Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Turun Jabatan


__ADS_3

Cakra mengisyaratkan sesuatu agar aku diam, dengan cara jari telunjuknya ditaruh dibibir. Ada ekpresi dari semua orang ada sebuah kemarahan.



"Jangan sakiti, Kenzo!" cegah yang menyebalkan.


"Kalau dia benar, mana mungkin aku akan menyakitinya."


"Dia Adek yang tidak ada akhlak dan sopan santun sama sekali. Ketidaksukaannya selalu ingin menyakitiku," Kenzo berbohong.


Tangan mengepal kuat dengan tertahan. Kalau tidak ada orantua dan orang banyak saja sudah babak belur tuh wajah yang suka banyak drama.


"Sudah, Nak. Papa akan atasi ini. Kamu tenangkan diri dulu."


Senyuman sinis. Ingin sekali kuhujamkan seribu pisau untuk mengiris bibirnya itu. Selalu saja beraninya bersembunyi dibelakang orangtua, yang sudah lama hilang rasa sayangnya pada anak kandung sendiri.


"Hah, selalu ... selalu saja kau bela anak pungutmu itu."


Dengan kejam mau mematahkan segala sikap ayah sendiri. Muak rasanya kasih sayangnya diberikan pada anak yang bukan menjadi darah dagingnya sendiri. Mungkin beliau sudah menerima banyak cekokkan, makanya jadi nurut saja apa yang dikatakan pihak mereka.


"Jaga bicaramu."


"Jaga juga sikapmu. Apa patut kasih sayang itu kau berikan pada anak pungut, yang nyata-nyata hanya orang luar. Menurutku tidak patut mereka kamu kasihani. Mereka itu hanya mau numpang hidup, dan lama-lama mengrogoti semua harta kita."


"Diam kamu," lantang beliau mencegah.

__ADS_1


"Untuk apa aku harus diam, sementara pada kenyataannya ada benarnya."


"Tidak usah banyak membual. Aku kesini ada hal penting. Tidak usah melibatkan sikap semua keluarga kita."


"Kenapa? Apa kamu malu sebab aku mengatakan semuanya didepan orang banyak."


Dewan direksi dan para pemegang saham hanya diam mendegarkan perdebatan kami. Mungkin mereka sudah tahu kecacatan keharmonisan keluarga. Memang kalau menyangkut keluarga kami semua hanya bisa menyimak, selain bukan urusan mereka mungkin takut jika salah menangggapi dan membela pihak mana.


"Jangan banyak bicara kamu. Langsung saja ke inti pembicaraan kita."


"Hm, katakan!" Tangan bersedekap didada.


Tidak ada kata takut pada ayah kandung. Bagiku ketika beliau sudah berani membuat Mama menangis, berarti sudah membuat langkah permusuhan diantara kami. Beliau sendiri yang berulah, maka aku harus bisa tegas juga melawan kelakuan itu.


"Kamu akan aku turunkan jabatan."


"Jabatan yang kosong akan digantikan Kenzo."


"Jangan asal sembarangan turunkan jabatan. Lagian apa hak dia mau mendudukki kursiku."


"Duh, apa kamu tidak ingat kalau aku sekarang sudah jadi sah anggota keluarga kamu," nyolot kenzo yang semakin berani.



Brak, sebuah asbak rokok kulempar dilantai.

__ADS_1


Semua orang terkejut dan semakin menundukkan kepala.


"Jaga sikap kamu. Jangan seperti anak kecil dalam menyelesaikan masalah. Jangan meluapkan emosimu yang kurang ajar itu didepan orang lain. Apa tidak malu?"


"Jangan biacara tentang malu, sekarang aku tanya. Apakah kamu sendiri tidak malu, membawa anak sialan itu masuk tanpa izin kami dulu, apalagi ibunya itu. Aduh, orang yang ingin menjatuhkan malah dipelihara. Sungguh memalukan sekali kelakuanmu yang sudah tua tapi masih saja buaya," hinaku yang tidak terima.


"Jangan sembarangan bicara," Kenzo buka suara lagi


"Diam kamu. Tidak usah ikut campur."


Papa kandung hanya menangapi kebenaran dengan membenahi duduknya. Ada gusaran malu juga ternyata. Tidak takut pada beliau jika aku benar.


"Sekarang katakan alasannya kenapa kamu ingin menurunkan jabatanku ini?"


Rasanya ingin menantang saja kelakuan mereka yang memuakkan. Maka dari itu banyak yang tidak membantah, sebab jika aku emosi akan kutebas semua orang temasuk keluarga sendiri sekalipun. Tidak peduli jika ada permintaan maaf, bagiku siapa yang salah maka tiada ampun.


"Kamu tahu sendiri alasannya. Jangan pikir kami tidak tahu atas berita kamu sudah berpaling dari orang lain. Berita itu sudah menyebar dan akan bikin perusahaan ini jatuh jika kamu masih tetap disini. Bikin malu saja," terang beliau.


Tidak diduga ternyata mulut orang menyebarkan gosip akan lebih cepat, daripada sebuah kebaikan yang tersembunyi. Tidak bisa berkata lagi saat semua memang nyata itu kesalahanku.


"Baiklah, jika itu keputusanmu. Aku memang anak yang tidak kau inginkan. Dari dulu selalu tersisih. Seharusnya kamu membantuku untuk mencari tahu kebenarannya, bukan malah ikutan menjatuhkan. Apakah ini yang dikatakan kasih sayang dari seorang ayah, hah! Bukan pengorbanan yang kamu berikan, tapi selalu saja bikin kami sakit hati dan membenci. Ternyata kelakuan kamu tidak berubah. Tidak cukup hanya satu mama yang kau sakiti, ternyata kamu juga tega mencekik anak kandungmu sendiri," Sindirku yang kejam.



Melihat kelakuan orangtua yang lebih membela orang lain sangat menyebalkan. Dari dulu tidak ada perubahan, cuma kami berdua diam sebab tidak ingin cari masalah.

__ADS_1


Muak melihat semuanya, langsung melengang pergi meninggalkan mereka yang kelihatannya akan bahagia menikmati ketua baru pemegang perusahaan.


__ADS_2