Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Mencoba Masuk Kampung Dengan Menyamar


__ADS_3

Mobil sudah melesat mengantarkan Liona. Didalam mobil tidak ada percakapan sama sekali diantara kami, hanya suara mesin yang bising memecahkan suasana yang sepi.


Tak berselang lama tujuan akhirnya datang juga. Sebuah desa yang masih banyak ditumbuhi pepohonan besar. Daunpun disekeliling perjalanan begitu nampak rimbun, dan yang kering berserakan berjatuhan disepanjang jalan.


"Nanti jangan pulang sendirian sebelum aku jemput," suruhku sebelum Liona benar-benar turun mobil.



"Iya, terima kasih sudah mengantar."


"Hemm."


"Bye ... bye, hati-hati dijalan!" pamitnya sudah melambaikan tangan dari balik kaca mobil yang sedikit terbuka.


"Bye ... bye, juga. Jangan lupa akan perkataanku tadi."


"Oke."


Mobil segera berputar arah, untuk hilang dari hadapan wanita cantik yang jadi istriku sekarang. Perlahan namun pasti aku menjalankan mobil, dari jalanan yang sedikit berliku-liku masih berupa tanah liat. Dari kaca spioan Liona nampak sudah masuk area hotel dan rumahnya.



Mesin seketika kumatikan. Ada hal penting yang ingin kulakukan sekarang.


Tut ... tut, gawai berusaha menyambungkan pada seseorang yang ada diseberang sana.


[Hmm, ada apa, Bos]


[Kamu sudah sampai perusahaan 'kah?]


[Belum lagi, masih dirumah ini. Memang ada apa? Tumben-tumbennya menelpon pagi begini]


[Syukurlah kalau kamu belum berangkat. Sekarang kamu ke kampung Liona menyusulku. Jangan lupa bawa peralatan penyamaran sebagai Jono]


[Hah, memang bos sudah ada disana?]


[Ya, iyalah sekertarisku yang ganteng. Lagian kamu pikir saja, kalau aku tidak ada disini mana mungkin menyuruh kamu datang kesini. Ada-ada saja pertanyaan kamu itu]


[Heheheh, kirain tadi dimana. 'Kan bisa saja ditempat lain atau jalanan]


[Hmm]


[Ok 'lah aku segera meluncur kesana]


[Oh ya, jangan lupa kamu naik ojek saja kesini, bawa mobilku pergi nanti, biar tidak ada orang yang curiga]


[Ojek? Tidak salah apa?]

__ADS_1


[Iya ojek. Memang kenapa?]


[Lah, masak orang terkece badai dan tampan begini harus naik ojek]


Keluh Cakra yang terdengar mengesalkan.


[Mau nurut perintah bos, atau tidak patuhi tapi gaji kamu akan aku potong]


[Ya elah, itu lagi ancamannya. Ya sudah, iya ... iya, aku akan kesana naik ojek. Demi bosku rela malu dan hilang muka]


[Hadeh, muka ganteng belum laris saja dipelihara]


[Isssh .... iiiish, panghinaan besar ini orang. Gini-gini cewek pada nempel dan selingkuhan banyak]


[Dasar play boy cap kabel]


[Hahahah, tahu saja]


[Sudah, jangan banyak omong kamu, keburu tidak bisa selidiki Kenzo nanti]


[Ok, aku akan segera meluncur kesana]


[Jangan lama-lama]


[Iya ... iya]


Kaca mobil kubuka sedikit biar merasakan udara sejuk alam. Hembusan terasa dingin, tapi begitu nyaman dan tenang merasakan tiupannya.


Pandangan terus menyapu keindahan alam sekitar. Banyak burung sedang bekejaran sambil membunyikan suaranya. Walaupun keadaan masih berupa hutan, tapi banyak juga penduduk yang menetap disini.



Sudah sekian jam akhirnya orang yang ditunggu datang juga. Akibat jalanan yang sedikit berliku, mungkin sedikit melambatkan Cakra datang. Desa masih asri dan jauh dari hiruk pikuk kota, makanya jalanan masih sedikit berlumpur dan tanahnya berlubang dalam.


Tok ... tok, Cakra telah mengetuk kaca mobil, dan aku segera menurunkan untuk membuka lebar.



"Ini sesuai pesanan!" Cakra sudah memberikan paper bag dan tas berisi barang-barang yang aku perlukan.


"Terima kasih. Tunggu sebentar disitu, aku mau ganti baju dulu."


"Hmm."


Kaca kembali kututup rapat. Dalam posisi duduk, pakaian culun segera kupakai, yang tak lupa juga kaca mata turut andil agar tidak dikenali. Hanya bagian atas kuganti, sehingga tidak banyak menyita waktu.


__ADS_1


"Ini!" Lemparku kunci mobil ke arah Cakra.


"Jangan lupa, nanti malam bawa mobil ini kembali kesini, sebab ada drama lagi aku ingin jemput Liona pulang."


"Siap, laksanakan."


"Ya sudah, aku mau pergi. Thanks, atas bantuannya."


"Iya, Bos. Kudoakan semoga semuanya berhasil terungkap."


"Makasih."


Karena kelamaan manunggu tadi, langkah mencoba berlarian kecil untuk segera menuju tempat tujuan. Benar saja apa yang dikatakan Liona tadi pagi, kalau hotel sedang ramai pengunjung, saat terlihat beberapa orang sedang memakai pakaian olahraga didepan hotel.


"Permisi. Apakah masih ada kamar kosong disini?" sapaku pada Bapak mertua yang sedang fokus sibuk memeriksa buku.


"Oh, tentu saja masih ada."


"Kalau begitu aku pesan satu."


"Emm, wajahmu kok kayak tidak asing lagi dimata Bapak, Nak! Kalau boleh tahu siapa, ya!" Kecurigaan beliau.


"Eghem ... hemm," Deheman keras sambil memalingkan muka, takut kalau beliau benar-benar mengenali wajah asliku.


"Ada apa, Pak!" Liona tiba-tiba datang.


"Ini ada tamu baru, tapi Bapak kayak tidak asing sama wajahnya."


Seketika Liona menatap seksama ke arahku, dan aku hanya membalasnya dengan menyengirkan senyuman.


"Kamu? Bukankah kamu ini ... ni--!" Liona ingin menebak tapi sepertinya sedikit lupa.


"Aku adalah Jono!" jawabku kilat agar mereka tidak semakin curiga.


"Ahaaaaa, iya Pak. Dia namanya adalah Jono. Aku baru ingat sekarang."


"Oh, gitu."


"Benar, Pak. Dia dulu adalah pelanggan kita, yang dulu sering kelaparan malam dan pernah makan tumis daun pepaya dirumah kita. Katanya tidak mau, tapi diembat sampai habis juga," terang Liona yang memalukan.


Saking malunya aku hanya bisa mengaruk kepala yang tak gatal. Pendaftaran sebagai tamu hotel telah selesai, dan Liona sendiri yang telah melayani.


Tak sabar ingin mencari tahu, maka aku keluar kamar. Wajah sudah clingak-clinguk mencari orang yang kubeci, namun tak kunjung jua menemukan batang hidungnya. Sekian jam sudah berkeliling disekitaran area hotel namun tak kunjung jua kutemukan Kenzo.


"Apa Kenzo sudah undur diri dari hotel ini? Kenapa aku tidak menemukan sosoknya sama sekali? Tapi perasaanku mengatakan dia masih berada disini, dan sedikit ada perasaan yang mengajal akan maksud dia tiba-tiba berada dikampung ini?" guman hati yang sudah lelah mencari.


"Semoga saja ini hanya firasat yang khawatir saja, karena kalau sampai beneran pasti akan kubuat perhitungan sama dia. Jangan sampai papa yang sudah dikuasai emaknya yang pelakor itu, tidak mungkin aku akan membiarkan Liona jadi sasaran empuk juga oleh orang songong itu," Kekesalan hati yang tidak sabar segera ingin ketemu Kenzo.

__ADS_1


__ADS_2