Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Rapat mengenai solusi


__ADS_3

Rapat pemegang saham telah dimulai. Banyak orang sudah menunggu kehadiranku. Walau terlambat, aku tetap santai memasuki ruangan, yang sudah ramai ada para bos pemegang saham.


Banyak laptop sudah berjejar rapi didepan mereka. Tidak lupa sebuah cangkir berisikan air teh, ikut andil jadi teman dalam rapat. Air putih dalam botol, juga ikut hadir sebab takut jika ada yang tidak suka rasa manis gula.



"Selamat siang semua," sapaku ambigu.


"Wah, saya kira Tuan muda tidak akan hadir," balik sapa bos berbadan kurus.


"Jika Tuan muda tidak hadir, nanti akan jadi bagaimana rapat ini. Sementara hanya dia saja yang bisa menyelesaikannya," puji yang lain.


"Benar 'tuh. Kalau tidak ada Tuan muda, bisa-bisa jadi berantakan rapat yang penting ini nanti," simbat yang lainnya.


"Ehgkem ... hmm. Bukan itu yang jadi masalah sekarang. Kita langsung mulai saja pokok permasalahan rapatnya," cakapku tegas.


"Gimana? Apa ada usul yang jitu, untuk kita semua segera memiliki tanah itu?" tanyaku pada semua orang.


"Kalau cara jitu kami tidak tahu."


"Lah, terus bagaimana ini? Kalian kukumpulkan disini, untuk mencari solusi mengenai masalah ini," jawabku tidak suka.


Semua terlihat terdiam, tanpa ada yang memberi jawaban lagi. Aku yang geram melihat ini, ingin marah tapi tidak bisa sebab tahu betul jika tanah itu akan sulit didapatkan.


"Bagaimana kalau kita paksa mereka untuk memberikan, tapi dengan cara halus diberi iming-iming," usulku memberi ide.


"Kalau secara paksa, pasti mereka akan membalas dengan kekerasan. Kalau diberi iming-iming dengan sejumlah uang contohnya, pasti akan menolak sebab yang dibutuhkan mereka bukan itu," jawab bos bidang perkebunan buah.


"Benar juga apa yang kamu katakan. Mereka sepertinya tidak bisa diremehkan," jawabku mencoba berpikir lagi.

__ADS_1


Sekian detik, kami masih berdebat mengenai pemecahan masalah. Namum lagi-lagi masih buntu saja jalan keluarnya.


"Ada ide sekertaris, Cakra?" tanyaku.


Mata kini melotot tajam ke arah sekertaris, yang sedang tidak fokus memainkan handphone terus.


"Eeh ... iya, Bos. Tadi tanya apa?" Balik tanyanya yang bikin kesal.


"Apa kamu mau kupotong gaji sekarang?" tanyaku menguji.


"Hahaha ... hhhhh," gelak tawanya yang aneh.



Plak, dengan kasar map tebal kupukulkan dibahunya. Dengan sigap pulak, sekertaris Cakra mengusap pelan rasa sakitnya.


"Hehehe, maaf Bos!" jawabnya cegegesan.


"Kalian saja tidak ada ide, apalagi aku!" Suaranya nyolot tidak tahu.


"Haaiist, benar-benar mau dipotong gaji ini orang. Atau mau kutampol itu mulut, biar tambah jontor tidak bisa menjawab," Kekesalanku marah.


"Hehehe, ampuni hambamu ini, Bos."


"Aiich, banyak cegegesan pulak sekarang. Benar-benar ingin dipecat ini orang."


"Waduh, masak tidak bisa memberi ide saja, main pecat orang," keluh Cakra tidak suka.


Mimik wajahku sudah ngedumel ingin marah kasar padanya. Oleh banyak orang saja, dia sekarang bisa selamat. Jika tidak ada saja, pasti sudah gosong itu muka sebab kuhajar habis-habisan.

__ADS_1


Semua orang hanya bisa tertawa kecil, melihat perdebatan kami barusan.


Cukup lama kami berpikir, tapi masih saja berputar-putar tidak bisa menemukan ide.


Gradak, pintu tiba-tiba dibuka.


Syok, yang kulihat sekarang. Saat Nenek cetar telah datang tiba-tiba, dikawal oleh beberapa anak buah wanita dan laki-laki.


"Egkhem ... hem," Dehemanku kaget.


Tubuh yang tadinya sempat duduk santai, sekarang kubenahi agar tidak kena marah Nenek.


"Apa kalian sudah selesai mengenai solusi perebutan tanah itu?" tanya Nenek tegas.


"Belum?" jawab kompak semua orang.


"Kamu itu bagaimana, Arjuna? Masalah kecil begini saja tidak bisa," keluh Nenek menatap tajam ke arahku.


"Ya ... ya, aku salah."


"Baiklah, aku ada solusi yang ampuh dan jitu. Tapi tergantung sama cucuku yang bocil ini. Jika dia setuju, akan lanjut memiliki tanah itu, tapi jika dia tidak mau terpaksa melupakan impian kalian untuk memiliki tanah itu," terang beliau.


"Apa maksudnya, Nek?" tanyaku tidak mengerti.


Plak, sebuah map hitam begitu kasarnya dijatuhkan dimeja.


Tanpa membuang waktu langsung kubuka mengenai ksinya.


"Baca itu baik-baik. Perhatikan pelan-pelan atas isinya, sebab isinya itu akan sama-sama menguntungkan kalian," jelas beliau.

__ADS_1


Mata begitu terbelalak kaget atas isinya. Cakra yang ikutan mengintip membaca, kini menatap ke arahku dengan tajam. Kami berdua begitu syok, atas perjanjian yang manurutku tidak masuk akal dan akan bikin gila diriku.


__ADS_2