
Shet ... shet, tangan masih saja sibuk mengelap beberapa lantai. Mulai dari ruang tamu sampai beberapa kamar kosong sudah beres dibersihkan. Tanpa seizin tuan rumah, maka tidak berani untuk memasuki kamar pribadinya.
Sesuai perintahnya kini beberapa pajangan foto di dinding dan guci sudah kulap menggunakan kain. Agar tambah kinclong dan bersih, mulut mencoba meniup-niup barang yang kini kubersihkan.
"Aah, banyak sekali pekerjaan yang belum selesai. Benar-benar capek banget ini. Dasar Arjuna ini, sudah tahu aku lelah diacara kemarin, ini malah disuruh mengerjakan ini itu," keluh hati kelelahan.
Peluh keringat yang menetes, kusapu dengan kain yang bertengger dileher. Hawa dingin ac tidak mempan sama sekali mengenai badan. Rasanya ungkep sekali di tempat apartemen ini, dibandingkan dikampung yang sejuk walau panas matahari menyengat sekalipun.
Sekian menit dan jam telah berlalu. Pekerjaan yang membersihkan bolak balik ke kanan kiri, akhirnya selesai juga setelah sekian lama bergelut dan menguras tenaga.
"Tanpa terasa sekarang sudah sore. Aku harus masak sekarang sebelum si berekokok itu ngomel-ngomel lagi," ucapan pada diri sendiri, setelah melihat jam menunjukkan pukul setengah lima.
Ingin mengejar waktu dengan cepat, sayuran dalam kulkas sudah kukeluarkan semua. Tangan mulai lihai mengiris-iris beberapa bahan yang ingin dihidangkan nanti. Biar cepat tersaji mencoba memasak ala tumisan, sebab kalau berkuah pasti akan lama menunggu saat merebus bahan-bahan.
Lidah mulai mencicipi satu persatu makanan yang mulai kumasak. Asap yang mengepul dari masakan tetap kuhantam untuk merasakannya. Biar rasa nanti lebih enak dan bila kurang sesuatu bisa kutambah bumbunya.
"Yes, akhirnya makanan mulai siap satu persatu!" Kegembiraan hati saat melihat tiga hidangan sudah matang.
"Semoga saja Arjuna tidak akan pulang dengan cepat, sehingga aku bisa ada waktu untuk memasak yang lainnya," guman hati yang berharap.
"Tapi ngomong-ngomong kapan ya Arjuna akan pulang? Aah, biarkan saja jam berapa dia nanti akan pulang, yang penting aku masakkan dulu sebelum ocehan mulutnya nanti keluar."
Tangan masih saja sibuk memasak yang lain. Rasa pegal dikaki tidak kuhiraukan, yang terpenting sekarang menyiapkan segalanya tepat waktu.
__ADS_1
Waktu terus saja bergulir dan persiapanpun sudah selesai. Semua sudah tersedia, bahkan sendok, gelas, dan juga piring. Akibat lelah maka aku mencoba membersihkan diri dulu, rasanya bau keringat mulai tercium pada diri sendiri.
"Aku harus mandi sekarang!" ucapku tergesa-gesa.
Untung saja Arjuna dengan cekatan ada pemikiran membelikan stok baju banyak-banyak, sehingga aku bisa dengan mudah bergonta-ganti.
"Semua ukuran baju sekarang pas sekali dibadanku. Tuh orang tahu darimana semua ukuran ini?" Hati bertanya-tanya.
Badan sudah memutar-mutar ke kiri kanan, untuk melihat tubuh yang sekarang nampak perfeck.
******
Jam di dinding terus saja bergerak dan sudah ada suara kumandang adzan mangrib. Kulaksanakan kewajiban itu dengan khusyuk.
"Kenapa Arjuna jam segini belum pulang? Apa memang dia bekerja selalu pulang larut begini?" rancau hati yang sedikit gelisah.
"Seharusnya kalau bekerja malam begini beri tahu dulu, jangan membuat orang capek-capek untuk memasak makanan," keluh yang terus saja ngomel-ngomel.
Sambil menunggu orang yang membuat hati dongkol sekarang. Aku menenangkan kekesalan dengan menyalakan telivisi berlayar besar dan lebar didekat ruang tamu.
Berkali-kali netra terus saja melirik ke ke arah jarum jam di dinding, namun tubuh Arjuna belum juga datang ke rumah.
"Huuff, sabar ... sabar!" Hembusan nafas mencoba menangkan diri sendiri.
__ADS_1
"Apa aku harus makan duluan, ya!" Tangan sudah meraba-raba perut yang mulai keroncongan, akibat cacing-cacing dalam perut minta diisi oleh makanan.
"Tapi ... tapi, kalau aku makan duluan nanti dikatain Arjuna tidak sopan, sebab tidak menunggu dia dulu yang sementara dia adalah pemilik rumah," Keraguan hati.
"Aah, tunggu sebentar saja kali. Siapa tahu Arjuna sebentar lagi akan pulang."
Akhirnya keputusan adalah menunggu pulang. Netra terus saja fokus menatap layar telivisi. Tapi lama kelamaan mata terasa berat sekali, diriingi mulut terus saja menguap. Kepala mencoba kusandarkan disofa. Rasanya sudah tidak tahan saja untuk segera memejamkan mata.
Kubiarkan saja telivisi menyala terus. Netra rasanya sudah tersihir agar aku bisa tertidur lelap, sebab kemungkinan akibat kecapek'an membersihkan tadi membuat tubuh harus istirahat duluan.
Sudah beberapa bayangan kejadian mimpi terus saja terjadi, sampai-sampai tubuh terasa sedang melayang diudara. Rasanya nyaman sekali bagaikan sedang terbang diawan.
"Aah, enak sekali terbang begini disaat tidur. Tapi--? Kenapa baunya seperti aroma minyak wangi yang dipakai Arjuna?" guman hati yang sudah merasa aneh.
Merasa terganggu yang kurasakan, membuat netra yang nyaman akibat terpejam, sekarang mencoba perlahan-lahan terbuka untuk mengintip.
"Astaga, ini benaran Arjuna? Apa yang dia lakukan? Tunggu ... tunggu, bukankah aku sekarang sedang merasa terbang?."
"Aah, sial. Kenapa Arjuna mengendongku sekarang? Mana dia menatap wajahku dengan seksama begini. Jantung oh jantung, jangan kau bergetar dahsyat begini, bisa mati jika sekarang ketahuan sedang deg-degkan akibat sikap Arjuna sekarang," guman hati yang panik.
Langkahnya terus berjalan perlahan-lahan, yang sepertinya akan membawaku ke kamar. Tatapan Arjuna terus saja mengarah ke wajahku dan itu membuat semakin bersemu tak karuan.
Seeeeeeeeeeer, jedhhhoook. Tanpa diduga kepalaku sudah terbentur dipintu kamar sendiri.
__ADS_1
"Aaaaaaaaahhhhhhhhh!" teriak kami berdua kompak.
Bhuuuuugh, akibat tidak ada keseimbangan Arjuna mengendong, maka tubuh yang terasa terbang sekarang sudah jatuh limbung kasar dilantai.