
Diluar dugaanku, jika Nenek akan mengambil keputusan ini. Ikut aturan beliau kehidupan akan berubah total, jika tidak dituruti pasti beliau akan ngomel dan memberikan ancaman.
"Ah, Nek. Kenapa perjanjiannya harus pakai acara beginian," keluhku tidak senang.
Ekspresi wajah sudah kecut dan kesal, tidak bisa menerima semuanya dengan mudah.
"Apa tidak ada cara lain?" imbuhku.
"Tidak ada. Kamu jangan banyak mengeluh, kalau masih ingin tetap menjadi ahli waris keluarga. Jika kamu menolak, dengan terpaksa Nenek akan menyuruh kakak tirimu itu, yang otomatis akan berhak mendapat warisan karena dia sudah menjadi bagian keluarga kita," ancam beliau.
"Ahhh ... aaah. Tapi tidak dengan cara ini juga, Nek!" kekuhku lagi.
"Jangan banyak bawel. Ayo ikut Nenek sekarang!" pinta beliau sambil menjewer telinga kiriku.
"Aaaa, iya ... iya, Nek. Tapi tolong lepaskan tangan kamu dulu," pintaku.
"Tidak bisa. Kamu nanti pasti akan kabur. Dengan cara beginilah, kamu itu akan jadi anak penurut," tolak beliau.
Telinga yang kesakitan dan panas kuterima dengan lapang dada, disaat Nenek terus menjewer telingaku. Sekertaris Cakra hanya bisa menahan tawa karena melihatku tunduk begitu saja.
Rasanya sungguh dipermalukan sekali, saat aku yang selama ini ditakuti orang, sekarang harus menahan rasa malu didepan karyawan dan para bodyguard, ketika Nenek terus mengiringku mengikuti langkahnya. Rasa telinga yang sudah sakit nyut-nyutan tidak kupedulikan lagi.
Dua mobil sudah berjalan. Diisi oleh diriku dan Nenek yang mana mobil dikemudikan Cakra. Sementara yang satunya adalah mobil yang terisi oleh para pengawal untuk melindungi kami.
"Jangan macam-macam nanti. Kalau tidak jadi anak baik, ucapan Nenek tadi tidak main-main, paham!" Peringatan beliau.
"Huff, iya ... iya."
"Dasar Nenek lampir, sukanya ngoceh melulu kayak burung belum dikasih makan saja," ngedumel mulut bersuara pelan.
"Apa yang kamu katakan tadi?" tanya Nenek yang duduk dibagian belakang.
"Hehehe, tidak bicara apa-apa kok, Nek!" pungkirku.
Netra seketika melihat Cakra, yang sembari tadi hanya menyimak dan tersenyum-senyum, melihat rasa nyali yang ciut dan ketakutanku pada Nenek.
Wanita yang paling dihormati selain Mama adalah Nenek. Beliau selalu disegani dan ditakuti oleh semua orang, termasuk keluargaku sendiri. Sikap beliau yang adil dan selalu keras, banyak yang takut dan tidak ada yang berani membantah. Hanya akulah yang kadang berbelok dari perintah beliau, dengan cara sembunyi-sembunyi melakukan sesuatu yang sempat beliau suruh.
Kali ini tidak bisa berkutik sama sekali. Ancaman beliau terlalu menakutkan. Jika terjadi sungguhan, pasti lagi-lagi akan mepihat tetesan airmata Mama dan aku tidak mau melihat itu.
__ADS_1
Mobil terus melesat berjalan, menuju kediaman musuh utama. Keadaan yang selama ini baik-baik saja, entah mengapa membuatku grogi bukan kepalang. Mungkin karena permintaan Nenek yang mendadak ini, merubah moodku menjadi agak tegang.
*****
Pelan-pelan mobil telah terhenti, menandakan tujuan kami sudah datang. Aku yang sembari tadi dilanda ketegangan, semakin kalut bercucuran keringat atas rasa grogi.
"Aah, apa yang harus kulakukan? Bagaimana kalau mereka mengetahui diriku yang sebenarnya?" ucapan keresahan dalam hati.
Ceklik, pintu mobil sudah dibukakan oleh sekertaris Cakra.
"Ayo turun, Bos. Kok malah bengong saja sih," singgung Cakra.
"Gimana tidak bengong, sementara otakku telah mencari seribu cara agar tidak diketahui mereka," jawabku yang mulai panik.
"Hadeh, begini nih kalau mau ketemu jodoh. Bawaannya nyes ... nyes, jedak jeduk gimana gitu, hihihi!" hina Cakra.
"Jodoh kepalamu peyang. Bukannya mau bantuin, menghina melulu dari tadi," Kekesalanku berkata.
"Heh, iya ... iya, Bos. Aku mah orangnya setia (selalu tunduk ikuti aturan). Sekarang pakai ini biar tidak ketahuan," ujar Cakra memberikan masker dan kacamata hitam.
"Wah, memang sekertaris yang manis, selalu bisa diandalkan ketika dibutuhkan," cakapku sambil mencubit pipi sekertaris.
"Aaaa, sakit Bos. Gembira sih gembira, jangan main kasar menyentuh pipi orang," keluhnya yang sudah mengelus bagian yang kucubit.
"Haiist, bawel amat. Hayo kita langsung jalankan aksi," ajakku sudah semangat empat lima.
"Assalamualaikum!" salam kami kompak.
"Walaikumsalam," jawab suara yang punya rumah.
"Eeh, anda ini--?" Kekagetan Bapak Liona.
"Iya, saya adalah pemilik utama perusahaan yang ingin merebut tanah ini. Ada hal penting yang ingin kami bicarakan pada kalian sekeluarga. Bolehkah kami masuk?" jawab Nenek.
"Oh, iya. Silahkan ... silahkan masuk," ucap ramah Bapak Liona mempersilahkan.
Sekarang aku hanya diam dan nanti harus bisa menyimak saja, atas pembicaraan para tetua.
Terlihat Ibu, Liona, dan adiknya Tio sudah keluar ingin menemui kami juga.
"Ada apa ya, Nek? Kok sampai bela-belain datang ke sini?" tanya penasaran Ibu Liona.
"Nanti kalian akan tahu setelah mendengar penjelasanku," jawab santai Nenek.
__ADS_1
"Apa ... apakah, dia ini--?" tanya Liona sudah menunjuk ke arahku.
"Uhuuk ... uhuk," Batukku mencoba menghindar.
Aku yang kaget atas kecurigaan Liona, langsung menundukkan kepala, agar dia tidak mengetahuiku lebih siapa diriku sebenarnya.
"Dia adalah cucuku, yang akan mewarisi semua aset keluarga," terang Nenek.
"Oh, jadi dia ini orang yang sudah membuat desa ini tidak aman dan nyaman lagi," Emosi Tio yang tiba-tiba meledak, yang sepertinya ingin sekali menampol diriku.
"Sudah ... sudah, tenangkan dirimu dulu, Tio. Mereka datang ingin bicara baik-baik sama kita," cegah Bapak Liona.
"Iya, tenang dulu sebab kita akan menyelesaikan permasalahan ini dengan kepala dingin," imbuh Nenek.
"Baik, Pak. Maafkan saya, Nek!" ungkap Tio merasa bersalah.
"Iya, tidak apa-apa."
Aku dan Cakra sudah duduk berdekatan, dengan wajah terus menyimak dan tidak berani sedikitpun untuk mengeluarkan kata-kata.
"Baiklah, saya akan mulai. Kalian tahu sendiri kalau sengketa ini akan susah diselesaikan. Pastinya kalian tidak mau terus-terusan begini, dengan keadaan tidak tenang dan selalu bertengkar antara warga dan pihak kami. Maka dari itu saya kesini membawa solusi, agar semuanya segera selesai dan masalah ini tidak akan lebih melebar," terang Nenek.
"Bagaimana caranya?" tanya Bapak panasaran.
"Kalian tahu kalau cucuku yang nakal ini sudah dewasa dan kalian sendiri punya anak perempuan yang cantik. Jadi bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka?" jelas Nenek.
"Apa?" jawab keluarga Liona kompak kaget.
"Nah, benar 'kan. Kalau mereka saja terkejut, apalagi diriku. Ide Nenek ini memang tidak masuk akal, mau menjodohkan orang sembarangan saja," keluhku dalam hati.
"Tidak ... tidak, aku tidak mau menikah sama orang yang sombong, angkuh seperti dia," ungkap Liona to the point.
Hanya bisa menghembuskan nafas kasar dibalik masker. Tangan kuremas-remas kuat mencoba menghilangkan amarah, ketika aku tidak terima atas perkataan Liona barusan.
"Iya, Nek. Apa tidak ada cara lain selain menjodohkan mereka? Gimana kalau tidak cocok dan saya takut karena tidak saling kenal, nanti rumah tangga mereka kenapa-kenapa juga nanti," ungkap Ibu Liona.
"Tidak ada cara lain selain ini. Masalah tanah tidak akan jadi sengketa, kalau mereka menikah untuk saling bisa mengelola bersama. Masalah cucuku kujamim aman, kalau dia berbuat macam-macam akan kuhajar dan tendang dia nanti," tambah Nenek yang bikin hati kian gedeg marah.
Lagi-lagi hanya bisa menghembuskan nafas kasar dan mengelus dada.
"Baiklah, jika hanya itu caranya agar kampung ini bisa damai lagi. Beri kami waktu seminggu untuk berpikir," tutur santai Bapak Liona.
__ADS_1
"Tapi, Pak!" saut Liona seperti menolak.
Bapaknya hanya memberi aba-aba tangan, supaya Liona tenang dulu. Perbincangan terus saja berlanjut. Sepatah katapun tidak ada yang keluar dari mulutku, takutnya jika salah bicara akan bertambah runyam masalah.