
Hanya bersih-bersihlah yang kukerjakan, untuk membantu orangtua mengelola hotel. Sedangkan mereka kini terus disibukkan dengan aktifitas mengelola kebun dan sawah yang ada dikampung kami. Para pekerja yang sudah berpuluh tahun mengikuti usaha keluarga buyut kami, harus diperlakukan baik dan diberi upah yang sesuai mereka kerjakan.
Shet .. shet, dengan santai kini aku mengepel lantai.
"Haiist, main ngepel sembarangan. Apa ngak lihat lagi ada orang barusan mau lewat," keluh Jono.
"Kamu itu yang sembarangan lewat. Apa tak nampak aku sedang bekerja? Main nyolot sembarangan saja marah-marah sama orang," balik marahku tak senang.
"Habisnya ngepel ditengah-tengah orang mau lewat, 'kan masih banyak tempat contohnya disana. Untung saja aku yang lewat, coba saja kalau pelanggan lain, pasti akan lebih kena semprot kamu," cakapnya nyolot marah lagi.
"Ciih, yang punya hotel itu siapa? Kamu itu hanya tamu, kenapa usil banget jadi orang. Oh ya, aku mau ngepel di toilet, dikamar kamu, ataupun dimana saja itu hak dan urusanku, kenapa kamu yang jadi repot dan sok ngatur-ngatur segala. Hei Jono, hello ... hello, ingat status kamu sebagai tamu, ok! Dasar cowok rempong," hinaku tak mau mengalah.
"Iiih, sabar ... sabar, ini hanya cobaan kamu sementara disini Jono," cakapnya memelankan suara pada dirinya sendiri.
"Cobaan sementara apa maksudnya?" tanyaku yang merasa heran.
"Ngak ada apa-apa. Mau usil saja urusan orang. Bukan mau rempong, tapi kalau bisa itu membersihkan pagi-pagi saja, jadi tidak akan menganggu tamu yang akan lewat. Kalau siang-siang begini, tamu yang akan melewati jalan pintu utama, pasti akan terganggu dan biasanya mereka akan marah nanti. Kalau pelanggan sudah tak senang atas pelayanan disini, pasti hotel ini akan sepi dan para pelanggan itu tak mau kembali," jelas Jono.
"Iya ... iya, bawel amat sih jadi cowok!" keluhku.
"Apa yang kamu bilang tadi? Bawel? Jangan asal bicara kalau ngomong, aku banyak ngomong begini 'kan demi kebaikan hotel kamu juga," cakapnya yang terdengar memuakkan terus saja ceramah.
"Iya ... iya, Jono!" jawabku memberikan senyuman kecut, yang diiringi tangan masih sibuk mengepel.
__ADS_1
Saat tengah sibuk dengan pekerjaanku ngepel, entah mengapa aku jadi salah tingkah dan risih saja, saat Jono terus memperhatikan tubuhku yang sedang membungkuk melakukan pekerjaan.
"Kenapa si cupu kelihatan aneh begitu? Apa jangan-jangan dia itu lagi--?" guman hati yang berusaha menebak.
"Apa kamu lihat ... lihat? Jangan bilang kamu mulai mes*m melihat tubuhku," tebakku yang menangkupkan tangan diatas dada.
"Ciih, siapa juga yang memperhatikan tubuhmu," balasnya seperti nampak jijik.
"Lha, terus apa? Jangan bilang kamu akan berbuat macam-macam. Awas saja kalau beneran, pasti orang sekampung disini akan gebukkin kamu, hingga muka cupumu itu akan tambah hancur akibat bibir makin jontor, ha ... ha ... ha!" tuduhku yang sudah membayangkan wajahnya kalau tambah jelek.
"Haiist, benar-benar dah kamu ini. Kenapa sih bawaan pikirannya jelek melulu? Ucapanmu itu ternyata bisa pedes juga, ya! Lebih baik aku cupu, dari pada tubuhmu yang kerempeng kayak triplek itu, jika tertiup angin saja sudah oleng," balasnya mengejek.
"Wah ... wah, benar-benar mau balas dendam kamu, ya! Nih ... nih, rasakan ini! Byuuur," tanpa ampun lagi air kotor bekas mengepel langsung kuguyur ke tubuhnya.
Si cupu Jono langsung mengusap wajahnya dan membuka kacamata, untuk membersihkan wajahnya yang sudah kotor. Aku yang kesal langsung meninggalkan dia yang masih sibuk membersihkan diri. Itu balasan akibat sudah membuatku emosi.
"Kemana si Jono tadi, kenapa dia cepat amat pergi? Apa aku harus keluar sekarang? Tapi bagaimana jika dia nanti marah, akibat ulahku yang gegabah menyiramnya tadi?" rancau hati yang takut antara mau pergi dan tidak.
Kini wajah mencoba mengintip ke arah tempat pertengkaran adu mulut kami tadi, untuk mencoba membersihkan genangan air kotor yang sudah berantakan ada diubin keramik. Tanpa banyak kata, aku langsung meluncur ke tempat itu, untuk secepatnya membereskan supaya jika ada tamu tak malu atas kekotoran. Kini semua sudah beres membersihkan sisa air kotor, saat Jono sudah hilang entah kemana lagi dia.
"Sudah kamu membersihkannya?" Suara mengelegar seorang pria.
"Hhhah, bikin kaget saja kamu, Jono! Apa tidak bisa pelan-pelan menyapanya?" jawabku yang sudah mengelus-elus dada.
"Dipanggil begitu saja, kaget bener! Kayak sedang terkejut lihat hantu saja," keluhnya.
__ADS_1
Netra kini mencoba menelisik ke arah baju Jono, yang tanpa diduga dia begitu cepatnya ganti baju kaos berwarna hitam.
"Ya jelas kaget 'lah, sebab wajah kamu itu menakutkan," ketus jawabku.
"Benarkah? Bukannya kamu takut atas rasa salahmu akibat menyiramku tadi 'kan? Atau kamu takut aku marah kepadamu?' tebaknya.
"Enggak!" jawabku mengeraskan suara.
"Hmm, ok 'lah. Aku tadi bukan sengaja melihat tubuhmu, tapi hanya kagum saja sebagai pemilik hotel tapi membersihkan semuanya sendirian, tapi sayangnya pikiran kamu yang kotor membuat kamu malah menyiramku," jelasnya.
"Ya ampun, ternyata aku tadi salah sangka. Waduh, mati aku telah menyiramnya. Apa aku harus minta maaf kepadanya, tapi salah sendiri kenapa matanya jelalatan menatap tubuhku dengan cara aneh begitu tadi," guman hati yang menyesal.
"Sekarang lupakan masalah tadi, dan aku mau kamu menebus kesslahan tadi, dengan menjadi pemandu gratis mengajak jalan-jalan dikampung ini, kalau tidak yang pastinya kamu harus membayar kesalahanmu itu," ancamnya menyuruh.
"Kalau aku menolak, terus kamu mau apa?' ketusku menjawab.
"Yang jelas mendapatkan hukuman yang berat, contohnya mengembalikan uang pembayaran penuh hotel kemarin, sebab kamu telah memperlakukan pelanggan dengan tak baik," jelasnya yang menakutkan.
"Owh, jadi pakai ancaman segala ini? Namanya ini memanfaatkan situasi untuk mengambil keuntungan," keluhku tak suka.
"Biarkan saja, yang penting tak merugikanku. Jadi mau apa tidak mengantar? Atau mau ganti rugi?" tanyanya yang menjengkelkan.
"Iya ... iya, akan aku antar kamu sampai puas nanti," jawabku sudah dongkol.
__ADS_1
Dengan membawa rasa sebal, kini kuturuti saja kemauan si culun itu. Dengan berjalan pelan-pelan, kaki kini mencoba mengajak Jono keseluruh bagian keindahan kampung kami.