Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Keraguan akan mengajak


__ADS_3

Masih berpikir seribu apakah usul mama harus dijalankan, mengingat Liona orangnya pemalas kalau diajak jalan-jalan. Tapi jika menolak ide beliau pasti akan marah, terlebih lagi seperti tidak menghormati saja pemberian hadiah itu.


Tut ... tut, gawai berusaha menghubungi nomor orang yang ada diseberang sana.


[Hallo, iya ada apa?]


[Bisakah kamu datang ke kantorku sekarang]


[Memang ada hal pentingkah? Apa tidak takut jika aku nandi menganggu pekerjaan kamu?]


[Enggak. Lagi ada waktu senggang. Oh ya, bawa bekal sekalian untuk makan siang]


[Baiklah kalau begitu]


[Aku tunggu dan pesankan taxi, biar kamu tidak kerepotan dan terlalu lama datang kesini]


[Baiklah]


[Hmm, bye ... bye. Sampai ketemu disini]


[Iya, bye ... bye juga]


Sebuah kertas kembali kubuka saat masih terlipat. Tulisan mengenai kota Bali berulang kali kubaca. Rasanya banyak keraguan yang terjadi, namun tetap ingin pergi sebab kebahagiaan ingin kuberikan pada Liona juga.


"Semoga rencana ini akan membawa kita lebih dekat lagi. Berharap kau akan terus bersamaku menjalani biduk rumah tangga ini," Harapan yang ingin terwujud.


*********


Waktu terus berjalan dan akhirnya orang yang ditunggu sudah datang. Cukup lama juga menunggunya, mungkin tadi sedang sibuk menyiapkan bekal yang akan dibawa.


"Maaf ya, kamu pasti lama sskali menunggu," Liona sudah tergesa-gesa menghampiriku.


"Tidak lama, kok."


"Tapi beneran lama tadi. Habisnya harus menyiapkan makan siang untuk kamu. Maaf juga kalau menunya sedikit dan tidak sesuai sama keinginan kamu nanti, sebab tadi kulkas cuma ada beberapa bahan yang tersedia, dan karena terlalu mengejar waktu tadi jadi sekarang seadanya menu."



"Iya, tidak apa-apa. Duduklah!" ajakku.


"Hmm." Bekal dalam wadah susun sudah terletak dimeja.


Satu persatu mulai diturunkan liona. Ada berupa nasi, dan sekitar tiga lauk yang acak-acakkan bentuknya namun terlihat mengugah selera. Walau kadang tidak tahu nama menunya, tapi rasa yang dimasak Liona selalu sedap.

__ADS_1


"Ini makan 'lah," Sudah disodorkan nasi berserta lauknya untukku.


"Terima kasih. Kamu tidak ikut makan?"


"Tidak. Tadi dirumah baru saja makan."


"Ooh." Mulai memasukkan makanan dari tangan ajaib istri.


"Aku disuruh datang kesini bukan untuk mengantar makanan saja 'kan. Bukannya tadi ditelepon katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan. Memang ada apa?" tanyanya tidak sabar.


"Memang ada, sih! Kamu ambil saja amplop yang ada dimeja kerja. Itu ... tuh!" suruhku sebab masih sibuk makan.



"Ok."


Dengan lahap terus melanjutkan makan. Benar-benar bikin tidak mau berhenti untuk terus mencicipi.


"Apa ini? Kok ada tulisan di Bali?" Liona sudah membacanya.


"Itu hadiah dari mama."


"Terus? Apa maksudnya?"


"Hah, kok bisa."


"Ya bisa 'lah. Itu rencana mama lho."


"Tapi kita itu tidak menikah beneran. Maksudnya kamu tahu 'kan?."


"Sangat tahu." Menjawab santai sambil tetap sibuk makan.


"Terus. Kenapa kamu menerimanya?"


"Hhhhh, tadi 'kan sudah bjlang kalau itu hadiah dari mama, jadi mana bisa aku menolaknya."


"Tapi tidak harus pakai acara bulan madu segala." Liona kelihatan kesal atas rencana itu.


"Emang kenapa, sih? Kamu kayak tidak setuju gitu, bukankah kita sah telah menikah!" Kini menganggap serius perkataan Liona.


"Iya sah, tapi diatas kertas."


"Singkirkan dulu masalah penikahan dalam perjanjian itu, yang jelas kita besok harus berangkat kesana."

__ADS_1


Liona hanya bisa menghentakkan kaki, dengan muka ditekuk dan bibir monyong.


"Kenapa? Apa kamu tidak setuju?" Masih bingung menerka atas sikapnya.


"Ya jelas 'lah. Kamu tahu sendiri,kalau pernikahan kita boleh dikatakan hanya main-main saja. Aku tidak mau jika kita nanti hanya berdua saja kamu akan malah berbuat macam-macam."


"Hahahha, dih pikirannya. Kenapa mengarah yang kotor begitu. Aku masih punya akal dan waras."


"Mana ada kotor. Aku tahu betul sifat kamu."


"Duh, yang baru beberapa bulan bersama tapi bisa menerka sifat-sifatku, hihihihi!" Tertawa jahat.


"Kan benar. Kamu pasti akan berbuat aneh-aneh nanti. Bisa mati aku jika kamu macam-macam tapi tidak ada yang biss menolongku."


"Astaga. Kenapa terlalu jauh banget kamu berpikir. Sudah, tenang saja. Janji kok tidak akan membuat kamu kerepotan disana, apalagi sesuai dengan pikiran-pikiranmu yang mesum itu," tekan percakapan agar Liona tidak berpikiran aneh-aneh lagi.


"Dih, siapa juga yang mesum. Aku cuma ingin berjaga-jaga agar seluruh anggota tubuhmu itu tidak jahil dan sembrono," Liona sudah meletakkan kedua tangan menutupi sekitaran dada.


"Hahhhaha, lihat saja 'lah nanti. Tapi benar juga katamu itu, kamu harus selalu berjaga agar aku bisa mengontrol. Intinya jangan sampai kamu terlena, bisa-bisa akan kuliti beneran semua punyamu nanti," Godaku.


"Iiiih, benar 'kan."


"Hahahah, takut amat sih. Pasti lucu banget jika aku berhasil meluluhkanmu."


"Iiihhh, Juna. Ya iyalah, jangan sampai aku kehilangan semua akibat kecerobohan."


"Hadeh, iya ... ya, aku akan mengontrol semuanya. Tapi kamu harus pergi."


"Ok. Janji, ya."


"Hmm."


"Awas kalau enggak. Akan kucabik-cabik semua kulit kamu nanti."


"Dih, emang aku mangsa kamu."


"Yap, mangsa yang siap mengamuk jika ada yang mengusik."


"Ciiih, berpikiran kejam amat."


"Biarin 'lah. Biar kapok kamu, wlueeek!" Ejek Liona sudah menjulurkan lidah.


Mungkin Liona terlalu takut jika aku bersikap melewati batas jika kami jadi pergi berduaan. Pernikahan diatas kertas membuat dia harus was-was terus jika suatu saat tixak akan bersama. Rasa yang sudah merajai jiwa, sudah bertekad akan menjaga Liona tetap berada dalam genggaman tangan, dan tidak boleh lepas hanya karena sebuah perjanjian.

__ADS_1


__ADS_2