Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Sikapnya Yang Aneh


__ADS_3

Sikap yang aneh ketika Arjuna terus saja menarik tangan ini agar mau ikut dengannya. Mulutnya hanya diam tanpa sepatah kata yang ingin dibicarakan bersama.


"Lepaskan aku, Arjuna!" pinta sudah menarik tangan.


Sorot matanya sudah menatap tajam ke arah wajahku. Mimik muka Arjuna menyimpan sejuta tanda tanya.


"Kamu kenapa, sih?" tanya kepolosan saat memang tidak tahu.


"Kenapa gimana?" Balik Arjuna bertanya.


"Sikap kamu aneh benar hari ini."


"Kalau aneh kenapa? Apa kamu mau tahu?."


"Yang jelas ingin 'lah."


"Ok, aku akan mengungkapkan kesalahan kamu itu apa hari ini."



"Pertama \= kenapa harus keluar sama Kenzo. Kedua\= jaket siapa yang kamu pakai sekarang?. Ketiga\= kamu menikmati sekali 'kan keluar bersama kakak tiriku itu. Keempat\= seharusnya sadar diri status kamu itu siapa dan sudah jadi milik orang lain. Paham!" penjelasan yang bikin geleng-geleng kepala.


Mulutnya yang cap cuap berbicara, begitu cepat melafazdkan tiap kata.


"Kenapa kamu begitu marah atas itu semua?" cakap yang ingin mengetahui.


"Bukan marah, tapi tidak suka sama cara kamu yang genit dan sok akrab sama dia."


"Tidak 'lah. Kamu itu salah sangka saja."


"Mana mungkin salah sangka, saat aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri."


"Beneran, Arjuna. Kamu hanya salah sangka saja. Kenzo kebetulan adalah tamu dihotel. Tidak enak jika menolak mengantarnya jalan-jalan, sementara dia sudah membayarnya," jelasku agar tak jadi salah paham lagi.

__ADS_1


"Tahu. Tapi sikapmu itu sangat ketara, kalau bahagia berjalan-jalan dengan dia," tuduhan yang masih tak percaya.


"Iih, mana ada. Malahan aku sebal sama kakak kamu itu, sebab dia banyak tanya dan dari semua pertanyaannya sangat mencurigakan sekali."


"Mencurigakan gimana?" Arjuna sudah mengkerutkan kening nampak penasaran.


"Ya, mencurigakan saja. Sebab dia tanya ini itu, tentang pernikahan kita yang mendadak."


"Wah, Kenzo harus dapat pengawasan ketat dari kita. Bisa gawat jika tahu rahasia kita yang sebenarnya."



Obrolan terus terjadi. Tubuh kami sudah sama-sama bersandar santai diluar mobil. Mulut sibuk berbicara. Netrapun sama-sama memperhatikan rembulan yang bercahaya terang sekali menyinari bumi. Bulan nampak membulat sempurna, indah saja untuk terus dipandangi.


"Emm, benar itu. Jangan sampai dia membongkar semua. Tapi, apakah dia itu memang orang yang terlalu berbahaya?" tangan bersedekap diatas perut.


"Kalau masalah bahaya juga kurang tahu tentang dia itu, tapi kita harus tetap waspada sama dia. Kamu tahu sendiri jika Kenzo adalah anak tiri, jadi siapkan diri saja sebab bisa-bisa beneran akan berbuat jahat saja."


"Emm, ok 'lah kalau begitu."


"Ciih, kejamnya. Kalau benci jangan juga barang orang jadi sasarannya."


"Harus kejam. Lagian kamu tahu sendiri kalau aku muak banget dan tak suka sama pria yang bernama Kenzo itu."


"Iya ... iya, bawel. Nanti akan kukembalikan."


"Baguslah." Tangan Arjuna sudah berada diatas kepalaku, sambil mengacak-ngacak rambut.


Arjuna sekarang dalam mode gemes. Sikapnya begitu tenang dan tidak nyolot berbicara seperti biasanya.


"Iihhh!" keluhku.


Arjuna melempar senyuman mengejek. Tangan mencoba merapikan rambut yang berantakan.

__ADS_1


"Ayo kita pulang!" ajaknya.


"Emm."


Pintu sudah dibukakan olehnya, sikap romantis yang tidak pernah ketinggalan untukku. Kami sudah sama-sama duduk dimobil mewah, milik seorang pria yang baik tapi kadang mengesalkan juga.


"Apakah yang dikatakan Arjuna adalah benar, kalau Kanzo adalah pria yang sangat berbahaya? Semoga saja prasangka kami hanya meleset, tapi dari pertanyaan dia waktu jalan-jalan tadi memang sangat mencurigakan," guman hati bertanya-tanya.


Tidak ada obrolan lagi diantara kami. Hanya suara deru mesin yang mengiringi perjalanan. Netra sudah sama-sama fokus kearah jalanan, yang menampakkan kendaraan yang saling mengkerlipkan lampunya.


Kepala yang malas-malasan bersandar dikursi mobil, tiba-tiba harus bangkit saat merasa aneh, yaitu arah jalan untuk pulang ternyata berbeda tidak lurus kedepan malah berbelok.


"Kita mau kemana?" tanyaku.


"Kita akan pergi ke tempat yang akan membuat kamu bahagia."


Mata sudah memicing merasa curiga saat merasa aneh saja, atas apa yang terlontar dari mulut Arjuna barusan.


"Emang ada acara apaan?" Kekepoan.


"Tidak ada apa-apa.


"Tapi aneh 'lah, tumben-tumbennya!" ejekku.


"Enggak ada yang aneh. Entar lihat saja."


"Ok 'lah. Awas saja kalau tidak sesuai dengan apa yang kamu ucapkan barusan. Harus mengajakku jalan-jalan sampai sebulan penuh nanti, gimana?" ancaman.


"Siiplah, siapa takut. Lagian mana mungkin Arjuna seorang pria kaya, bisa membawa kamu ketempat yang tidak bagus dan indah. Pokoknya sekarang duduk manis saja, menunggu tempat yang akan kita kunjungi."


"Hemm, baiklah."


"Aneh benar sikap Arjuna hari ini. Dari sikap yang emosi sama kenzo, sekarang romantis ingin mengajak jalan-jalan. Apa mungkin telah banyak makan yang beracun ya hari ini? makanya sikap dia sekarang rada aneh dan bikin penasaran saja," guman hati yang kebingungan.

__ADS_1


Lama juga perjalanannya. Dari jalanan kelihatan sudah masuk pusat kota. Karena tidak mengenal kota, jadi tidak tahu Arjuna akan membawa kemana sekarang. Hanya bisa diam nurut saja, sambil menunggu kejutan yang dia berikan.


__ADS_2