
Mama Arjuna sangat baik sekali, berbeda sama anaknya yang songong. Sekarang tangan kanan kiri sudah penuh oleh barang-barang belanjaan yang beliau belikan.
"Widuh, banyak amat barangnya!" sapa adik Tio.
Tangan yang pegal, langsung menaruh sembarangan semua barang dikursi. Wajah Ibu dan Bapak hanya bisa melongo atas apa yang kubawa barusan.
"Iya nih, Liona. Apa tidak salah ini?" Ibu sudah mencoba memeriksa barang yang masih rapi dalam paper bag.
"Tidak tahu 'lah, Bu. Ini semua mama Arjuna yang memberikan," terangku.
"Lalu kamu menerimanya begitu saja," ucap Bapak yang kelihatannya tidak senang.
"Iya, Pak. Kalau menolaknya langsung, pasti mamanya itu akan tersingung."
"Wah, ini mah baju berkualitas bagus. Pasti harganya mahal-mahal," ucap Tio yang sudah mengeluarkan salah satu isi dalam paper bag.
"Kamu jangan ulangi lagi ini, Liona. Memang mama Arjuna berniat baik memberikan hadiah pada calon menantu, tapi apakah suatu saat nanti terjamin tidak akan dipermasalakan, sebab kita ini dari keluarga tidak berpunya dibandingkan dengan mereka," nasehat Bapak.
"Iya, Pak. Maaf!" Aku hanya bisa menundukkan kepala, tidak menyangka jika omongan Bapak ada benarnya.
"Iya, Liona. Kalau kamu nanti keseringan minta ini itu yang mahal-mahal, takutnya ada omongan yang tidak enak, yaitu menganggap anak Ibu yang cantik ini matre dan menikah dengan Arjuna hanya dikarenakan oleh harta," simbat Ibu yang tidak suka juga atas apa yang kulakukan.
"Sudah ... sudah. Yang sudah terjadi biarlah, tapi lain kali kalau bisa jangan lakukan itu lagi, sebab kita harus siap siaga kalau sesuatu hal tidak diinginkan nanti terjadi. Kamu tahu sendiri, pernikahan ini dikarenakan dijodohkan atas nama sengketa tanah, jadi Ibu sama Bapak tidak ingin kamu menyesal suatu saat nanti," imbuh Bapak.
"Iya, Pak, Bu. Maafkan Liona. Aku lain kali akan menuruti perkataan Bapak itu. Awalnya juga menolak sebab harganya terlalu mahal, tapi calon mertua tetap ngotot ingin membelikan," terangku.
"Ya sudah, ngak pa-pa. Lain kali kamu harus menolaknya, tapi dengan sopan dan halus, biar mama Arjuna tidak tersingung." Ibu menasehati kembali sambil mengelus rambutku pelan-pelan.
"Iya, Bu."
Tubuh Ibu langsung kupeluk, sadar akan kesalahan yang barusan kulakukan. Tio hanya mengacak-ngacak, dengan membuka semua barang. Berkali-kali dia mengucapkan kata takjub akibat terkejut, saat melihat harga fantastis pakaian yang masih bertengger lekat dilabel baju.
"Benar juga kata bapak, aku harus lebih berhati-hati sama keluarga mereka. Jangan sampai aku terperangkap akibat kekayaan mereka. Lagian kami akan menikah diatas kertas, jadi sewaktu-waktu ada masalah sama Arjuna, pasti semua pemberian akan ditarik kembali."
"Hadeh, kenapa kamu tidak kepikiran sampai kesitu, Liona! Kamu sekarang terlalu ceroboh atas pesona kekayaan dan kebaikan mereka. Jangan sampai kamu terjebak terlalu dalam pada mereka," guman hati berbicara pada diri sendiri.
*****
__ADS_1
Udara pagi begitu terasa menyejukkan, saat hembusan angin sudah menerpa wajah, yaitu ketika aku sedang bersantai berdiri diteras rumah, sambil mengerakkan tangan ke arah kiri dan kanan.
"Kak ... kak!" panggil suara Tio.
"Emm, ada apa? Kakak ada didepan."
"Nih, handphone kamu berbunyi," Tio sudah memberitahu sambil menyodorkan gawai yang terus bergetar.
"Oh, iya. Terima kasih."
"Emm."
Klik, gawai sudah kugeser untuk segera mengangkatnya, saat tahu ada nama Arjuna yang tertera.
[Hemm, ada apa?]
[Ada hal penting hari ini yang ingin kuminta]
[Apa itu?]
[Kenapa harus melibatkan aku juga]
[Hadeh, kamu akan jadi bagian keluargaku, jadi mereka ingin mengenal lebih baik lagi]
[Heh, iya ... iya, nanti akan aku usahakan]
[Baguslah kalau begitu. Sebentar lagi akan ada kurir yang akan datang membawakan baju untuk kamu, biar kelihatan rapi dan sopan pada semua orang nanti]
Benar-benar permintaan yang mengesalkan. Ditolak takut malah bikin Arjuna murka, jika dituruti tidak mau terjebak oleh pikatan mereka yang selalu menggunakan kemewahan.
[Hmm, oke ... oke]
[Nanti malam aku sendiri yang aku menjemput kamu, jadi sebelum jam setengah delapan kamu harus siap-siap. Awas saja kalau bikin kita terlambat datang, maka denda atas perjanjian akan ditambah]
[Hidih, jangan jadikan surat perjanjian itu sebagai ancaman. Mentang-mentang surat itu kamu yang bawa, seenaknya saja bisa main mengatur-ngatur]
Rasanya gondok sekali perlakuan Arjuna. Ingin sekali kugetok kepalanya itu, agar tidak semena-mena lagi mengatur.
__ADS_1
[Lah, kalau kamu tidak diatur pasti sikap kamu yang selalu ceroboh itu, bisa membahayakan perjanjian dan pernikahan nanti. Apa kamu mau semua keluarga kita terancam malu dan kehilangan kerjasama yang sudah tsrjadi?]
[Iya ... iya, tuan Arjuna]
[Nah, 'kan begitu enak didengar, yang rasa-rasanya terasa manis saja ucapanmu itu]
[Emang aku gula]
[Lebih dari gula manisnya]
[Hidih, terlalu membual dan bawel]
[Apa?]
[Hehehe, tidak kok. Tadi kepeleset saja mulutku]
[Hilih, jelas-jelas aku tadi mendengarkan apa yang kamu ucapkan]
[Iya ... iya, tadi keceplosan. Maaf]
[Hmm. Ya sudah, nanti jangan lupa]
[Sipp]
"Mulutnya selalu saja bawel. Eneg sekali mendegarkannya. Semoga nanti setelah menikah aku tetap bertahan oleh ocehannya, sampai tanggal perjanjian kami selesai. Amin!" guman hati yang kesal.
Lama sekali menunggu paketan datang, sampai garing menunggu diluar rumah. Rasanya penasaran saja baju yang bagaimana akan diberikan Arjuna itu.
Tin ... tin, suara klakson motor sudah hadir, yang kelihatannya orang yang sedang kutunggu.
"Paket!" ucap pegawai pengiriman barang.
"Oh iya, Mas. Terima kasih!" Tangan sudah menerima sebuah kotak yang agak lumayan besar.
"Iya, sama-sama!" jawab ramah pengawai itu, sambil memberikan kertas sebagai tanda serah terima.
Setelah urusan selesai, langsung saja kotak kubawa masuk kedalam kamar.
Tangan yang tidak sabar, langsung membuka pembungkus kardus dan segera melihat isinya. Wajah sudah terkejut dan tidak percaya yang barusan kuterima, yaitu sebuah gaun putih dan higheels yang senada warnanya sudah diberikan.
__ADS_1