
Tidak senang saja melihat orang yang akan terikat padaku, telah berani-beraninya dekat dengan kakak tiri yang sangat aku benci, bahkan kalau bisa seumur hidup tidak mau mengenalnya.
Kalau bukan demi keluarga, ogah banget mengikuti drama mereka yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada keluarga kami.
Langkah sudah tergesa-gesa, tanpa peduli lagi jika Liona tidak bisa mengimbangi langkahku atau tidak.
"Lepas ... lepaskan aku, Arjuna!" pinta Liona.
Emosi yang mengusai jiwa, sampai tidak sadar kalau pergelangan tangannya telah tercengkram kuat olehku.
"Ayolah, Arjuna. Sakit sekali ini, kamu kuat banget menarik tanganku!" keluhnya merengek-rengek.
Mulutnya yang memekak telinga, membuatku seakan-akan murka ingin menelannya bulat-bulat.
Dengan kasar langsung kulepas tangannya, sambil membenturkan tubuhnya ke dekat mobil.
Brak, secara kasar kedua tangan kugebrak dimobil. Wajah sudah menatap tajam ke arah wajah Liona. Mata yang melotot membuat orang takut jika ada yang melihat, begitupun dengan Liona yang sudah beringsut menyembunyikan wajahnya karena takut.
"Apa yang kamu lakukan tadi?" tanyaku sinis.
"Apa kau senang diperlakukan begitu," Kekesalan hati ingin tahu apa yang diinginkan Liona.
"Bukan ... bukan itu, jangan salah sangka dulu kamu!" bantahnya sambil mengeleng-gelengkan kepala kasar.
"Salah sangka bagaimana? Disaat aku dengan jelas melihat, kalau kamu begitu menikmati moment indah bersama kakak tiriku itu," ucapku tidak mau mengalah.
"Sikap kamu saja keterlaluan kayak gini, bagaimana aku bisa menjelaskan dengan jujur dan benar."
"Patut aku melakukan ini, sebab semua orang tahu kalau kamu akan jadi milikku. Apa tidak malu jika orang lain sampai tahu, saat istri Arjuna sang pengusaha besar sudah main gila sama saudaranya sendiri."
"Hadeh, apaan sih. Aku tidak main gila sama saudara kamu itu. Sudah berapa kali aku menjelaskan, tapi kamu masih saja ngotot kalau kami ada apa-apanya, jadi mau menjelaskan bagaimanapun tetap tidak akan bisa memuaskan dirimu yang lagi emosi ini."
"Eghkem ... hemm."
Dasi yang terasa mencekik leher sudah kucoba longgarkan, agar bisa menghirup udara segar saat nafas terasa sesak akibat dikuasai kemarahan.
"Sudah, masuk mobil sana! Akan aku antar kamu pulang."
Karena kesal maka kusuruh Liona membuka pintu sendiri, sedangkan aku melangkah tergesa-gesa mengintari mobil.
Bhug, mobil sudah kututup dan segera memasang sabuk pengaman.
Mencoba melirik sebentar ke arah Liona, yang kelihatan memasang wajah cemberut dengan tangan sedang bersedekap didepan dada.
__ADS_1
"Jangan tidak pasang sabuk pengaman begitu. Apa mau celaka!" ketusku memperingatkan.
Klik, dengan bibir monyong Liona sudah memasang apa yang barusan aku suruh.
"Apa kamu benar-benar tidak sengaja tadi?" ucapku mencoba mengungkit kembali.
"Terserah."
"Hmm."
"Kamu itu orang baru yang tidak tahu kisah garis keturunan keluargaku, jadi harus lebih hati-hati jangan sampai kamu terlibat lebih dalam tentang masalah kami."
Tidak ada simbatan ucapan lagi dari Liona, yang sepertinya tidak suka dan sedang kesal atas tuduhanku yang bertubi-tubi.
"Kamu pasti sudah tahu kalau Kenzo adalah keluarga tiri, maka dari itu aku tidak suka sama sifatnya. Apalangi sama ibunya itu, sudah seperti wanita jal*ng yang selalu saja bersembunyi dibawah ketiak papa. Mama tiap hari selalu menahan airmatanya dengan menyembunyikan kesedihan dan aku tahu itu, makanya sampai sekarang masih tidak terima kalau mereka sudah sah menjadi anggota keluarga walau status masih tiri," jelas panjang lebarku agar Liona mengerti.
Wajah Liona sudah menatap kearahku, yang sedang fokus melihat arah jalanan. Dari raut wajah dia bisa merasakan kesedihan yang kurasakan, walau hanya mendengarkan cerita dari mulut saja.
"Tapi kelihatannya mereka orang baik," Akhirnya Liona buka mulut.
"Kamu jangan tertipu sama topeng mereka. Kalaupun baik tidak mungkin akan setega itu merebut Papa, sedang tahu kalau beliau sudah mempunyai istri dan anak, tapi mengapa malah si jal*ng itu masih ngikut papa, bahkan dengan beraninya minta dibuatkan rumah dekat kediaman kami," ungkapku saat mengenang masa lalu.
"Aku bisa merasakan kepedihan itu, tapi apakah itu tidak bisa dimaafkan yang sementara kejadian itu sudah lama?" Polosnya Liona bertanya.
"Tidak bisa."
"Iya juga sih. Tapi bukankah Tuhan maha memaafkan semua umatnya."
"Aku tahu. Aku sudah memaafkan kelakuan mereka, tapi perasaan hati tidak bisa dibohongi yaitu terasa masih menganjal. Tidak suka saja sama drama dan sikap mereka, yang selalu saja mencari masalah ataupun perhatian. Kamu lihat sendiri apa yang dilakukan Kenzo sama kamu tadi, 'kan?" ujarku mencoba menenangkan emosi pada diri sendiri.
"Emm, sangat tahu. Berarti kamu sudah tenang dan percaya 'kan kalau aku disini tidak bersalah sepenuhnya."
"Emm, tapi kamu juga yang terlalu genit menanggapinya."
"Iih, mana ada. Dia sendiri yang dekat-dekat tadi. Waktu mau menghindari Kenzo tadi, malahan dia kurang ajar menarik tanganku sehingga tidak seimbang jatuh dipangkuannya."
"Kalau begitu harus lebih hati-hati sama dia nanti, jangan sampai kamu terjebak sama dia."
"Oklah, sipp."
Tanpa terasa obrolan telah membawa kami sampai ke tempat tujuan. Perlahan-lahan mobil mulai memasukki area perkarangan rumah orangtua Liona.
Diperkampungan ini kelihatan sudah sepi, walau jam masih menunjukkan di angka sembilan. Gelap gulita dalam keheningan malam, hanya tersisa suara jangkrik yang saling bersautan menyanyikan suara merdu mereka.
"Apa tidak mau mampir ke rumah dulu?" tanya Liona.
"Tidak usah. Ini sudah malam, takutnya nanti sampai rumah akan semakin larut," tolakku secara halus sambil melihat jam tangan.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu aku masuk ke dalam rumah dulu," pamitnya yang akan melangkah pergi.
"Haiist, apakah begini caramu tidak sopan sama orang lain?" Kekesalanku berkata, yang sekarang sudah berhasil menghentikan langkah Liona.
"Hah, apa maksudnya?."
Tangan sudah kujulurkan agak terpatah mengarah ke bawah.
"Apa'an?" Kebingungan Liona.
"Apa tidak lihat aku lagi ngapain ini?" ketusku manja.
"Tahu, sedang mengulurkan tangan."
"Hadeh. Terlalu polos atau memang pura-pura bod*h, sih."
"Iya, ada apa dengan tangan kamu. Sedang terluka 'kah?" tanya kepolosannya lagi yang membuat kesal saja.
"Haaiich. Telapak tanganku minta kamu salami alias cium."
"Oooohhhhh."
"Ooh ... ooh, dasar tidak peka. Belum terikat saja sudah tidak sopan, gimana kalau sudah kejadian beneran sama pernikahan itu."
"Mulai sekarang harus dibiasakan, biar nanti kelihatan romantis didepan orang. Walau kita menikah hanya dalam kepura-puraan," suruhku yang kini tangan punggung sudah dicium takzim oleh Liona.
"Iya ... iya, abangku sayang."
"Idih, gelay aku dengarnya."
"Iih, bawel amat sih kayak emak-emak."
"Ya sudah kutarik kata-kata tadi, jadi Arjuna kutu k*mpr*t," candanya yang makin kejam memanggil.
"Hadeh, makin tidak ada sopan-sopannya, sih."
"Ini salah itu salah. Terus maunya apa? Panggil om 'kah?" Perdebatan yang masih berlanjut.
"Enggak gitu juga kali."
"Yang romantis dan hormat sedikit kenapa! Arjuna yang tampan atau manis gitu," cakapku mencoba merayu sambil menaik-naikkan alis.
"Iiiish ... issh, terlalu lebay. Sudah, aku mau masuk rumah."
"Hmm, bye ... bye."
"Ok, bye ... bye."
__ADS_1
Ternyata susah juga untuk mendapatkan perhatian Liona, yang berarti aku harus ekstra lebih mengarahkan tenaga, agar dia bisa nurut dan tidak banyak tingkah. Takutnya kalau salah tingkah saja, bisa brabe sama perjajian awal kami yaitu hanya pura-pura.