Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Surat perjanjian Bagian 2


__ADS_3

Perjanjian ini sangat diperlukan, untuk kepentingan yang menguntungkan bagi kami berdua. Jika tidak, ujung-ujung kami pasti akan terjebak oleh sesuatu yang tidak diiginkan suatu saat nanti.


"Kelihatannya tidak akan merugikan bagi kita, tapi apakah aku boleh menambahkan satu poin saja?" tanyanya.



"Tentu saja boleh. Kamu mau menambah sepuluh poinpun juga bisa," jawabku santai.


"Ok."


Liona sudah mengerakkan jarinya untuk menuliskan sesuatu. Sepertinya dia begitu serius menambahkan poin perjanjian.


"Ok, sudah selesai sekarang!" cakapnya lega sambil memberikan kertas itu padaku.


Seketika kening berkerut atas apa yang dia tuliskan. Cakrapun ikut-ikutaan kepo untuk melihat.


Isi poin kelima dalam perjanjian :



Tidak boleh ada sentuhan, tidak boleh sekasur walau sekamar. Apa yang kuinginkan tidak boleh dicegah, karena ini menyangkut pribadi masing-masing.



Aneh sih atas permintaannya, tapi ya sudahlah Liona sangat menginginkan.


"Ok, aku menyetujui ini!" jawabku langsung menandatangani.



"Siip, bawa sini! Aku akan menandatangani itu juga," pintanya.


Kertas sudah kuberikan dan dia setuju juga untuk segera tanda tangan.


"Semua sudah terselesaikan masalah ini. Jangan sampai ada orang luar tahu atas perjanjian kita, cukup tiga orang disini saja yang harus mengetahui ini," cakapku.


"Heem, betul itu. Tapi, apakah sekertarismu ini bisa diandalkan?" tanya Liona ragu.


"Wah, Nona meragukan diriku 'kah?' saut Cakra tidak percaya.

__ADS_1


"Dia aman. Cakra adalah orang kepercayaan sekaligus teman. Makanya dia ada disini, sebab kita jadikan saksi atas surat perjanjian ini," jelasku.


"Emm, betul itu."



"Ok, aku akan mempercayainya juga."


"Tapi awas saja kalau ini semua bocor. Bukan hanya sekertarismu saja yang akan kuhancurkan, tapi kamu akan kutebas juga, paham!" jawab kekasaran Liona.


"Hidih, cewek penakut saja sok kuat," ucapku ngedumel memelankan suara.


"Apa yang kamu bilang tadi?" bentaknya kelihatan tidak suka.


"Heheehe, ngak ada apa-apa, kok. Cuma lagi kesel saja sama sekertarisku ini. Benar 'kan!" pungkiranku yang sudah menyenggol lengan tangan Cakra, agar dia ada dipihakku.


Cakra malah kelihatan blo'on kebingungan, atas pertanyaanku yang mendadak tadi.


"Hemmm!" jawab Cakra mengiyakan saja.


"Ya sudah. Aku mau pulang sekarang, lagian mau ngapain juga berlama-lama disini," ucap Liona ingin pamit.


"Oklah, akan aku suruh anak buahku mengantar kamu lagi."


"Haiist," Balik keluhku tidak suka atas ucapan Cakra barusan, yang melotot tajam kearahnya.


"Tidak usah. Aku tahu dia sibuk," saut Liona pengertian.


"Nah, dia belum jadi calonku saja mengerti, bukan kayak kamu bertahun-tahun bekerja tapi tidak memahami," geramku ingin marah pada Cakra.


"Kan sudah mau dalam ikatan pernikahan, ya seharusnya kalian itu harus romantis sedikit, kenapa!" ledek Cakra yang bikin kesal.


Plak, map yang ada tanda tangannya antara kami berdua, sudah kupukulkan ke kepala Cakra. Bukannya dia menyesal atas ucapannya tadi, malah bikin kesal ingin menabok dia, yang terus saja cegegesan mengejek.


Bodygurd yang kusuruh mengantar Liona tadi, sekarang akan kuperintahkan lagi untuk mengantarnya pulang.


"Hati-hati dijalan," ucapku mengantar Liona didepan pintu.


"Jaga dia baik-baik, pengawal. Datang kemari membawa dalam keadaan utuh, maka dari itu bawa pulang harus utuh juga, mengerti!" pintaku.

__ADS_1


"Siip, Bos."


"Bagus. Bye ... bye, Liona!" Sikapku yang berusaha sok romantis.


"Emm. Bye juga."


Wajahnya yang sudah menghilang dari padangan, membuatku harus segera cepat-cepat masuk kedalam rumah kembali, untuk melihat perjanjian tadi beneran nyata atau tidak.


"Yes ... yes, akhirnya tercapai dengan mudah juga, hahahaha!" Kegembiraanku akibat berhasil.


"Aneh bener sih kamu, Bos. Apa tidak menyesal atas perjanjian itu? Gimana kalau nanti, malah membuat kalian akan terjebak?" tanya Cakra yang aneh.


"Justru aku hanya ingin menghindari cinta, yang bisa-bisa membuat kami terjebak. Apa tidak lihat, kami akan menikah akibat dijodohkan?" tanyaku balik.


"Aku tahu. Tapi perjanjian ini, takutnya malah menyesatkan kalian nanti," Arah pembicaraan Cakra yang membingungkan.


"Maksudnya menyesatkan gimana?" tanyaku yang tidak mengerti.


"Maksudnya, siapa tahu saja kalian itu akan tersesat cinta dan tidak akan bisa balik lagi, akibat sebuah perjanjian yang menurutku akan sangat-sangat merugikan," jelas Cakra.


"Kamu itu terlalu berpikiran sangat jauh sekali. Mana bisa aku jatuh cinta sama dia, yang padahal kita tidak mungkin akan saling mencintai. Lagian aku ogah juga jatuh cinta padanya," ungkapku.


"Heh, cinta itu bisa datang kapan saja dan dimanapun berada. Jadi jangan bilang tidak akan mungkin. Jika Tuhan menghendaki, pasti bisa-bisa kalian akan mulai jatuh cinta," kekuh Cakra.


"Iya ... iya, paham. Aku sekuat tenaga akan tetap mempertahankan benteng, agar tidak jatuh cinta padanya," ucapku mantap.


"Ok 'lah. Tapi kalau beneran bisa jatuh cinta gajiku dinaikkan lima kali lipat, gimana?" tantang Cakra mengesalkan.


"Hidiih, maunya. Mau nantang atau meras ini ceritanya," jawabku.


"Hahahaha, dua-duanya juga bisa."


"Dasar. Pria matre, dalam otak hanya uang saja," keluhku.


"Nah tahu 'pun. Dari dulu aku ini pria tampan yang membutuhkan modal, hahahha!" Gelak tawa Cakra lagi.


"Iiisssh, lama-lama otakku pecah gara-gara mikirin sekertaris yang model kayak gini."


"Aah, biasa aja kali, Bos."

__ADS_1


Memang sekertaris yang sengklek. Selalu saja ingin memeras bosnya sendiri, tapi berkat dia juga masalahku cepat selesai tanpa ada halangan.


Kertas yang menjadi hal penting dalam hidupku sekarang, sudah tersimpan rapi dibrankas tanpa ada satupun orang yang boleh tahu.


__ADS_2