Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Tidak Kubiarkan Kau Lepas


__ADS_3

Api kecemburuan makin berkobar. Arjuna harus jadi milikku seutuhnya. Tidak ada yang boleh menyentuh maupun memiliki. Geram rasanya saat mendengar mereka kemarin berencana bulan madu. Ingin sekali mengobrak-abrik hubungan mereka. Kekuatan untuk sekarang kurang dan tidak mampu untuk segera memisahkan mereka. Harus menyusun rencana matang-matang, agar apa yang kuinginkan tercapai.


Banyak orang sewaaan yang kusuruh untuk terus mengawasi gerak-gerik mereka. Biarlah uang sekalipun habis, asalkan cita-cita ingin mendapatkam Arjuna terwujud. Bagiku Liona adalah hama dan akan kusingkirkan segera. Rahasia sudah kuketahui, jadi harus gencar membuat hubungan mereka hancur sehancurnya.


Pakaian sudah rapi. Dengan gaun diatas lutut. Make up pun sudah tebal, agar jika ketemu pujaan hati bisa memikatnya.



"Kali ini kau tidak akan lepas dariku lagi, Juna! Tunggu saja. Akan kubuat kamu bertekuk lutut padaku," Keyakinan yang mantap.


[Hallo, Nona]


Panggilan dari orang suruhan, yang kini sudah terhubung dengan gawaiku.


[Emm, ada apa?]


[Sesuai permintaan kamu kemarin. Kami harus mengawasi jika dia ada pergerakan untuk keluar hotel harus segera menghubungi nona, dan sekarang itu terjadi serta ini adalah kesempatan kamu sebab dia sedang pergi sendirian]


[Bagus atas kerja kalian. Nanti akan aku kasih hadiah lebih. Baiklah, aku akan seger kesana]


[Terima kasih, nona. Baiklah, kami akan tunggu kedatanganmu]


Sambungan sudah terputus. Waktu tidak ingin kubuang sia-sia, maka harus bergegas ketempat orang suruhan yang mereka beritahu tadi.


Ketukan higheels yang terhentak diubin keramik begitu mengalun ngeri, yang sedang menampakkan wanita anggun nan **** sedang berlengak-lengok bagaikan model. Semua mata tertuju ke arahku. Siapapun yang memandang pasti ingin menjamah maupun memiliki. Kubiarkan mata jelalatan mereka terus menjelajahi lekuk kebohai tubuh. Bagaikan terkejar waktu, semua yang sudah kususun tak akan terbiarkan hilang begitu saja.


Pucuk emosi sudah tidak terkendali. Jadi jangan salahkan diriku yang bisa berubah bak singa yang siap menyerang mangsa. Tidak kubiarkan pria yang tersayang terluka hatinya, maupun ada kedustaan sebuah penghianatan. Sebelum terjadi, maka harus gerak cepat agar mereka tidak semakin terjebak.


Tidak butuh waktu lama priaku sudah nampak dilobi hotel, sedang menenteng paper bag yang tidak tahu isinya apa itu.

__ADS_1


"Hei, Juna!" Tangan yang sempat terbiar kini kurengkuh mesra.


"Eeh, kamu, Sonia. Tolong lepaskan, apa yang kamu lakukan?" Arjuna seperti risih tangannya kugandeng.



"Hidih, kamu kok gitu sih."


Kepura-puraan ngambek dan tidak suka.


"Yang benar saja kamu lakukan barusan. Jangan sembarangan main gandeng tangan orang."


"Iya ... ya, aku minta maaf atas sikap barusan." Tangan terangkat ke atas.


"Sudah, jangan tersinggung. Aku cuma tidak mau ada fitnah dan ada gosip yang enggak-nggak diantara kita. Itu saja sih. Oh ya, ngomong-ngomong kamu kok ada disini? Dan pakaian kamu ini, kenapa, kom-?"


Arjuna kelihatan heran saat penampilan berbeda dari biasanya.


"Masak sih! Pria kesayangan apaan? Benarkah ini hanya kebetulan, atau-?" Arjuna kelihatan curiga.


Segera mencari akal agar dia tidak bertambah curiga. "Eh, sungguh kebetulan loh ini. Kamu kejam amat sih mau menuduhku kalau sedang membuntuti kamu, gitu."


Wajah sudah sedih.


"Eh, bukan gitu. Cuma heran saja kok bisa ketemu kamu yang kwebetulan kita dalam satu kawasan hotel. Aneh sekali. "


"Sudah. Tidak usah dipikirkan ketemuan kita yang kebetulan ini. Oh ya, karena kita sudah bertemu begini, ayo ikut aku saja."


Tangannya segera kutarik kuat. Peper bag yang sempat dia bawa tiba-tiba jatuh dilantai, mungkin saking Arjuna kaget atas sikapku memaksanya ikut.

__ADS_1


"Lepaskan, Sonia. Jangan maib sembarangan tarik-tarik begini," keluhnya.


Tidak kugubris permintaannya. Tangannya terus saja kutarik. Sempat kalah kekuatan, namun karena malu pada orang yang lewat dilobi hotel Arjuna mengalah juga, mungkin dikira kami adalah pasangan yang sedang bertengkar.


Ceklek, sebuah ruangan hotel yang sudah kusewa, kini menampakkan keindahan dan megahnya berbagai pernak-pernik. Suara tepukan tangan dan riuahan beberapa teman telah menyambut kami. Raut wajah Arjuna berubah dratis, yang kemungkinan tidak menyangka bahwa teman kami sedang berkumpul semua. Diluar dugaan pasti, jika ini semua adalah rencana pertama untuk mendapatkannya.


"Kok ada mereka, sih. Apa maksudnya ini?" Arjuna semakin kebingungan.



"Hhehe, maaf ya. Kalau aku yang menyuruh mereka kesini sebab ada alasan yang pasti yaitu ingin merayakan ulang tahun kamu."


Dengan santai berusaha menjelaskan.


"Tapi hari kelahiranku sudah lewat. Jadi apa maksud dari semua ini?"


"Oleh sebab sudah lewat, maka kami ingin menebus dengan merayakannya."


"Tapi-?"


"Sudah. Jangan banyak tanya dan bingung. Sekarang bergabung saja sama mereka untuk merayakan. Kasihan lah jika jauh-jauh, tapi kamu tidak ikutan, ayo!" Tangan Arjuna kembali kutarik.


Kami sudah berada ditengah-tengah.


Yes, Arjuna kali ini tidak berkutik. Nampak pasrah saja. Teman-teman pria dan wanita langsung menjabat tangan dan memeluk sekejap tanda memyambut baik.


Keriuhan semakin menjadi-jadi saat musik telah dinyalakan. Tawa terus saja mengema memenuhi ruangan yang makin asyik saja suasananya. Berkali-kali Arjuna berusaha pergi, namun teman-teman pria sudah sigap mencegah sesuai dengan keinginanku.


Berkali-kali juga Arjuna sudah meneguk minuman berakh*hol. Teman-teman tiada henti terus mencekokki. Sebagai ucapan ulang tahun, selamat sudah menikah, dan pertemuan yang sekian tahun tidak berjumpa. Arjuna tidak mampu menolak, saat tangan para teman terus menjejalkan gelas berisi minuman ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Bibir terus saja tersenyum msnyeringai. Ternyata rencanaku tidak sia-sia. Begitu mudahnya tadi diajak.


"Yes, kau dalam perangkapku sekarang, Juna!" Kegembiraan dalam hati.


__ADS_2