
Sinar mentari yang menusuk mata, telah membuatku harus bengun segera. Tangan sudah bergerak ke kanan dan kiri meredakan rasa kaku akibat kelelahan. Kepala tak luput juga tergoyang melemaskan otot leher. Gaun pengantin semalam masih tergeletak sembarangan dipembaringan.
Langkah sudah berjalan ke kamar mandi. Pasta sudah kutekan untuk membersihkan gigi segera. Air dari shower sudah kuputar untuk mengisi penuh bak mandi, agar bisa merilekskan tubuh akibat keletihan semalam.
Netra menyapu pandangan diseluruh bagian kamar mandi. Bersih, mewah, dan rapi yang terlihat sekarang. Tidak ada satupun yang berantakan. Ada banyak botol shampo dan sabun berjejer dengan rapi dan indah.
"Orang ini apa benar-benar mengutamakan kebersihan dalam rumahnya?" guman hati masih memeriksa beberapa peralatan mandi yang nampak mahal harganya.
Tidak ingin berlama-lama terjebak, maka harus segera melakukan aktifitas menguyur tubuh, sebab aku secepatnya ingin menyiapkan sarapan agar si Arjuna tidak ngomel-ngomel. Lagian ini adalah pertama kalinya masuk dalam rumahnya, jadi harus terkesan sopan dan baik kepada pemilik rumah.
Awal niat ingin berendam lama-lama dalam bathub, tapi kini kusudahi ritual itu dan secepatnya memakai baju yang sudah dipesan Arjuna semalam.
Langkah segera berjalan tergesa-gesa untuk menuju dapur. Lama melihat kanan kiri mencoba mencari tempatnya, sampai pada akhirnya tercium aroma masakan yang membuat perut terasa mulai keroncongan.
"Waduh, baunya sedap sekali. Apa ada seseorang selain kami, sehingga sudah ada orang yang masak didapur sekarang?" guman hati yang mulai curiga.
Langkah sudah mengendap-endap mencoba melihat siapakah gerangan yang masak. Eeh ternyata adalah Arjuna sendiri.
"Wuuih, apa dia selama ini bisa masak? Tapi kelihatannya memang iya, sebab dia 'kan selama ini hanya tinggal sendirian dirumahnya." Wajah sudah menatap kagum atas apa yang dia lakukan sekarang.
"Ternyata kamu sudah bangun," ucap Arjuna mengagetkan.
"Hmm."
"Nyenyak sekali kamu tidur, sampai-sampai tidak ingin menyiapkan sarapan pagi," sindirnya.
"Hehehe. Bukan tidak ingin menyiapkan, tapi badanku benar-benar lelah sekali akibat acara kemarin," jelasku.
"Lagian kenapa juga sudah masak duluan sementara aku belum bangun. Seharusnya 'kan menunggu dulu biar aku menyiapkan segalanya," imbuh berkata.
"Kelamaan nunggu, sebab hari ini mau berangkat kerja pagi-pagi."
"Ya sudah, maaf. Lain kali kalau mau berangkat pagi bilang dulu, biar aku yang menyiapkan nanti."
"Emm, ok 'lah. Sekarang bantu menyiapkan alat makan saja, karena tidak ada waktu lagi mau berangkat kerja segera nih."
"Siip 'lah."
Apa yang disuruh Arjuna sekarang kulakukan semua. Piring, sendok, gelas, sudah kutata rapi satu persatu. Arjuna juga sudah mendekati meja makan, untuk segera membawa semua lauk makan yang sempat dia masak tadi.
Hidangan membuatku mlongo. Tidak menyangka jika dia pandai juga dalam mengolah sayuran. Ada sekitar enam jenis lauk yang sekarang tersedia dimeja.
"Kenapa malah bengong lihatin makanan saja?" tanya Arjuna.
__ADS_1
"Ee'eh, enggak kok. Kagum saja lihat makanan yang kamu masak, yang ternyata kamu pandai juga," pujiku sambil tangan menarik kursi, untuk segera bergabung duduk berhadapan dengan Arjuna.
"Tentu aku bisa karena sejak remaja sudah mandiri. Banyak belajar sama nenek dan ikuti les memasak."
"Kamu tahu sendiri kalau dalam keluargaku sedikit kacau, jadi tidak mau bergantung terus sama mereka, termasuk memiliki tempat tinggal sendiri," jelasnya.
"Ternyata dia pria yang misterius tapi sangat mengagumkan. Semoga sifatnya tidak akan merugikanku nanti," guman hati.
"Emm. Oh ya, aku ingin pulang ke kampung orang tua dulu. Mau ambil barang dan baju," pintaku.
"Biar orang suruhanku saja yang ambil."
"Tapi--?."
"Ngak ada tapi-tapian. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa dijalan nanti, saat baru kemarin kita menikah. Aku banyak musuh takutnya ada orang yamg akan berbuat jahat sama kamu nanti."
"Lagian kewajibanmu sekarang adalah membantuku membersihkan rumah ini," suruhnya.
"Lha kok jadi aku. Bukannya selama ini sudah ada orang suruhan yang sering membersihkan?" protesku.
"Mau berhemat."
"Ciiiiih, orang kaya yang pelit," decihku tak suka.
"Iya tahu. Tapi 'kan, kita itu hanya menikah pura-pura. Lagian aku ada kerjaan dikampung, untuk menjaga hotel dengan baik," cakap tidak setuju.
"Hehh. Baiklah kalau kamu ingin bekerja dihotel itu, tapi dengan syarat selesaikan dulu pekerjaan rumah. Termasuk ngepel, nyuci, masak, paham!" Arjuna terus saja berbicara sambil mengunyah makanan dengan santai.
"Hadeh, memang aku babu kamu harus mengerjakan semuanya?" keluhku.
"Haiiist, apa kamu mau kena denda dalam perjanjian itu? Apa kamu mau bayar sewa tinggal disini, enggak 'kan?."
"Jangan mentang-mentang sudah menikah denganku, tinggal disini maunya minta gratis. Apa ngak lihat, sayuran sama daging kayak gini beli makai uangku," Suara pergitungannya yang terdengar memuakkan.
"Kalau kamu tidak suka dan perhitungan, ya jangan nyuruh aku tinggal disini. Aku masih punya rumah, jadi jangan berlebihan ingin memanfaatkanku jadi babu," balas tidak mau mengalah.
"Kamu itu susah benar diatur. Silahkan tinggal ditempat orangtua kamu itu, tapi jangan salahkan aku jika mereka akan banyak bertanya-tanya mengenai pernikahan kita," Santai Arjuna berhasil mematahkan omongan.
"Huuff, iya ... iya." Seketika diam kehabisan kata-kata.
"Lagian kewajiban seorang istri adalah menjaga rumah, agar bisa ditempati pasangannya dengan nyaman. Masalah kerja nanti akan kupikir-pikir lagi. Jangan sampai tanpa seizinku kamu akan keluar dari rumah ini, mengerti!" ancamnya.
"Tapi 'kan."
__ADS_1
"Ngak ada tapi-tapian. Itu adalah keputusanku, jika kamu melanggarnya siap-siap keluarkan uang denda atas perjanjian."
"Iya ... iya."
"Ya sudah, aku akan siap-siap berangkat kerja. Kamu bereskan ini semua nanti sebab takut terlambat berangkat nanti."
"Aahaaa. Lain kali jangan lupa bangun pagi-pagi, biar aku tidak masak lagi, oke!" imbuhnya yang sudah mengedipkan mata.
"Emm."
Nasi sudah kuaduk-aduk saja tanpa memakannya lagi. Rasa kesal atas perintah Arjuna membuat nafsu makan jadi berkurang.
Semua perkataan Arjuna ada benarnya, tapi masak harus terkurung mengerjakan pekerjaan rumah sendirian.
"Apes dah, nikah sama dia. Berasa tidak adil saja jika aku mengerjakan semua pekerjaan rumah ini!" keluh hati.
Semua sudah rapi tersusun dirak piring ketika selesai mencucinya. Sekarang akan berlanjut mengerjakan perintah Arjuna, yaitu mengerjakan yang lainnya.
Tangan sudah memegang sapu pel. Lantai yang masih bersih tetap ku pel, biar si Arjuna puas tidak banyak ngomel lagi.
"Aku mau berangkat kerja," pamitnya yang kini sudah berdiri tepat didepanku.
"Kalau mau pergi ... pargi saja," sewotku.
"Benar-benar tidak ada sopan-sopannya. Cium tangan dulu atau ucapkan selamat tinggal, kek!" keluhnya.
"Huuuuuf!" Hembusan nafas berat.
"Iya, maaf!" Tangan sudah meraih telapak tangan Arjuna yang lebar untuk segera mencium takzim.
"Bisa dimaafkan."
"Kalau kerja yang bener, jangan sampai ada sedikit debupun yang menempel. Awas saja kalau tidak bersih, maka akan kusuruh kamu mengulangnya."
"Emm, iya ... iya bawel!" Kepasrahan tidak mau membantah, sebab pasti akan kalah omongan juga.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Bye."
"Oke, bye ... bye."
Tubuhnya sudah hilang dari pandangan. Rasanya ingin kuayunkan sapu kuwajahnya itu, biar tidak seenaknya main menyuruh-nyuruh.
"Nasib ... nasib. Bukannya melepaskan status dapat menikmati keindahan pernikahan, ini malah tersiksa disuruh ini itu."
"Ngak tanggung-tanggung juga dia nyuruh tadi. Dasar Arjuna tidak berperasaan. Orang kaya kok pelit amat tidak nyewa pembantu. Apa jangan-jangan ini memang siasat dia, supaya aku bisa jadi babu dia gratis tanpa dibayar?."
__ADS_1
"Ahh, memang kayaknya benar ini. Awas saja Arjuna, aku akan balas dendam atas perlakuanmu ini. Tunggu saja," guman hati yang terus saja kesal.