Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Kebahagiaannya


__ADS_3

Wajah terus saja kututupi memakai selimut, menyembunyikan wajah yang kacau akibat tangisan.


"Kamu menangis?" Arjuna bertanya.


Tidak serta merta kujawab. Wajah terus saja terbenamkan dalam selimut tebal.


Tangan Arjuna sudah menarik kuat agar terbuka. Cukup malu juga jika ketahuan cenggeng. Rasanya nyesak saja jika kedua kali menolak atas permintaannya, padahal kami telah sah menjadi sepasang suami istri.


Ranjang terasa bergoyang. Tidak menyangka jika bau tubuhnya yang harum sudah menguar kental didekat hidungku.


"Buka tanganmu," Suruhnya.


Kepala hanya mengeleng-geleng keras.


"Bukalah." Paksanya.


Berhasil memperlihatkan semua. Wajah seketika berpaling, tidak ingin dia melihatnya.



"Jangan cengeng seperti anak kecil. Maaf, mungkin disinilah aku yang sudah salah," Tangan lebarnya sudah mengelus pelan pipi, yang ada aliran airmata.


"Kamu tidak salah, kok. Aku yang salah sebab tidak bisa mewujudkan semua permintaan kamu," Berbicara sambil terisak.


"Sudah ... sudah, tidak usah dibahas lagi. Ini hari penting untukku, seharusnya kita berbahagia untuk merayakannya." Sikap Arjuna begitu tak terduga, dengan memeluk erat tubuh ini.


"Tapi--!"


"Sudah. Ayo kita keluar, kita rayakan yang sudah kamu siapkan semua." Arjuna berusaha membantuku untuk bangun dan terduduk dari tempat tidur.


Dengan rasa malas ikut saja apa yang disuruh Arjuna. Wajahnya menatap serius agar diriku bisa bangkit segera.


"Ayolah. Apa perlu aku gendong biar tidak lelet bangun," Godanya sudah berdiri tegak menungguku.


"Hehehe, tidak usah. Kakiku masih sehat untuk berjalan."


"Ya, maka dari itu. Ayo kita ke ruangan depan. Tidak sabar aku ingin merayakannya." Arjuna nampak bahagia dan antusias sekali.

__ADS_1


"Hmm, ayolah."


Dengan semangat empat lima ingin ikut merasakan. Rasanya bahagia jika usaha kita dihargai. Rasa lelah menghias semua ruangan akhirnya membuahkan hasil.


Nampak romantis disekeliling ruangan. Mungkin akan terlihat aneh, jika seorang perempuam memberikan kejutan romantis, tapi demi menghargai dan membuat Arjuna tak marah lagi haruslah berusaha keras dan tak malu.


Tatapannya terus menyapu ke seluruh ruangan. Sampai duduk dimeja makan saja terbentur.


"Jangan dilihatin terus begitu. Nampak jelek 'kan?" Merendahkan diri.


"Tidak juga. Malah ini sangat ... sangat super sekali. Aku suka dan senang. Selama beberapa tahun tidak ada orang yang ingat akan hari kelahiranku. Paling-paling Cakra dan Sonia yang ingat, namun kami tidak merayakannya dengan meriah seperti ini."


Wajahnya yang semula ada puncak kebahagiaan, kini ada kesedihan yang terukir sendu.


"Maksudnya?" Gagal paham.


"Hehhh, kami bertiga selalu merayakan dengan makan-makan direstoran saja."


"Oh, berarti ini adalah hari yang terindah."


"Tentu saja. Istriku ternyata memang baik dan pandai," Tangan jahilnya sudah menarik hidung.



"Heeheh, maaf. Sebab terlalu gemas sama kamu."


"Gemas sih gemas, tapi tidak harus menarik kuat begitu. 'Kan jadi memerah gini," jawaban yang tak suka.


"Sini ... sini, biar sembuh. Akan aku obati."


Arjuna menyuruh badanku membungkuk ke depan, agar bisa lebih dekat dengannya.


"Mau ngapain? Entar, tambah ditarik."



"Enggak, kok. Pokoknya kesini sebentar."

__ADS_1


"Awas kalau bohong. Getok pakai ini?" Centong nasi sudah kuangkat.


"Hihihi, kejamnya sama suami sendiri."


"Biarlah. 'Kan kamu duluan yang mulai dan salah."


"Iya ... ya, tidak akan menarik lagi hidung kamu."


Dengan karaguan berusaha menuruti permintaan. Perlahan-lahan mulai mendekat.


Cup, secepat kilat Arjuna sudah mendaratkan ciuman dipipi. Wajah tiba-tiba bersemu merah dan sedikit kepanasan.


"Kenapa jadi gerah begini, ya!" Sikap yang pura-pura tak merasakan.


Tangan mengibas-ngibaskan dekat leher, agar rasa panasnya cepat mereda.


"Dih, masak kena hadiah dariku saja sampai suhu tubuh kamu naik jadi panas begitu."


"Enggak!" Dengan lantang menjawab.


"Ngeles. Bilang saja akulah cowok pertama yang berhasil membob*l bibir dan pipi kamu."


"Ya elah, percaya diri amat. Enggak juga gitu kali."


"Serius nih! Wajah kamu mengisyaratkan tidak bisa berbohong lho itu."



"Tahu ah." Sewot ingin berusaha melenggang pergi.


"Ehh, mau kemana?" cegahnya.


"Mau kembali ke kamar."


"Jangan marah gitu 'lah. Tadi aku cuma bercanda. Maaf ya! sekarang kita teruskan kebahagiaan ini dengan menyalakan lilin dan memotong kue."


"Hmm, baiklah. Ya sudah kita rayakan."

__ADS_1


Akhirnya mengalah juga. Kue sudah dihidupkan lilinya. Sebelum ditiup kami menutup mata masing-masing dengan kedua tangan menengadah ke atas, untuk memanjatkan doa untuk hubungan kami berdua dan keberkahan buat Arjuna.


Ternyata saling mengerti dan memaafkan, akan membuat hubungan kami jadi akrab. Kadang sikap Arjuna yang arogan tidak bisa kuimbangi, makanya terjadi sedikit perselisihan diantara kami. Lagian setiap berdebat tidak ada yang mau mengalah, makanya hubungan akan semakin runyam dan saling berdiaman.


__ADS_2