Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Adu pembicaraan


__ADS_3

Lama mencari dari lorong ke lorong hotel, sampai pada akhirnya aku dikejutkan oleh suara Liona yang sedang bercengkrama riang dengan seorang pria.


Kepala berusaha menyembul untuk mengintip dibalik tembok, namun sayangnya tidak kelihatan siapakah yang sedang berbicara dengan Liona diteras samping hotel. Dari poster tubuh seperti Kenzo, tapi aku harus memastikan apakah itu benar-benar dia atau bukan.


"Eghem ... hemmm!" Dehemanku mendekati mereka.


Kedua tangan sudah kutaruh dibelakang badan seperti sedang diikat. Dengan santai aku mencoba berjalan melewati mereka. Wajah Liona sudah menatapku penuh keheranan.


Ternyata dugaan benar kalau yang diajak bicara adalah Kenzo, dan sekarang wajahnya berkerut seperti melihat diriku ini sebagai hantu saja.


"Wah, kalian asyik benar ya ngobrolnya!" Kepura-puraan menyapa.



"Tidak ada 'lah, kami hanya ngobrol biasa saja, kok! Memang kenapa?" jawab Liona sudah menatap keheranan kembali.


"Emm, benar itu. Memang ada hubungannya sama kamu jika kami ngobrol!" ketus Kenzo.


Rasanya ingin kutabok saja itu mulut, namun demi menjalankan misi aku harus bisa berakting. Jangan sampai mereka curiga dan membuatku harus gagal mencari sebab dan maksud Kenzo mendekati Liona.


"Iya, ngak pa-pa juga, sih. Cuma 'kan ngak enak dilihat sama orang lain, kalau cewek didepan kamu itu sudah bersuami tapi kalian bisa berduaan kayak gitu? Apa kata dunia gitu 'loh!" simbatku tak mau kalah.


Kenzo menarik alisnya kuat keatas, sepertinya dia sudah merasa heran dengan akutnya.


"Kamu kok tahu kalau Liona sudah bersuami?" Pertanyaan yang membuatku mati kutu.


"Astaga, kenapa mulutku bisa keceplosan tentang, Liona? Aah, dasar kau ini Arjuna, tidak bisa menjaga mulut dengan benar," Kekesalan hati berbicara pada diri sendiri.


"Eghemm ... hmm, ya pasti tahulah. Aku 'kan pelanggan hotel ini juga, jadi tahu kabar burung mengenai ocehan para orang-orang disini," simbat alasan.


"Hmm. Lalu ada apa kamu kelihatan kayak kepo gitu!" Saut Liona keheranan lagi.


"Eeitss, jangan salah sangka. Sebenarnya aku bukan kepo, sih! Cuma ada sesuatu yang ingin kumintai tolong," Kebohongan.


"Tolong apaan? 'Kan bisa minta sama yang lain," Kenzo terus saja bertanya yang aneh-aneh.


__ADS_1


"Iiiiiiih, benar-benar ingin kutabok mulut kau itu, Kenzo!" Kedongkolan hati.


"Itu urusanku, apa mau kepo juga urusan orang. Aku disini adalah pelanggan dan harus diperlakukan seperti raja, kalau tidak bisa-bisa nama baik hotel ini akan berpengaruh nanti," balas ke kenzo tak mau mengalah.


"Ayo, Liona. Antar aku segera!" Kutarik kuat tangannya, sebab muak saja berbicara sama Kenzo yang tanpa ada titik komanya.


Untung saja kutarik tangan gadisku dia nurut saja, tanpa ada perlawanan maupun penolakan.


"Eeeittts, main bawa pergi saja!" cegah Kenzo sudah menghadang langkahku.


"Mau apa lagi kamu? Aku ada urusan sebentar sama ini orang, jadi minggir sekarang!" bentakku.


"Urusan sih urusan, tapi jangan main bawa pergi begitu saja," kekuhnya tak mau mengalah.


"Aaaaahh, banyak omong benar mulut kamu itu," Kekesalan sudah menabrak bahu Kenzo secara kasar.



Liona tetap kutarik agar mau pergi bersamaku.


"Aku pernah melihat wajahmu. Apakah kita pernah ketemu," ucap Kenzo saat kami belum jauh melangkah menghindarinya.


"Apa maksud kamu? Jangan mengada-ada kalau berbicara. Mungkin kita tak sengaja pernah ketemu, dan bisa jadi dalam bisnis mungkin," cakap mengalihkan topik pembicaraan.


"Benarkah? Tapi wajahmu dan tinggi badan kayak tidak asing lagi bagiku."


"Oooh, benarkah? Kalau begitu salam kenal saja, bye ... bye." Malas melayani ocehannya lagi, aku berusaha langsung pergi saja.


Liona hanya diam menanggapi adu percakapan diantara kami, selain tidak paham atas arah pembicraan mungkin bingung juga mau menjawab apa.


Tangan terus kutarik dan pada akhirnya kami sampai dihalaman depan hotel. Tiba-tiba tangan ini dibanting untuk dilepasnya.


"Apa maksudnya ini? Kenapa kamu harus membawaku juga," keluhnya.


"Emm, maafkan aku."


"Iya, kenapa? Ngotot amat nyuruh ikut."

__ADS_1


"Pria tadi, aku rasa tidak baik untuk kamu dekati."


"Haaaah!" Liona hanya melongo dengan mulut sudah berbentuk O.


"Kamu jangan bicara sembarangan. Kenapa bisa bicara begitu, emang kamu kenal baik seperti yang dia katakan tadi?."


"Tidak kenal." Kebohonganku.


"Lalu? Apa kamu paranormal sehingga bisa tahu?" ucapnya polos.


"Hahahaha, paranormal apaan? Aku hanya menebak saja, dari mimik mukanya kelihatan banget lho kalau dia itu tidak baik." Semoga alasan ini tepat dan bikin Liona tidak curiga.


"Masak bisa menebak kayak gitu, sih!" balasnya tidak percaya.


"Kalau tidak percaya ya sudah, kamu bisa buktikan sendiri untuk mendekatinya nanti."


"Hmm ... hmm, ok 'lah."


"Oh ya, ada urusan apa sehingga harus menarikku untuk mengikuti kamu? Kayak penting banget."


"Heheheh, maaf ya harus merepotkanmu. Perutku keroncongan dari tadi, bisa 'kan mengantar sebentar untuk cari makanan," ngelesnya alasan.


"Hidih, minta tolong kayak gituan saja harus repot-repot membawa diriku? Apa tidak salah?" keluhnya tak percaya.


"Iya. Tidak salah."


"Iiih, kenapa tidak minta orang lain saja, 'kan banyak yang bisa."


"Tidak ada yang kenal, makanya aku minta bantuan sama kamu saja."


"Heeh, merepotkan sekali kamu ini. Dari dulu sebagai pelanggan selalu bikin aku kewalahan saja," keluhnya.


"Ya maaf. 'Kan tidak tahu daerah sini."


"Iya ... iya, akan aku antar kamu sekarang, tapi lain kali jangan mendadak begini kalau minta tolong, takutnya aku ada kerjaan malah merepotkan saja nanti."


"Oke, siap dech."

__ADS_1


Akhirnya wanitaku luluh juga, walau masih tak mengenali wajah ini. Perjalanan cukup agak memakan waktu juga, untuk sampai kewarung makanan. Karena tidak enak merepotkan, maka dari itu membeli beberapa makanan untuk dibungkus juga. Pasti mertua dan adik senang atas pembelianku ini, sebab lauk pauk yang kubelikan enak-enak.


__ADS_2