Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Lamaran


__ADS_3

Hati begitu deg-degkan tidak karuan, saat hari ini aku akan resmi dipinang oleh si tuan muda Arjuna. Semua warga begitu antusias, untuk melihat acara yang seumur hidup baru terjalani. Anggota keluarga nampak telah berdandan anggun dan sopan, menggunakan kebaya adat khas jawa.


"Huff, semoga saja acara yang pura-pura ini akan tetap berjalan lancar. Jangan sampai kegrogianku ini akan menghancurkan semuanya." Hati terus saja berbicara, dengan langkah terus mondar mandir akibat grogi.


Walau sudah berdandan cantik, tidak mengurungkan niatku untuk terus berjalan tidak tenang ke kanan kiri.


Ting ... dzzrt, gawai telah bergetar, menandakan ada pesan masuk.


[Jangan sampai orang-orang nanti akan curiga atas sandiwara kita ini. Awas saja kalau gagal, maka kamu akan menganti rugi sesuai perjanjian kita]


"Iich, belum jadi apa-apa saja sudah main mengancam. Dasar cowok minta digetok kepala ini orang," Kekesalanku berbicara pada diri sendiri.


[Ya ... ya, aku paham]


Singkat, padat, dan jelas, aku berbalik membalas pesannya.


[Baguslah kalau kamu paham. Semoga saja acaranya lancar, tidak ada kecacatan nanti]


[Ya]


"Haist, lama-lama dia bawel juga. Huff, amin ...amin, semoga saja berhasil beneran!" Tangan sudah mengelus pelan dada, agar bisa menghilangkan semua rasa ketakutan.


Rasanya dongkol juga pada pria yang akan jadi calonku nanti. Belum apa-apa saja, dia sudah bawel bagaimana jika kami nanti sudah bersama, pasti dia akan banyak omong melarang ini itu.


"Kamu kenapa sih, Kak?" tanya adik laki-laki saat sudah memasuki kamarku.



"He ... he, tidak ada apa-apa, kok!" jawabku berbohong.


"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa juga harus mondar-mandir tidak tenang begitu. Jangan bilang Kakak takut atau grogi sama musuh kita itu," tebak Tio.


"Haiist, bukanlah."


"Kenapa juga takut sama dia. Kamu tahu sendiri kalau Kakakmu ini pemberani, masak cowok sok imut itu menang dari Kakakmu ini," ngelesnya aku berkata.


Agar menghindari rasa curiga Tio, maka aku kini duduk dikursi, agar bisa meredakan segera ketegangan.


"Kenapa kamu kesini?" tanyaku.


"Tadi disuruh bapak sama ibu untuk memanggil kakak keluar, sebab para rombongan akan segera datang," jelas santai Tio.

__ADS_1


"Benarkah itu?" Wajahku yang agak tenang, sekarang bertambah tegang.


"Iya, benar itu. Ayo keluar segera. Banyak yang sudah nungguin diluar tuh," suruh Tio.


"Kamu duluan sana. Nanti kalau mereka sudah datang beneran Kakak akan keluar," Rasa yang kian tidak karuan masih kucoba sembunyikan.


"Okelah, tapi jangan lama-lama, takutnya bapak sama ibu akan ngomel-ngomel, sebab Tio dikira gagal memanggil Kakak," Bawelnya Tio berucap.


"Iya ... iya, husss ... huus, sana!" Usirku secara halus agar Tio segera keluar kamar.


Tio sudah pergi, namun tidak langsung membuatku tenang.


Beberapa menit berusaha meredakan, tapi masih saja tidak hilang.


Tin ... tin, suara klakson mobil yang bisa dipastikan itu adalah rombongan mereka.


Seketika aku berlari kecil mendekati jendela untuk mengintip. Dibalik gorden yang sudah terbuka, ternyata benar saja kalau tamu sudah datang.


"Aah, kenapa aku harus grogi akut begini? Inikan hanya pura-pura, kenapa harus menganggap serius juga. Semoga saja aku bisa tenang dihadapan mereka nanti," guman hati yang panik.


"Huufff. Bismillah!" ucap pada diri sendiri mantap ingin keluar.


Tangan sudah terasa berkeringat dingin. Rasanya hawa terasa panas, ditambah memakai kebaya yang semakin membuat kening mengeluarkan bulir-bulir keringat.



Sambutan para keluarga, berbalik disambut dengan ramah dan baik oleh tamu.


Tanpa basa-basi, pembawa acara sudah mengungkapkan maksud yang menjadi kedatangan mereka.


Mata kami berdua sudah sama-sama melirik, walau dari sembari tadi aku menundukkan kepala karena malu-malu.


Kami berdua sudah diapit oleh kedua orangtua masih-masing, namun berbeda dengam Arjuna yang diapit oleh Nenek dan Mamanya saja, sebab Ayahnya sedang sakit duduk dikursi roda.


"Idiiih, kenapa Arjuna dari tadi mencuri-vuri pandang ke arahku. Apakah aku telah membuatnya terpesona, sehingga berkali-kali dia malu-malu melirik ingin melihatku?" Kerisihan saat mata calon suami tidak lepas melihat kearah tempatku duduk.


"Kalau tidak ada orang banyak saja, pasti sudah kucongkel matanya itu. Masak berani-beraninya dia memandangi terus. Jangan-jangan dalam otaknya sekarang sedang memikirkan yang aneh-aneh contohnya mesum. Iih, amit-amit jangan sampai dia beneran memikirkan yang begituan," tebakku tidak suka atas sikap Arjuna.


"Baiklah, kami dari keluarga besar Arjuna, ingin mengungkapkan maksud dan tujuan kami datang kesini, yaitu ingin meminang putri anda yang bernama Liona," ungkap Papa Arjuna.


"Kami terima dengan baik maksud dan tujuan kalian. Sekarang semua terserah pada keputusan anak-anak sendiri. Gimana, Liona?" tanya Bapak.

__ADS_1


"Waduh, harus jawab apa ini?" Kepanikan hati karena grogi takut salah, maka netra melirik ke arah Arjuna agar bisa membantu memberikan jawaban yang benar.


Sungguh sayang sekali, saat Arjuna sepertinya menyerahkan semua jawaban kepadaku.


"Gimana, Nak Liona?" imbuh Papa Arjuna.


"Eeh, apa?" jawabku keceplosan.


Hahahha, gelak tawa semua orang.


"Wah, calon wanitanya terlalu grogi itu, sampai tidak fokus sama acara ini," ledek salah satu tamu.


Aku hanya bisa cegegesan menahan rasa malu. Ibu sudah meloyot tajam kearahku, yang sepertinya sudah marah.


"Calon mertua kamu bertanya, bagaimana dengan kamu. Apakah setuju menerima pinangan ini?" tanya Bapak.


"Sa-sss-ya, satuju!" jawabku terbata-bata.


"Alhamdulillah!" jawab kompak semua orang.


Akhirnya bisa bernafas lega juga. Hanya pertanyaan satu saja membuat jantung berdetak kuat, yang rasanya akan membawaku segera pingsan.


Obrolan akhirnya menjadi santai diantara kami semua, tidak sama waktu pertanyaan pinangan tadi.


Semua tamu, sekarang sudah mulai memakan hidangan yang tersedia ditempat kami. Saking kuatnya ketakutan, akupun ikut makan juga akibat kelaparann.


"Hei, cantik. Boleh kita kenalan!" sapa seseorang dari belakang.


Suaranya yang menyapa terlalu dekat dileher dan telinga, sampai membuat bulu kuduk meremang berdiri semua.


Wajah langsung menoleh kesumber suara itu.



"Astagfirullah, siapa ini? Kenapa pria ini tampan sekali," Kekagumanku atas wajahnya.


"Bolehkah aku kenalan sama kamu, cantik?" ucapmya sudah mengulurkan tangan.


"Ooh, iya. Tentu saja. Perkenalkan, nama saya adalah Liona?" jawabku langsung nenerima jabatan tangan itu.


"Nama yang cantik seperti yang punya," rayunya.

__ADS_1


Entah mengapa aku dibuat melayang atas perkataannya tadi. Tangan yang terpegang olehnya, tiba-tiba susah untuk ditarik saat pria yang baru kukenal telah memegangnya begitu kuat.


"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan tangan calon istriku itu," Suara mengelegar Arjuna yang kelihatannya marah.


__ADS_2