
Arjuna yang tidak pantang menyerah, kini harus pasrah saat musibah cinta dan kekuasaan berhasil mengalahkan kesombongan yang sempat terjadi. Wajah kembali berubah memakai kaca mata besar, dan rambut sedikit dibuat acak-acakkan dan berponi. Demi meraih cinta, terpaksa berubah menjadi culun lagi.
"Mungkin dengan menjadi Arjuna aku tidak bisa meraihmu, Liona. Tapi dengan merubah wujud sebagai Jono yang culun bisa mendapatkanmu lagi. Kau sungguh berarti untukku, maka dari itu tidak mau kehilangan kamu," Bathin yang terus tersiksa atas kesalahan.
Tas berisikan pakaian untuk beberapa hari membuat punggung sedikit pegal, akibat banyak yang terbawa untuk berjaga-jaga jika tidak bisa membujuk Liona lagi. Banyak harapan yang terbayang. Yang lebih utama agar wanitaku itu bisa kembali ke dalam pelukan lagi.
"Permisi, Pak! Saya mau pesan kamar satu," izinku pada mertua.
"Oh tentu saja."
Tangan sibuk mencatat nama dan tanda pengenal yang sebelumnya telah kusamarkan. "Em, kayaknya aku tidak asing lagi sama wajah kamu deh!"
Pena yang sebelumnya dibuat menulis, sekarang ditaruh didagu dengan wajah sedang berpikir keras.
"Duh, semoga saja mertua tetap tidak tahu jika aku ini adalah menantunya," Kegrogian jika terbongkar.
"Masak sih, Pak. Mungkin ketika saya dulu pernah menginap disini lama."
"Iya, sih. Kayaknya memang begitu."
"Hehe, mungkin saja."
"Ah, sudahlah. Yang penting sekarang, semoga kamu bisa betah dan menikmati pelayanan kami dengan baik."
Tangan menerima tanda pengenal yang sudah dikembalikan. "Tentu saja, Pak. Terima kasih."
__ADS_1
"Ok. Mari aku antarkan."
Dengan senang hati segera menerima tawaran mertua. Pikiran yang berat membuat langkah melemah. Gairah hidup sudah pudar. Tidak ada semangat lagi menjalani semua, saat orang yang menjadi tambatan hati jauh.
Dari jauh nampak Liona sedang kesusahan membawa ember dengan sapu pelnya. Berpapasan langsung dengannya. Habis dia tidak fokus, sampat tidak melihat diriku dan mertua sudah berjalan bersimpangan dengannya.
"Ya Tuhan, separah inikah Liona memikirkan masalah ini? Wajahnya sungguh kacau. Aku harus bisa mengembalikan keceriaan kamu lagi. Takkan kubiarkan senyuman itu hilang," Hati yang sedih melihatnya.
Mertua mengantar sampai depan pintu. Tas langsung kulempar dipembaringan. Badan kubanting, hingga pantulan kasurnya terasa. Wajah menerawang atas langit-langit. Wajah Liona yang sendu membuat pikiran kacau lagi.
Kejam? Itu kata yang pantas tersemat untukku. Sebagai suami seharusnya melindungi bukan menyakiti, dan itu berarti sangat gagal menjaga rumah tangga dengan baik. Kejadian terlalu cepat, hingga tidak bisa dipikir dengan nalar jernih lagi.
"Kenapa aku bisa tidur dengan Sonia, ya?" Pikiran mulai kebuka kembali untuk mengingat kejadian kemarin.
"Salahnya kenapa mengikuti ajakan Sonia dan teman-teman untuk minum. Setelah itu apa ya? Duh, kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali. Pasti efek terlalu mabuk berat, hingga tidak sadar kalau sudah dijebak."
Pusing mukai mendera, saat tak ada secercah jalan untuk mengingat semua. Kecewa berat rasanya. Sonia sudah kuanggap keluarga sendiri, tapi cintanya itu telah mengalahkan segalanya.
Bangkit dan terduduk. Membuka tas untuk mengambil gawai. Menekan angka agar bisa tersambung dengan Cakra.
[Hallo. Iya, ada apa bos?]
[Gimana? Ada perkembangan tidak?]
[Belum ada. Masih sama. Sangat sulit, untuk membujuk pihak hotel agae bisa memberikan semua rekaman, sebab itu rahasia pihak hotel dan tidak boleh tersebar sembarangan]
__ADS_1
[Atur segalanya agar kita bisa dapat bukti kuat. Kalau masih tidak diberikan kasih uang]
[Baik, Bos. Pasti akan aku usahakan sampai dapat]
[Baguslah. Kalau masalah perusahaan kamu jangan lengah untuk mengawasi Kenzo juga]
[Kalau itu aman. Ada beberapa orang kepercayaan kifa untuk ikut mengawasi juga sebab kalau aku sedang sibuk diluar biar kita tidak ketinggalan informasi]
[Bagus. Aku suka caramu]
[Siapa dulu, Cakra gitu loh. Selalu bisa diandalkan dan mengerjakan semuanya]
Kesombongan yang minta ditabok, tapi wajar sih saat memang ada kenyataan kalau dia serba bisa diandalkan.
[Dih, memuji diri sendiri. Pd amat kamu]
[Ya, haruslah. Kan memang serba bisa]
[Bukan serba bisa tapi suka serba serbu ngibulin cewek]
[Hihi, bos bisa saja. Anda terlalu benar membuka kartu orang]
[Sudah ... sudah, jangan sampai lengah sama tugas kamu]
[Ok, komandan. Bos juga harus semangat bawa kembali nyonya besar Arjuna]
[Hm]
__ADS_1
Gawai terputusnya sambungan. Hanya bisa berangan atas harapan. Semoga keberuntungan selalu menyertai orang yang tidak salah sepertiku.