
Semua terjadi begitu tidak disangka. Jalinan cinta yang baru saja terajut kini hancur berkeping-keping hanya gara-gara ulah satu wanita saja. Ingin rasanya kuamuk itu wanita. Jangan mentang-mentang kami dekat dan lebih dari teman, Sonia bisa seenaknya saja melakukan hal gila. Kali ini tidak bisa dibiarkan sikapnya itu. Aku harus bertindak tegas.
"Apa yang akan kamu lakukan, Bos?"
Raut wajahnya menyimpan kesedihan. Duduk tertunduk lesu. Tidak ada suaranya yang selalu ceria seperti kemarin. Sangat ketara kalau didalam pikiran sedang banyak beban. Liona yang baru dinikahi sudah dikecewakan. Masalah ini pasti begitu berat bagi mereka. Sebagai orang terdekat, tidak bisa membiarkan masalah ini sampai melebar.
"Aku tidak tahu, Cakra."
"Kamu yang tenang. Jangan selalu emosi sebab bisa semakin runyam masalah ini, apalagi pada Liona yang kini sangat rapuh. Kita akan selesaikan masalah ini secepatnya. Aku akan mencari bukti dan membantu memecahkan masalah ini. Semoga bisa secepatnya selesai," Memberi semangat.
"Terima kasih, Cakra. Semuanya kuserahkan padamu saja. Aku tidak bisa bertindak apa-apa untuk sementara ini, sebab mau fokus menjelaskan dan menahan Liona agar dia tidak terlepas."
"Iya, Bos. Tenang saja. Aku yang akan bakal mengatasi ini. Kamu fokus saja sama istrimu. Dia sangat berharga, jadi jangan sampai permintaannya tadi terjadi."
Wajahnya yang lelah sudah ditangkupkan oleh kedua tangan. Cobaan begitu berat, dan tidak bisa diselesaikan sendirian.
"Iya, Cakra. Aku sekarang hanya bisa pasrah atas keadaan."
"Sabar, Bos. Ya sudah, aku mau mencari bukti agar masalah ini cepat selesai. Kamu jangan lupa makan dan istirahat. Dari datang bandara sampai sekarang masih belum makan 'kan," Memberi perhatian.
"Iya, hati-hati. Masalah makan nantilah. Masih kenyang, seperti hati yang kenyang oleh kekecewaan dan sakit!" Dada ditepuk-tepuknya dengan memasang kesedihan.
"Kamu pria kuat, Bos. Selama ini kamu tidak pernah menyerah dalam hal apapun, jadi jangan goyah mengenai masalah ini juga. Tenangkan diri dulu, mungkin kamu masih syok atas keputusan Liona tadi," Bahunya kutepuk.
"Terima kasih, kawan. Kau memang yang terbaik."
"Ya sudah, aku mau pergi betulan ini."
"Hmm."
Berpamitan secara sopan. Mungkin Bos butuh waktu untuk istirhat lebih dan menenangkan diri. Bukannya bulan madu merasakan bahagia, malahan ini jadi terbalik ada masalah diujung tanduk. Sebagai teman cukup prihatin.
Langkah sudah selebar ubin keramik. Masuk mobil dan segera menyalakan. Pedal gas langsung kuinjak ngebut. Emosi mulai hadir diragaku. Banyak menyimpan rasa kesal dihati. Ingin rasanya kumaki-maki itu teman. Jangan mentang-mentang dekat, jadi seenak jidatnya melakukan hal gila dikuar batas.
__ADS_1
"Kelakuanmu tidak lebih bagai seorang pel*cur, Sonia. Kenapa kau melakukan ini? Kurang baik apa kami padamu? Apakah cinta itu membuatmu jadi buta mata dan hati, sebab kau tega menghancurkan rumah tangga orang!" Hati terus berguman kesal.
Kecepetan terus kutambah agar sampai kerumah tujuan. Jika sudah datang, tidak peduli kami akan bertengkar atau malah terputus ikatan persahabatan, yang jelas ingin membela yang benar. Yakin kalau Bos tidak akan melakukan itu. Walau belum terlalu jelas mencintai Liona, tapi dari sikapnya sangat ketara jika sedang bucin akut dan tidak mau kehilangan. Sebagai teman harus membantu mempertahankan rumah tabgga yang ada retakan dikit. Semoga masih bisa dibenahi.
Sheeet ... sleoot. Mobil sampai, dengan kasar mengerem mendadak. Keluar dan membanting pintu Berlari lepas. Bel rumahnya tidak sabar berkali-kali kupencet.
Ceklek, pintu dibuka.
"Mana Sonia, Bik?" Waktu memasuki rumah.
"Ooh, nona ada dikamarnya."
"Terima kasih atas informasinya. Kalau begitu saya langsung ke sana saja."
"Iya, Tuan. Ke sana saja. Kelihatannya tadi sedang bersantai."
"Baiklah."
Anak tangga kuinjak cepat. Tangan berpegangan meluncur keatas. Pintu yang bercat coklat ingin saja segera kudobrak, menyelesaikan masalah kami yang terasa sulit.
"Sonia ... Sonia, buka. Tok ... tok!" Tidak sabar ingin menemui.
Wanita yang ingin kusemprot berhasil keluar dengan pakaian mini.
"Ada apa'an sih, pakai teriak-teriak segala? Mau ngapain kamu kesini?" ketus dengan tangan bersedekap didada.
"Mau ngapain? Kamu pasti sudah bisa menebaknya, kenapa aku bisa berada disini."
"Oh, pasti masalah itu."
"Oh, sudah tahu."
"Kenapa harus ikut campur segala, cieh!"
"Ya harus. Apa kau tidak tahu siapa bos Arjuna itu, hah! Sudah berapa kali mengatakan kalau dia tidak cinta sama kamu, kenapa masih saja ngotot menganggu dia." Nada bicara sudah membentak.
__ADS_1
"Tidak usah keras-keras kalau berbicara, aku belum tuli lagi. Kamu tahu sendiri kalau aku sangat mencintainya melebihi diriku sendiri. Berkali-kali aku hanya dianggap angin lalu, dan dengan cara itu aku bisa memilikinya seutuhnya."
Kupukul pintu disebelahnya dengan keras.
Membuat Sonia terlonjak kaget mendengarnya. Nampak Sonia mulai gelisah. Tatapan berubah dratis seratus derajat, bagaikan harimau siap menerkam mangsanya. Sonia, tahu jika ada kilatan amarah dipupil mata ini.
Menangkap kasar kedua rahangnya, sehingga membuat wajah itu mendongak menatapku. Bola mata sama-sama ada sorot ketajaman.
"Kamu masih tidak bisa menerima takdirmu yang mustahil untuk memilikinya. Sadarlah, sebelum kami berbuat sesuatu yang tidak bisa kamu bayangkan selama ini," ancaman biar Sonia mau berbicara yang sejujurnya.
"Cuiih, jangan mimpi. Arjuna selangkah lagi
akan jadi milikku seutuhnya. Aku tidak akan mundur walau kalian menghalangi sekalipun. Walau nyawa jadi taruhannya juga."
"Jangan terlalu mimpi disiang bolong."
Cekraman masih aman. Aku sama sekali tidak mengindahkan rintihan pelannya yang mulai kesakitan. Semakin kuat menekan, akibat percikan amarah yang mulai menyala-nyala. Bahkan pipi mulus itu sudah mulai memerah berbekas oleh tanganku.
"Kita sekarang adalah musuh."
"Oke. Mulai sekarang terserah apa yang akan kamu lakukan. Aku tidak akan peduli lagi. Jangan pernah sekali-kali meminta bantuanku. Kamu duluan yang menyalakan api pemusuhan ini."
"Oke, siapa takut."
"Wuiuh, mantap tantanganmu. Tapi ingatlah satu hal, aku tidak akan tinggal diam membiarkan masalah ini semakin menjadi besar. Akan kuselidiki semuanya, jadi persiapkan dirimu akan menerima akibatnya jika menentang kami."
Cekraman kulepaskan. Terbuanglah muka Sonia. Terlalu kuat, membuatnya sedikit tidak seimbang mau jatuh.
"Haaaahhhh, sispa takut. Dasar teman laknat. Tidak setia dan kurang ajar," Dia tidak terima dengan membalas memaki-maki.
"Masa bodoh. Sudah kuanggap teman yang selalu manja, manis, dan baik kini sudah mati. Jangan pernah menyapa kami lagi, bagi kami adalah musuh yang siap kami lawan. Ingat itu!" Telunjuk menantangnya.
"Hey, Cakra. Aku tidak tahut. Hey, ke sini kamu. Urusan kita belum selesai. Hey, Cakra! Kembali kau ... kembali," teriaknya.
__ADS_1
Aku tidak ingin mendengar lagi suaranya. Melengang pergi agar tidak terjadi emosi yang semakin mengila. Lawan adalah wanita, jadi tidak mungkin akan beradu otot, sebab kalau kemarahan sampai puncaknya maka tangan ini gatel mau menabok saja.