Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Kesal akibat tidak dihargai


__ADS_3

Langkahnya terus berjalan perlahan-lahan, yang sepertinya akan membawaku ke kamar. Tatapan Arjuna terus saja mengarah ke wajahku dan itu membuat semakin bersemu tak karuan.


Seeeeeeeeeeer, jedhhhoook. Tanpa diduga kepalaku sudah terbentur dipintu kamar sendiri.


"Aaaaaaaaahhhhhhhhh!" teriak kami berdua kompak.


Bhuuuuugh, akibat tidak ada keseimbangan Arjuna mengendong, maka tubuh yang terasa terbang sekarang sudah jatuh limbung kasar dilantai.


"Aaaa ... aawww!" Tangan sudah meraba kepala sambil mengelus bagian yang sakit.


Arjuna juga sudah jatuh terduduk, yang mana posisi tubuhnya sekarang seperti bayi yang sedang merangkak.


"Hmmmph ... ha ... ha ...ha," Arjuna telah tersenyum puas.



Tanpa henti Arjuna tertawa puas, saat melihat keadaanku yang kesakitan. Rambut yang tergeraipun sudah menjadi acak-acakkan akibat ulahnya barusan.


"Ha ... ha ... ha," gelak tawanya yang kian menjadi-jadi.


Dia sudah membenahi tubuh dengan duduk yang benar.


"Arjuna." Teriakku sambil melototinya.


"Hahahahha."


"Diam kamu!" Terlunjuk mengarah kepadanya akibat kesal.


"Maafkan aku, Liona. He ... he ... he," Arjuna sudah memegang perutnya, sebab habis puas mentertawakanku.


"Hidih. Maaf ... maaf. Apa tidak tahu aku kesakitan begini."


"Mmpph ... mpphh," Mulut Arjuna sudah tertutup rapat berusaha menahan tawa, karena raut wajahku sudah melihat ke arahnya yang semakin mengebukan amarah.


"Jangan tertawa lagi, atau tangan ini akan melayang nanti," ancamku menggunakan kepalan tangan

__ADS_1


"Heheheh, maafkan aku, Liona!."


"Kamu gak pa-pa 'kan?" ucapnya yang sudah benar-benar berhenti tertawa.


"Ngak pa-pa, gimana! Apa tidak lihat kepala sama bawah pinggangku sakit banget ini."



"Iya ... iya, Maaf. Mari sini, kubantu!" Sodoran tangan Arjuna untuk membantuku berdiri.


"Maksudnya apa kamu kok membenturkan kepalaku ke pintu?" cakap menerima uluran tangannya, sambil netra menatap keseriusan untuk menyelidiki.


"Bukan apa-apa, Sih. Tadi cuma berniat hati ingin membawa kamu masuk kamar," jelasnya.


"Kenapa harus juga mengendong. 'Kan kamu bisa membangunkanku," ketus jawaban sambil tangan mengelus kepala.


Akibat hantaman kepala yang kena pintu, rasanya sedikit agak pusing dan ada benjolan.


"Bagaimana aku bisa membangunkanmu jika tidurmu saja begitu lelap. Pastinya tidak tega saja, saat kamu tidur tiba-tiba ingin dibangunkan paksa."


"Apakah yang dia katakan itu, benar? Tapi masih merasa curiga saja kenapa dia tadi mengangkat tubuhku sambil terus memandangi wajah ini? Mencurigakan sekali sikapnya itu!" Hati terus saja bertanya-tanya atas sikap Arjuna yang aneh.


"Kamu beneran tidak apa-apa 'kan?" tanyanya sudah memajukan langkah.


"Sedikit agak pusing."


"Sini, biar aku bantu mengelusnya."


"Eeiits, mau ngapain? Jaga jarak jangan dekat-dekat sebab bukan mukhrim," pinta yang kini memundurkan langkah.


"Ciiih, sok kacantikan. Kalau tidak mau ya sudah."


"Bukan gitu. Dalam perjanjian surat kita, tidak boleh saling terlalu dekat. Berbahaya!" ucapan mencoba mengingatkan.


"Hiilih, berbahaya apaan? Aku cuma ingin memeriksa kepala kamu saja tadi, apakah benar baik-baik saja atau sudah mengalami sakit parah contohnya gagar otak," ketusnya Arjuna berbicara.

__ADS_1


"Ooh, jadi membenturkan kepala tadi memang disengaja biar aku sakit gagar otak, gitu?" tuduhku.


"Ahh, sudahlah. Salah sangka melulu. 'Kan aku tadi memang ada niat berbaik hati ingin membawa ke dalam kamar, sebab kasihan melihat kamu yang tertidur meringkuk disofa akibat kedinginan," jelas Arjuna yang sepertinya tidak terima atas tuduhan.


"Emm, iya ... iya, Maaf!" Gantian diriku tak enak hati, karena menuduh yang enggak-enggak.


"Ok 'lah, dimaafkan. Lagian aku mungkin disini yang salah, sehingga membuat kepala kamu jadi terluka begitu."


"Iya ngak pa-pa, mungkin kamu tadi lagi tidak konsentrasi saja."


"Konsentrasi? Maksudnya apa? Kalau berbicara jangan asal tuduh saja," Suaranya yang nyolot kembali tidak suka atas tuduhan.


"Ya, mana aku tahu. Tidak mungkin kamu benar-benar bisa konsentrasi saat mengendong tadi, lihat buktinya 'kan? Sampai membuatku kejedok dan terjatuh," jawaban yang tidak mau mengalah.


"Hmmm ... emm."


Wajah Arjuna nampak clingukan, saat kata-kataku ada benarnya kalau dia memang sedang tidak konsentrasi, ketika terus saja fokus menatap wajahku tadi.


"Ya sudah, tidak usah banyak bicara. Kamu tidur sana! Ini sudah larut malam," suruhnya yang melihat jam tangan.


"Ok, 'lah. Tapi mau membereskan makan malam dulu yang sempat kumasak tadi," sewotnya jawaban sambil berlalu pergi melewati tubuhnya.


"Baiklah. Aku mau tidur duluan saja, sebab besok akan kembali bekerja pagi-pagi," pamitnya.


"Emm, silahkan."


Langkah terus saja melangkah lurus ke arah dapur. Wajah sudah bermuka masam, sebab kesal atas tindakan Arjuna sekarang. Bukannya ingin makan bersama malah dia main ingin tidur segera.


"Benar-benar manusia tidak peka. Seperti batu hanya bisa menatap saja," Mulut sudah ngomel-ngomel.


"Apa tidak lihat, jika aku sudah capek-capek memasak makanan tadi. Benar-benar orang yang tidak bisa menghargai kerja keras seseorang. Lain kali awas saja kalau minta dimasakkan makan malam, ogah banget dah!" Hati terus saja bergerutu sambil membuang semua lauk ke dalam tong sampah.


Muak sekali melihat kelakuan Arjuna ini. Sudah sekian jam membersihkan segala isi dalam rumahnya, tapi perjuangan memasak telah dianggapnya terlalu remeh. Perut yang lapar jadi kenyang terisi oleh rasa tidak senang.


"Kalau tahu begini, aku tidak akan memasak lagi. Haaaah, sudah capek ditambah tadi nunggu dia dalam keadaan lapar. Datang-datang bukannya menyuruh bangun untuk mengajak makan bareng, ee ... eee, malah membenturkan kepala dipintu. Benar-benar pria yang tidak ada akhlak. Patut saja semua keluarga membencinya, mungkin sikap dia yang terlalu acuh tak acuh dan tidak peka itu, membuat mereka ogah banget menghadapi sikapnya itu," rancau hati yang terus saja ada rasa dongkol sambil sibuk mencuci piring.

__ADS_1


Semua pekerjaan membereskan makanan dan mencuci piring akhirnya telah selesai. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ternyata sampai larut malam begini Arjuna tengah bekerja. Seharusnya walau lelah dalam bekerja, sedikit saja bisa menghargai diriku yang berusaha membuat dia nyaman dan tenang dirumah ini.


__ADS_2