Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Rencana fiting baju


__ADS_3

Sikap Arjuna sungguh keterlaluan. Gondok ingin menjitak kepalanya, begitu kuat ingin kulakukan. Tapi kekuatan Arjuna terlalu besar untuk kukalahkan sekarang.


"Kalau saja tidak demi orangtua dan para warga, pasti aku ogah menikah sama kamu, Arjuna. Dasar pria yang aneh, masak gara-gara saudara tiri saja kamu sudah kasar cara berbicara. Apalagi tadi, kamu sudah berbuat yang aneh dan macam-macam. Mentang-mentang kita sudah resmi tunangan, bukan berarti kamu dapat berbuat macam-macam denganku." Wajah yang kesal sekarang sudah bergabung dengan para orang tua, yang tengah asyik membicarakan masalah pernikahan kami.


Sikap berklamuflase yang benar-benar patut diacungi jempol, saat dia mulai bergabung dengan kami juga, dengan senyuman yang khas bisa membentuk love dibibirnya itu. Wajah Arjuna terus saja melirik ke arah tempatku berdiri, namun aku hanya mengacuhkannya.


Sikap yang sungguh mengesalkan, tanpa henti Arjuna terus melihat secara mencuri-curi. Tatapannya yang membuat kami tidak sengaja sama-sama terkunci, semakin membuatku salah tingkah. Obrolan terus terjadi diantara para orangtua dan kami hanya menyimak saja, sambil bersikap pura-pura tidak saling kenal.


"Hidih, kenapa Arjuna kayak mulai mencari perhatian, gitu? Apakah dia sekarang mulai jatuh hati padaku? Aah, itu tidak mungkin. Kami menikah diatas kertas, jadi mana mungkin dia akan mengingkari janjinya itu. Semoga saja dugaanku hanyalah salah saja." Hati terus saja berguman menerka-nerka.


Setelah puas berbincang, akhirnya keluarga Arjuna pulang juga. Mereka semua kelihatan ramah, terkecuali dari keluarga tirinya yaitu Kenzo. Walau wajah dia dalam katagori tampan, tapi sikapnya yang kelihatan selalu menonjolkan kepedulian dan sok kenal sok dekat, terasa memuakkan saja bagiku.


******


Dalam indahnya kebahagiaan, terasa ada sebuah beban yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata lagi. Walau pernikahan ini kelihatan nyata, tapi dalam mengambil keputusan itu tidak tahu apakah langkah ini sudah benar atau justru akan menjerumuskanku dalam kesalahan.


"Semoga saja tindakanku tidak akan menyakiti semua pihak keluarga. Jangan sampai ada yang tahu. Kalau ketahuan matilah nanti, pasti kedua orangtua akan marah besar padaku," rancau hati yang bimbang sambil menikmati teh dipagi hari.


Burung yang terus berkicau menyeruakan bunyinya, begitu menenangkan jiwa yang sedang dilanda kebingungan. Udara pagi yang sangat sejuk dan pemandangan asli kampung, sangat memanjakan mata untuk terus betah berlama-lama menikmatinya.


Dzrrrt ... dzzt, gawai yang tergeletak diatas meja dekat teh telah bergetar.


Sikapku yang memejamkan mata sambil menghirup udara pagi, seketika ambyar saat gawai terus saja bergetar.


"Haisst, siapa sih?" Kekesalanku.


Saat jari-jari mulai membuka gawai, ternyata ada nomor nyasar yang mencoba memanggil. Karena tidak kenal, maka handphone kembali kugeletakkan ke atas meja didepan rumah.


Dzzzzzzt, untuk yang kesekian kali nomor baru itu melakukan panggilan. Akibat penasaran mau tidak mau harus diangkat juga.


[Hallo, siapa sih ini? Ganggu ketenangan orang saja]


[Haiich, masak nomor calon sendiri saja tidak tahu]

__ADS_1


Dari suaranya kedengaran seperti Arjuna. Netra sudah memicing sebelah, akibat merasa curiga apa yang sebenarnya dia ingin bicarakan.


[Ooh, kamu ternyata. Ganti nomor ternyata. Ada apa? Ganggu orang saja pagi-pagi begini?]


[Hadeh nih orang. Bukannya menyambut telephone dengan bicara baik-baik, malahan banyak ngomelnya. Aku tidak ganti nomor, banyak pebisnis yang harus dihubungi, maka perlu banyak handphone]


[Oh, begitu. Heh, iya ... iya, minta maaf. Soalnya kamu beneran menganggu banget ini tadi]


[Hmm, dimaafkan. Oh ya, nanti Mama minta kita ketemuan untuk fiting baju, lihat penyewaan gedung dan membeli beberapa peralatan untuk pernikahan. Kamu bisa 'kan meluangkan waktunya sebentar?]


[Emm, gimana yah! Aku banyak kerjaan di hotel]


['Kan nanti bisa ditutup sebentar. Tidak pakai lama, kok. Lagian kalau kamu menolaknya, nanti malah keluargaku akan merasa curiga sama kita juga]


[Ya sudah, oklah kalau begitu]


[Sipp, nanti biar orangku menjemput kamu]


[Emm, oklah]


"Hadeh, mau nikah saja repot amat. Kenapa harus aku juga yang ikut, dia 'kan banyak anak buah yang bisa diajak memilih. Benar-benar merepotkan sekali acara ini," guman hati yang terus saja kesal.


Tidak ingin kena marah Arjuna, sekarang aku sudah bersiap-siap untuk segera menuruti keinginannya. Wajah sudah kupoles biasa-biasa saja. Baju sekarang serba hitam, dengan dilengkapi tas selempang memanjang sudah bertengger dibahu, yang sudah siap membawaku ketempat tujuan.



Tidak menyangka jika mobil jemputan sudah datang cepat. Tidak membuang waktu, segera berpamitan dengan kedua orangtua. Mereka bukannya menghalangi, malah begitu antusias agar anaknya ini segera menemui calon keluarga baruku nanti. Sungguh mengesalkan saat ada rahasia, jadi orangtua tidak bisa membela keadaanku..


Tidak butuh waktu lama mobil mengantar, sekarang aku digiring oleh seseorang yang sudah membukakan pintu mobil ketika aku datang tadi.


"Waaah, begitu besar dan mewahnya gedung ini. Apa tidak salah mereka memilih untuk acara pernikahan nanti?" Hati berbicara kagum, saat terperangah melihat keadaan sekitar gedung.


"Tuan, ini Nona muda sudah datang."

__ADS_1



"Oh, iya." Arjuna yang awalnya sedang fokus memperhatikan gedung, sekarang menoleh kearah suara yang ada diriku juga.


"Terima kasih."


"Iya, Tuan."


Saat orang yang mengantar sudah pergi, netra kembali menyusuri setiap keindahan celah gedung.


"Hallo ... hallo, Liona?" Arjuna memanggil dengan cara melambai-lambaikan tangan didepan wajahku.


"Eeh, iya. Maaf!" jawabku sudah sadar dari lamunan kekaguman.


"Gimana, Liona? Apa kamu suka gedungnya?" tanya calon Mama mertua.


"Hehe, kalau Liona terserah sama kalian saja."


"Baguslah, kalau begitu. Memang kalau mau jadi istriku harus selalu nurut saja. Apalagi jangan banyak ulah maupun tingkah," saut Arjuna.


"Hidih, ini orang banyak cakap juga."


"Kalau begitu, mau bertema yang bagaimana menurut kalian berdua?" imbuh calon mertua.


"Wah, kalau itu aku suka yang classic dan kelihatan elegan. Penuh dengan bunga apalagi mawar. Liona sangat suka itu, Ma!" jawabku.


"Hidiih, seperti anak kecil saja."


"Lha, mana ada seperti anak kecil, bukankah orang dewasa juga suka bunga. Kamu saja aneh dan kuper," ejekku sambil memeletkan lidah.


"Kamu ... iihhhh!" Arjuna sepertinya mulai marah, saat tangannya sudah melayang diudara seperti ingin menjitak.


"Sudah ... sudah, jangan diperpanjang lagi. Insyaallah, Mama akan penuhi usulan kamu itu, Liona. Terserah apa yang diiginkan Arjuna, yang jelas ini demi kebaikan kalian bersama," Mama mencoba menengahi percakapan kami.

__ADS_1


"Iya ... iya, terserah Mama saja. Yang penting aku menerima beresnya saja nanti," Akhirnya Arjuna mengalah juga.


Melihat-lihat ke sekeliling gedung yang kami lakukan. Semua sudah diatur Mama, kami berdua hanya bisa manggut-manggut nurut saja. Lagian kalau ikut campur mengatur, nanti dikira terlalu egois dan sok tahu sebab aku berasal dari kampung, mana tahu yang kayak beginian mengenai hal-hal dari kalangan orang kaya.


__ADS_2