menepuk bahuku pelan, ketika menyadarkan lamunan akibat terpana melihatnya.
"Turunkan aku," ucap Liona lemah.
Tanpa banyak basa-basi langsung saja kuturunkan dia, dan secepatnya aku langsung melangkah berjalan keluar ruangan itu.
Kuusap dadaku perlahan-lahan, agar terasa lebih ringan, yaitu ketika bersandar ditembok ruangan yang sudah terjadi sesuatu diantara kami barusan. Perlahan namun pasti kembali kuhembuskan udara, agar rasa deg-degkan langsung segera hilang.
"Ya salam, aku lupa sama tujuan awalku tadi. Ahh, ini gara-gara pemilik hotel jatuh digendonganku. Tapi bukan salah dia juga sih, kamu saja yang sudah mengusik tangga yang dinaikkinya tadi. Hihiihi, dasar kamu ini Jono, sudah berbuat salah tapi malah mau menyalahkan dia," guman hati yang berbicara pada diri sendiri.
"Kenapa aku jadi salah tingkah deg-degkan begini, ya? Padahal kami hanya melakukan hal yang tak disengaja," tanya hati yang terus bertanya-tanya.
Setelah menghirup udara dalam-dalam, kini aku melangkah keruangan yang masih ada Liona.
"Kamu tadi lagi ngapain, sih?" tanyaku mencoba menghilangkan rasa canggung kami.
"Aku mau membetulkan lampu yang rusak tadi, tapi semua jadi gagal akibat kamu mengagetkanku," terangnya menyalahkan.
"Hehehe, maaf ya. Aku tadi tak sengaja, sebab kesel saja kamu dipanggil-panggil tak nyimbat," terangku.
"Emm, terus kamu mencariku kenapa?" balik tanyanya.
"Aku sedang lapar, jadi mau pinjam motor orangtua kamu. Boleh 'kah?" tanyaku.
"Tentu saja boleh, ambil saja!" cakapnya memberitahu sambil kepala mendongak ke atas terus.
"Sini, biar aku saja yang membetulkan bola lompu yang rusak itu, tapi pegang kuat-kuat jangan sampai jatuh kayak kamu tadi," singgungku.
"Ciiih, kalau kamu yang tak berbuat usil, pasti aku tak akan jatuh tadi," ketusnya tak suka.
"Iya ... iya, aku yang salah. Sini!" pintaku bola lampunya.
__ADS_1
Liona kini telah memegang kuat tangga, yang sudah selangkah demi selangkah berhasil kunaikki. Dengan perlahan-lahan bola lampu kuputar, lalu kuganti yang baru, hingga tak lama kemudian lampu berhasil juga untuk menyala.