
Tatapan wanita yang sudah sah menjdi istri selalu membuatku berdebar. Perasaan yang aneh mulai merajai jiwa. Rasanya ingin terus berlama-lama dengan Liona, tapi keadaan yang tak memungkinkan diantara kami, harus tidak bisa berdekatan lebih dari sebelumnya.
Tangan lembut dan putih telah telaten menyuapi sesuap demi sesuap, untuk segera masuk ke dalam mulutku. Dengan sabar dia merawat diri ini yang masih sedikit lemah. Efek obat yang tertelan sungguh dasyat, hingga rasanya tenaga terkuras habis bagaikan sebulan penuh sedang kerja nguli.
Tisu secara perlahan-lahan telah terelapkan dibibir yang ada bekas makan. Dari menyamping sampai bibir tengah, tangan liona terus menyapukan tisu agar tidak ada minyak atau bekas yang tersisa. Sikapnya bikin diriku salah tingkah saja, namun sebisa mungkin menahannya agar tidak diketahui Liona, yaitu dengan meremas kuat sprei pembaringan rumah sakit.
"Nah, sudah semua. 'Kan enak kalau dilihat, tidak belepotan seperti tadi," cakapnya sudah selesai.
Wajah kami hanya menyisakan beberapa centi saja yaitu sangat dekat sekali. Nampak indah memesonakan jiwa. Berkali-kali menahan nafas agar bisa menahan gejolak yang semakin membuncah.
"Hehehe, terima kasih sudah merepotkan kamu."
Rembulan yang bersinar diatas awan.
Begitu nampak indah diseluruh wajahmu.
Biarpun aku mati tidak bisa menghirup udara lagi.
Yang terpenting keindahan wajahmu tetap bisa kulihat.
...Dinginnya es bisa meleburkan rasa....
...Putihnya awan nampak menyejukkan jiwa....
...Tanpa sadar senyumanmu itu selalu melelehkan hati....
...Hingga terbuai lama akan pesonamu....
Panas mentari begitu menyengat raga.
Namun bisa tertahan oleh sejuknya angin.
Panasnya hati selalu bikin getaran.
Namun rasanya sudah tidak bisa tertahan lagi.
"Iya ngak pa-pa. Mungkin ini adalah kewajibanku."
__ADS_1
Liona sudah melengang pergi, untuk membuang bungkus makanan di tong sampah.
"Kewajiban? Em, apakah Liona serius dalam hubungan pernikahan ini? Tapi apakah kami bisa bersatu jika diantara kami ada rasa? Kayaknya mustahil, tapi kenapa enggak dicoba dulu, ya?" guman hati banyak tanya.
"Tapi Liona kayaknya ogah banget sama diriku? Terlihat dari sikapnya selama ini, apakah mungkin dia akan menerimaku dengan baik, sementara aku pria yang tidak sempurna dimata dia, mungkin," guman hati yang kurang yakin.
Liona sudah kembali dengan membawa botol minuman berserta cangkir. Tidak lama kemudian gelas yang sudah berisi air telah disodorkan kepadaku. Tangan sudah terulur ingin menyambut baik gelas itu, namun begitu terkejut saat Liona tanpa ragu ingin mendekatkannya pada bibir.
Mungkinkah Liona sekarang menganggapku sebagai bayi besarnya, yang makan dan minum saja perlu disuapi dari tangannya.
"Aku mau keluar dulu. Ini ada Chandra menghubungi, dia bawa peralatan tidur dan nyuruh keluar untuk bantuin membawa. Kamu baik-baik disini!" Izinnya.
Tangan halusnya sudah membelai pipi. Rasanya ada aliran listrik yang menyengat jiwa, hingga tersontak kaget dengan tingkah agak bermanja.
"Oh iya, kamu juga hati-hati. Jangan bawa berat-berat."
"Sipp."
Lambaian tangan kecil sudah terjadi. Hanya bisa menjawab dengan wajah mringis penuh kebahagiaan.
"Astaga .... astaga. Apa yang dilakukan Liona tadi!" Tangan meraba pipi bekas belaian Liona tadi.
"Aku tidak mimpi 'kan?" Memastikan dengan cara mencubit pipi sendiri.
Wajah kucoba kututup selimut, dengan muka bak orang tak waras sumringah sendirian. Rasanya nyes-nyes malu, tapi mau diulangi lagi apa yang Liona lakukan tadi.
"Hai sayang. Apa kamu baik-baik saja?" Tiba-tiba ada suara seorang wanita memeluk diriku yang masih bersembunyi dibalik selimut.
"Ahaaiiiii, Liona manggil sayang!" Hati kian berbunga-bunga tanpa terkendali.
"Aku kangen banget lho sama kamu," Sepertinya dari suara bukan istri.
"Astagfirullah, siapa dia? Kenapa kangen? Apa jangan-jangan dia itu ... dia itu?" Kekagetan hati.
Selimut langsung kubuka kilat.
"Aaaakhhhhhhh!" Teriakku begitu kencangnya.
__ADS_1
Tubuhku langsung kugeser menepi, agar bisa lepas dari pelukan wanita yang kukenal.
"Ada apa ... ada apa, Arjuna?" Sonia panik.
"Kamu kenapa, sih?" Marahku.
"Eghemm ... egkkkm!" Deheman Liona yang menambah kaget.
"Aaah, kenapa begitu apes. Liona kenapa datang? Jangan-jangan dia tadi melihat aksi Sonia?" guman hati mulai gelisah.
Liona terlihat cemberut, sambil meletakkan alat-alat yang baru dia bawa selama menunggui di rumah sakit. Cakrapun memicingkan mata melihat heran kearah kami.
"Emm, sorry. Tadi tidak sengaja main peluk. Tahu sendiri 'lah kalau aku sedang rindu banget sama kamu, Arjuna!" Terang Sonia.
"Tapi tidak juga harus memeluk!" keluh tak suka.
"Benar, Sonia. Lagian bos sudah menikah!" Simbat Cakra membela.
"Ciiih, diam kamu, Cakra."
Liona hanya duduk dengan muka masam, sambil fokus ke arah layar handphone. Aku tahu sekali kalau dia sedang pura-pura tidak mendengar obrolan kami.
"Sudahlah. Kamu tahu dari siapa, aku sedang berada disini?" tanyaku pada Sonia.
"Sonia gitu loh. Orang kaya, pasti mudah sekali untuk mencari informasi."
"Hmm, tapi aku baik-baik saja, jadi tidak perlu berlebihan khawatir begitu," ketus berkata.
"Mana ada baik, jika kamu masuk rumah sakit gini."
"Tapi tidak parah sangat 'lah. Jadi tidak perlu berlebihan lebay."
"Parah tidak parah, tapi aku tetap khawatir sama kamu. Lagian sayangku tidak akan pernah pudar, walau kamu sudah menikah sekalipun sama orang lain," ucapan Sonia terdengar memuakkan, sambil matanya melirik tak suka ke arah Liona.
"Sudah ... sudah. Kalau kamu khawatir, sebaiknya kamu pergi dari sini, biarkan bos banyak istirahat agar bisa cepat sembuh, paham!" Cakra sudah menarik kuat tangan Sonia.
__ADS_1
"Tapi ... tapi! Lepaskan tanganku dulu, Cakra. Aku belum selesai menjenguk Arjuna!" Sonia kelihatan meronta, tapi kalah kekuatan sebab Cakra terus menarik mengajak kelur ruangan diriku dirawat.
Akhirnya selamat juga dari pengacau, tapi tidak selamat dari sikap Liona yang kelihatannya sedang marah. Lagi-lagi harus mencari cara agar bisa mencairkan suasana hatinya.