Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Kemesraannya


__ADS_3

Arjuna begitu memanjakan diriku. Sikap yang sudah berubah dratis. Tiap kali, ada saja bahan yang dia lakukan untuk bermanjaan denganku, tapi alhamdulillah aku bisa mengimbanginya dengan memberikan kasih sayang lebih.


Apapun yang dia lakukan pasti aku akan menggantinya dengan cara dua kali lipat, sebab bagiku rasa terima kasih saja tidak cukup. Mungkin dengan tindakan berbalik menyayangi baru seimbang.


Kami memang telah sah menjadi suami istri, namun untuk menjaga jarak dan mangantisispasi akan hal-hal yang tidak diinginkan, maka atas permintaanku harus terpisah kamar. Untung saja Arjuna mau menuruti kemauanku, mungkin dia juga bisa berpikir bahwa jangan sampai tindakan diluar batas, karena ada penghalang diantara kami yaitu perjanjian kontrak nikah.


"Gimana? Apa kamu suka?" Tiba-tiba dia memelukku dari belakang dengan mesra.


Kepalanya telah disandarkan dibahuku. Pipi kamu begitu menempel dekat sekali, ketika netra telah sama-sama fokus melihat pemandangan alam laut


"Iya. Aku suka sekali. Terima kasih." Pipinya terasa lembut.



Aroma parfum yang kukenali, begitu membuat candu agar lebih menempel terus padanya.


"Terima kasihnya jangan padaku. Ini semua berkat ide mama. Beliau sangat bagus menyuruh kita pergi, sebab ada kenyataan kalau kita makin dekat saja."


"Iya, Juna. Nanti kalau sudah kembali, aku akan menemui langsung beliau untuk berterima kasih."


"Baguslah itu." Tangannya makin mempererat pelukan.


Sungguh suasana yang bikin bulu kuduk meremang. Selain sejuk atas angin sepoi-sepoi laut, ditambah lagi sikap Arjuna.


Ombak terus saja bergulung-gulung menghantam batu karang dan pinggiran pantai. Kami berdua hanya bisa menatap keindahan itu tanpa melepas pelukan.


*******


Hotel mewah kini telah ramai pengunjung dengan pakaian rapi. Tak luput kamipun harus mengikuti, sebab hotel sedang mengadakam acara ulang tahun. Walau kami hanya tamu, katanya demi memeriahkan acara, semua tamu hotel telah diundang untuk menghadiri acara itu.



Banyak pasangan serasi bikin iri saja. Mereka begitu mesra mengandeng tangan pasangan, yang nampak beda sekali dengan kami ketika berjalan masing-masing tanpa ada Arjuna peka akan hal itu.


"Ternyata dia hanya peduli pada diri sendiri," keluh dalam hati.


Tangannya yang terayun-ayun diudara terus kupandangi. Tidak berani memanggil sekecap kata, takut jika dia akan marah besar akibat aku banyak meminta.

__ADS_1


"Hhh, kapan dia akan mesra?"


Bhuhg, karena terlalu fokus pada tangan Arjuna, sampai tidak sengaja menabrak tubuhnya.


"Kenapa lelet amat jalannya?" Hidung sudah ditoelnya.


"Lagi malas jalan."


"Malas?" Keningnya berkerut.


Wajah cemberut berusaha kusembunyikan.


"Kok bisa? Memang kenapa? Apa kamu ridak suka datang ke acara beginian?" tanyanya.


"Enggak kok."


"Lalu?" Arjuna heran.


"Aku suka datang ke tempat ginian, tapi malas saja kayak tidak dihargai dan berasa sendirian."


"Ohhh!" Arjuna hanya mengangguk-angguk.



Menoleh ke kanan kiri. Sungguh memalukan juga, dilihat para tamu yang tengah melihat aneh ke arah kami.


"Apaan, sih. Malu ah, dilihat orang!" keluhku.


"Hadeh. Tadi kata sendirian. Makanya aku sekarang ingin mengandeng kamu biar nampak mesra saja kita ini."


"Hihihiiii, masak sih. Apa yang dikatakannya barusan, benarkah itu?" Hati berbicara tidak percaya.


"Ayolah. Jangan biarkan aku ambeien gara-gara lama membungkuk."


"Hehehe, sorry ... sorry."


Tangan akhirnya menerima juga.

__ADS_1


Tidak puas, Arjuna sudah mengalihkan tanganku untuk ke arah lingkaran tangannya. Senyuman terus sumringah menyapa yang lain. Walau tidak kenal, tapi kita harus pura-pura akrab, agar yang punya acara tidak kecewa.


Alunan musik terus bergema begitu romantis. Ada yang berdansa mesra dengan pasangan, dan ada juga yang hanya jadi penonton. Arjuna sempat menawari, namun aku tolak dengan alasan tidak bisa.


"Kamu tunggu disini. Aku mau ke toilet dulu. Jangan ke mana-mana sebelum aku kembali," pamitnya.


"Iya. Beres."


"Ingat, ya! Jangan kemana-mana." Arjuna nampak tidak tega meninggalkan aku sendirian.


"Iya. Pergi sana. Nanti keburu ngompol juga."


"Mana ada. Sembarangan saja ngatain."


"Hehe, 'kan siapa tahu."


"Hmm, ya sudah. Aku pergi dulu."


"Iya."


Arjuna yang sudah tidak terlihat lagi, membuatku harus berjalan bergeser ke dekat kolam renang yang berhiaskan lampu kerlap-kerlip. Rasa kering tenggorokan membuat diri ini mendekati air yang tenang namun kelihatan mempesona.



Seteguk demi seteguk telah membuat leher yang kegerahan menjadi fres kembali. Netra terus saja melihat keindahan para tamu yang begitu riangnya saling menari dengan nada irama lagu bahagia dan cepat.


Bhuugh, tanpa terduga ada seseorang yang menyenggol tubuhku.


"Aaaaahhhhh!" teriakku.


Karena tidak seimbang, tidak terelakkan lagi tubuh akhirnya tercebur. Dari terlinga, mulut, hidung telah kemasukkan air. Tidak bisa berenang membuatku terus terjun ke bawah. Nafas begitu tersedat, tidak bisa lagi merasakan aliran udara akan menyelamatkan nyawa ini.


"Juna, kemana kau? Apakah engkau tidak ingin datang padaku?"


"Tolonglah aku. Kemanakah kamu sekarang? Aku masih ingin terus bersama kamu, maka selamatkan aku sekarang," Hati terus saja berdoa agar dia segera datang.


Akibat tidak kuat, mata mulai sayu-sayu terperjam. Entah berapa liter air yang masuk ke dalam tubuh ini. Yang jelas air terasa ingin mengenyangkan perutku, yang sudah tidak kuat lagi.

__ADS_1


Sinar lampu nampak mulai redup. Pandangan tidak jelas lagi. Tubuh melemah, terasa tidak berpijak lagi dibumi. Tubuh mulai melayang, berasa separuh nyawa sudah bercerai dari badan.


__ADS_2