
Hanya segelintir satu dan dua orang yang sudah mampir ke hotel kami, sungguh mengenaskan sekali. Entah apa yang terjadi sekarang, hingga usaha kami satu-satunya kini kian sepi.
"Kenapa jadi sepi banget kayak gini, apa mungkin ini akibat ulah si borokokok Arjuna itu. Apa dia makai jimat untuk mematikan usahakan kami? Aah, mana mungkin. Dia itu 'kan orang yang pintar, masak percaya kayak gituan. Huufff, apes dah!" keluhku mencurigai musuh.
"Hei kakakku, sayang. Melamun apaan, nih? Kalau rencana mau mendapatkan hoki, aku ngikut dong," sapa adekku Tio.
"Hoki kepalamu peyang. Heeh, apa ngak lihat usaha hotel kita makin sepi ini," jelasku.
"Dibikin santai saja, kakak. Kalau dipikirkan tidak akan ada habisnya, bikin puyeng kepala saja. Lebih baik wajahmu yang kusut itu dibikin happy saja, dari pada makin keriput nambah jelek saja seperti nenek-nenek nanti, mana belum dapat jodoh pulak," ucap Tio.
"Haiist, gimana tidak mikir. Kalau usaha kita ini sepi, pasti kakek buyut akan sedih sebab usahanya selama ini telah sia-sia. Kakak tidak mau jika si musuh si Arjuna akan leluasa tertawa, akibat kekalahan usaha kita," cakapku tidak senang.
"Benar juga sih. Lalu langkah apa yang harus Kakak lakukan untuk memajukan hotel dan keindahan desa kita?" tanya Tio.
"Emm, gimana ya caranya? Apa kita akan buat rencana promo besar-besaran, agar hotel kita lebih maju lagi," usulku.
"Ide bagus itu. Lebih baik begitu, daripada ngelamun saja menunggu pelanggan yang sedang tak berkunjung. 'Kan lebih baik kamu bergerak untuk promo ke sana-sini, mencari wisatawan atau orang-orang yang mau mampir," saut jawab si Jono.
Dengan santainya Jono kini berhadapan berdiri sejajar dengan Tio, yang kini sudah ikut-ikutan mencampuri urusan kami. Wajahnya yang nampak tenang namun sedikit kusut, membuat hatiku meronta curiga padanya, sebab dia itu betah sekali berlama-lama dalam kamar, tanpa ingin keluar membeli makanan maupun melakukan aktifitas lain.
"Nah 'kan, kak Jono saja setuju atas ide Kakak tadi, apalagi aku yang tidak mengerti begituan, yang bisanya hanya mendukung saja," ujar Tio.
Mata hanya melotot tajam kearah Tio, akibat tak suka atas pembelaannya pada si cupu Jono.
__ADS_1
"Tahu 'ah, nanti aku pikirkan lagi, sebab tak segampang itu melakukannya," jawabku.
"Oh ya, adakah diantara kalian berdua bisa mengantarku membeli makanan sekarang, sebab aku sedang kelaparan ini?" tanya Jono.
"Malam-malam begini? Apa tidak salah? Memang dari tadi ngapain dikamar, hingga malam-malam begini baru minta diantar. Kalau aku sih ogah, ihhhh ... hati-hati jika lewat jalanan sekitaran hutan disana," simbatku mencoba menakuti.
"Haiist, selalu bikin orang berpikiran ketakutan. Lagian kalau kamu tidak mau, 'kan ada Tio yang bisa mengantarku sekarang. b
Benar tidak, Tio?" tanyanya.
"Heheheh, aku Kak? Maaf ya, aku tidak bisa, 'kan tahu sendiri kalau aku ini penakut," jawab Tio cegegesan.
Dalam hati aku hanya bisa tersenyum puas, saat Tio ternyata ada dipihakku. Nampak wajah Jono kesal, namun kami pura-pura tidak tahu dengan wajah mengalihkan pandagan ke arah lain.
"Ayolah, bantuin sebentar, ya ... ya. Aku bisa mati kelaparan nanti," pinta Jono memohon.
"Kak Jono beneran lapar? Makan dirumah kami saja, gimana?" usul Tio yang mengesalkan.
"Benarkah boleh? Wah, aku pasti akan senang sekali menerima tawaran kamu itu. Ha ... ha ... ha, akhirnya aku bisa mengisi perut juga," tawa Jono bahagia, yang kini langsung main nyelonong pergi duluan ke rumah.
Saat Jono sudah duluan pergi, kini langkah Tio kuhentikan dengan menarik kuat kerah bajunya
"Aaaiiich, kenapa juga kamu main sembarangan berucap, pakai ngajak segala si culun itu masuk rumah," ujarku marah.
"Habisnya kasihan sama dia. Masak kakak tega sih lihat dia kelaparan," ketus jawab Tio.
"Kasihan sih kasihan, tapi tidak harus mengajaknya ke rumah. Awas saja kalau Bapak sama Ibu akan marah. Habislah muka kau yang ngeselin itu dengan ini, paham!" Kekesalanku berkata sambil menujuk kepalan tangan.
__ADS_1
Kini aku bergerak cepat menyusul Jono, sedangkan Tio berjalan mengiringi langkahku dari belakang. Kaki melangkah tergesa-gesa supaya aku cepat sampai rumah, sebab takut jika kedua orangtua akan marah besar akibat kedatangan tamu yang tak diundang.
Nampak Jono kini sudah duduk berhadapan dengan kedua orangtua dimeja makan. Wajah si culun sekarang nampak kebingungan dengan makanan yang sudah tersedia dimeja, dan aku berusaha mendekati orangtua yang bertambah kebingungan melihat ekspresi Jono.
"Kenapa hanya dilihat saja? Bukannya tadi mengeluh lapar?" tanyaku menyingung.
Jono hanya mengusap tekuknya perlahan, mungkin tak tahu harus menjawab apa, saat meja berisikan tumis daun dan bunga pepaya dicampur ikan teri, tumis kecap buah pepaya muda, tempe goreng, dan hanya ada buah pepaya masak yang sudah ranum berwarna jingga.
"Hehehe, aku memang sedang lapar, tapi ... tapi--?" Suara Jono tak bisa menjawab.
"Tapi apaan? Tak suka? Ini tuh didesa terpencil, jadi apa yang ada ya makan, jangan banyak-banyak mengeluh, apalagi menyia-nyiakan makan," ketusku menjawab sambil mulut penuh mengunyah buah pepaya.
"Iya, nak Jono. Ini tuh didesa, jadi yang ada ya ini saja, kalau mau makanan enak besok baru bisa, sebab kedai pejual sayur jauh dari kampung ini, jadi kami semua warga kampung kebiasaan tak selalu makan enak seperti orang kota," jelas Bapak.
"Bukan gitu, Pak. Bukan saya tak suka atas hidangan yang tersedia, namun saya belum pernah sama sekali makan makanan kayak gini. Maka dari itu agak takut-takut mau mencobanya," cakap Jono menjelaskan.
"Iya, kami tahu. Kamu irang kota, jadi tak pernah memakan makanan seperti kami. Sekarang dicoba dulu siapa tahu suka, sebab karena tak pernah memakannya pasti akan terasa enak," simbat jawab Ibu.
"Bener tuh, kak Jono. Kakak harus membiasakan makan makanan kayak gini, jadi kalau nanti ada hidangan seperti ini biar tidak kaget," saut cakap Tio ikut-ikutan menjawab.
"Heeh, baiklah. Kalau begitu akan saya coba, semoga saja lidah saya akan menerima dengan baik," Kepasrahan Jono, yang kini sudah mengambil piring untuk segera membubuhkan nasi.
Nampak tangan si culun begitu gemetar dan ragu-ragu, saat menyendok lauk daun pepaya ingin dimasukkan mulut. Sekali masuk, dia terus saja memejamkan mata dengan kuatnya, yang kemungkinan tak tahan akan rasa pahit sayur itu. Aku hanya bisa tertawa kecil melihat ekspresi wajahnya itu.
Sesuap demi sesuap, lama-kelamaan lidah si culun mau juga menerima, hingga kami hanya bisa terperangah mengangakan mulut, akibat nasi yang masih setengah bakul kini tinggal seperempat.
__ADS_1
"Ini orang kelaparan bener 'kah? Kayak satu bulan saja tidak makan. Tadi saja kayak takut dan mau menolak, tapi kalau sudah tahu rasanya malah nambah terus tanpa berhanti makan. Dasar si culun, didepan saja sok malu-malu, kalau sudah tahu rasanya malah malu-maluin, hadeeh!' gerutuku dalam hati tak senang.
Berulang kali Jono mengucapkan terima kasih pada keluarga kami, sebab telah menerima baik dia untuk makan dirumah. Orangnya yang kelihatan ramah, telah cepat sekali untuk akrab bercengkrama dengan Bapak. Aku yang samar-samar mendengar obrolan mereka begitu risih, saat suara bising itu mengelegar terdengar dekat dengan kamarku.