Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Hari menyebalkan


__ADS_3

Ketika seseorang diam pasti banyak menyimpan teka-teki, kalau tidak sedang ngambek mungkin memang malas bicara. Setelah dua hari dirawat dirumah sakit, sekarang Arjuna diperbolehkan pulang. Cakra yang mengantarkan kami untuk pulang ke apartement.



Tidak banyak bicara diantara kami berdua. Sampai Cakra berkali-kali melirik ke arah kami, seakan-akan tahu jika ada yang tidak beres. Wajah Arjuna hanya menatap fokus ke arah pemandagan luar mobil. Akupun juga begitu, sebab malas juga melayani sikapnya yang bagiku terlalu kekanak-kanakkan, akibat masalah tak bisa menuruti bertemunya bibir kemarin.


"Hhh, apa salahku coba? Masak gara-gara itu, dia sekarang diam amat? Benar-benar big baby yang minta disayang."


"Ya sudahlah, mungkin untuk sementara lebih baik kami memang saling berdiaman, daripada nanti berdebat hanya gara-gara masalah sepele saja."


Tidak banyak barang yang dibawa. Hanya tas persegi kecil yang muat untuk tempat baju saja. Sekarang mulai kujinjing untuk masuk ke dalam kediaman kami. Cakra mencoba menuntun suami yang masih lemah untuk berjalan.


Sesampainya dilift kami bertiga tetap saling berdiaman. Suasana yang aneh dan bikin kesel saja. Mau mulai pembicaraan, takut saja kalau Arjuna akan menyimbat dengan ketus.


Berjalan duluan yang telah kulakukan, untuk sekedar menunggu mereka sepertinya akan memperlambat waktu, ketika ingin segera menyiapkan makan siang. Kode rumah telah tertekan begitu kuat. Kesal yang merajai jiwa, telah memgorbankan tombol kode rumah untuk disalahkan.


Langsung saja menuju kamar Arjuna, agar segera merapikan tempat tidur, supaya dia secepatnya bisa beristirahat sebab keadaan masih lemah. Sprei berusaha tertarik sama agar bisa rapi. Bantal berkali-kali kutepuk supaya isi kapuknya rata, tidak tinggi sebelah.



"Kamu istirahat saja, Bos!" ucap Cakra sudah sampai mengantar Arjuna.


"Hemm."


Aku hanya bisa menepi sedikit, memberi jalan mereka supaya Arjuna segera berbaring dikasur. Selimut sebatas perut sudah dirapikan Cakra.


"Kalau butuh apa-apa nanti panggil saja."


Krik ... krik hanya suara jangkrik yang menjawab.


Bagaikan ngomong sama patung, ucapan diacuhkan tanpa sedikit menjawab.


"Iya, Liona. Kamu boleh mengerjakan hal lain, biar aku temani bos disini sebentar!" jawab Cakra.

__ADS_1



"Ok, makasih atas pengertiannya. Bukan kayak orang yang berubah jadi manusia batu," singgungku sambil berlalu pergi ingin keluar kamar.


"Hei, siapa yang kamu bilang itu!" teriak Arjuna tidak terima.


"Haisst!" Suara Cakra kelihatan tidak suka.


Walau sedikit menjauh dari posisi mereka, tapi masih bisa tahu sedikit suara mereka sedang berbicara pelan


"Pikir saja sendiri!" ketus berkata.


Brok, pintu kubanting.


Dengan kuat kaki kehentakkan. Rasanya kaki sudah gatal untuk menyepak mulut si Arjuna.


"Dasar. Dia yang berulah masak dia juga yang marah. Awas saja kalau sampai nanti tetap tidak mau bicara. Tobat, untuk memasakkan kamu makanan. Tidak peduli kalau kamu lagi sakit atau terkapar kelaparan sekalipun, yang terpenting ogah banget ngasih makanan sama orang kayak batu," guman hati yang ngomel-ngomel.


Didapur mencoba memasak untuk Arjuna dan Cakra. Mereka pasti kelaparan sebab dari pagi-pagi sekali kami sudah siap-siap untuk pulang, dan parahnya belum sempat ada sesuap nasi yang masuk.


"Hahahaha, bagus kalau kamu seperti sayur ini, babak belur kuhajar sampai tidak berbantuk lagi. Bahkan kelembutannya menandakan kalau akhirnya aku mengalahkanmu," Kegembiraan sedang membayangkan.


Tangan dengan cekatan mulai panik memasak, dikarenakan Cakra sempat ingin pamit pulang tapi aku cegah dulu agar mau makan. Masakan sudah sebagian terhidang, jadi sayang sekali kalau dia langsung pulang tanpa mencicipi masakan lagi.


Setelah berkejaran dengan waktu dan bermandikan keringat, akhirnya semua sudah siap dan segera menyuruh Cakra makan.


"Makanlah dulu. Semua sudah terhidang tuh!" suruhku saat Cakra santai menonton televisi.


"Oh, iya. Terima kasih."


Televisi langsung dimatikan. Cakra sudah berjalan dibelakang, yang sedikit jauh dari posisiku. Kursi tertarik untuk menemani dia makan.


"Terima kasih, sudah repot-repot masak. Padahal ini tidak perlu, sebab aku bisa makan diluar."

__ADS_1


"Iya sama-sama. Tidak apa-apa. Santai saja. Anggap saja ini rasa terima kasihku sebab sudah membantu dan menjaga Arjuna."


"Oh, masalah itu sudah jadi kewajibanku sebagai bawahan dan teman setia."


"Iya juga sih. Tapi tetap harus berterima kasih."


"Em, sama-sama."


Kami berdua begitu menikmati makanan yang ala kadarnya. Walau sederhana, kelihatan sekali Cakra suka dan senang, saat nampak dia begitu lahap dan minta dibubuhkan lagi nasinya.


"Si bos kamu, apa dia tidak ingin makan?" tanya penasaran.


"Mungkin saat ini belum. Katanya tadi ngantuk dan ingin istirahat."


"Oh."


"Ya sudah biarkan saja 'lah. Kalau kelaparan dia juga nanti yang tersiksa. Salah sendiri siapa suruh ngambek."


"Hhh, ada masalah apa lagi diantara kalian?" Cakra memberi pertanyaan dengan tatapan serius ke arahku.


"Hanya masalah sepele saja, sih! Tapi sayangnya sifat dia kekanak-kanakkan. Hal kecil bisa diperbesar."


"Kamu yang sabar. Bos kalau tidak suka sama suatu hal, pasti sikapnya berubah dratis kayak gitu bagaikan anak kecil."


"Wah, benarkah itu? Repot juga berarti."


"Hm, makanya kamu harus banyak bersabar menghadapi sikapnya itu. Apabila sedang marah besar, kalau bisa kamu lebih baik menepi dulu, karena kalau tidak kita juga bakalan kena imbasnya. Aku cukup mengenal dia waktu kuliah dulu, jadi boleh dikatakan tahu mana yang boleh, disukai, ataupun yang dia benci sekalipun. Kalau menyayangi orangpun, dia akan selamanya menyayangi bahkan bisa seratus kali lipat membalas menyayangi. Bos, orangnya suka sama orang yang baik dan tidak banyak membangkang sama dia. Kalau ada orang yang berulah sama dia, pasti tidak akan diberi ampun." Cakra menjelaskan.


"Wah, terima kasih kasih infonya. Cukup paham juga mulai sekarang."


"Baguslah. Semoga kalian menjadi pasangan yang akan terus bahagia dan harmonis, tanpa harus mengedepankan ego masing-masing."


"Amin. Iya. Makasih atas nasehatnya."

__ADS_1


"Sama-sama."


Sendok terus berdenting, tanda kami berdua masih saja sibuk menghabiskan makanan yang tersedia.


__ADS_2