
Apapun akan kulakukan demi mendapatkan yang kuinginkan apalagi cinta. Sudah bertahun-tahun rasa ini kuat sekali padanya, namun kenapa sekarang harus terpatahkan oleh pernikahan yang mendadak dan terasa aneh.
"Lepaskan ... lepaskan aku, Cakra!" pintaku dengan cara ingin menarik tangan.
Pergelangan sudah sakit sekali, saat Cakra mencengkramnya begitu kuat. Tangan terus saja meronta ingin terlepas, namun kekuatan Cakra tidak tertandingi.
Saat meronta, wajahnya kini berbalik menatapku dengan wajah serius dan kelihatan ada emosi.
"Baiklah. Aku akan melepaskan kamu, tapi dengan syarat kamu diam, tidak berbuat aneh-aneh dan berulah lagi," Peringatannya.
"Iya ... iya!" jawabku lesu sambil menundukkan kepala.
Perlahan-lahan jari Cakra sudah mulai melonggarkan. Tangan berusaha mengelus-elus pergelangan tangan, ketika ada rasa panas dan ngilu.
"Kenapa kamu tidak bisa menepati janji, untuk tidak membuat kekacauan diacara bos Arjuna. Kalau ketahuan pasti aku yang akan kena masalah, paham!" ucap Cakra sudah ngomel-ngomel.
"Iya, Maaf!" jawabku sendu ingin menitikkan airmata.
"Aku tadi sudah tidak tahan melihat mereka bersanding dipelaminan. Kamu tahu sendiri aku telah berjuang mati-matian sudah lama untuk mendapatkannya, dan rasanya itu nyesek sekali saat orang yang kucinta kini sudah menjadi milik orang lain. Huuuaaaa ... huuuuuaaa!" Suaraku sudah mengencangkan suara menangis.
"Huust, diam bisa ngak sih!" Cakra langsung saja membekap mulutku.
Wajahnya sudah clingak-clinguk melihat keadaan sekitar, untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang melihat ke arah kami.
"Emm ... eem." Rotaanku minta dilepaskan.
"Aaaakkk ... hhhh."
"Gila apa kamu!" Kesakitannya saat telapak tangan berhasil kugigit.
"Habisnya kamu main bekap mulut orang saja."
"Gimana tidak membekap kamu, jika menangis sambil berteriak begitu."
Cakra segera mengelus tangan yang kena gigitan.
"Iya ... iya, aku salah. Huuuf!" Hempasan udara lewat mulut.
"Aku sudah berbaik hati menolong kamu untuk datang kesini, tapi mengapa harus mengacaukan semuanya?."
"Sangat ... sangat tahu jika kamu cinta mati sama bos Arjuna, tapi apa tidak bisa mengikhlaskan dia untuk menjadi milik orang lain, hah?" murka Cakra sudah emosi.
"Tidak bisa, Cakra. Kamu itu tidak paham posisiku sekarang, jadi mana tahu rasa hati yang sakit ini," jawabku sudah tersedu-sedu.
__ADS_1
"Paham juga."
"Tapi apakah kamu masih belum sadar, kalau orang yang kamu cintai kini sudah sah menjadi milik orang lain dan itu tidak akan mungkin kamu miliki."
"Entah seberapa luas dan setinggi apa cintamu itu, yang jelas selamanya bos Arjuna tidak akan membalas cintamu itu, paham!" tekan Cakra.
Sesegukan dengan airmata yang sudah keluar bagaikan air bah sekarang mulai tak terbendung lagi, saat hanya diam membisu sambil terus saja mendengarkan ocehan Cakra yang terdengar ada benarnya.
Entah berapa tisu yang sudah terpakai. Ingus terus saja keluar saat tidak henti-hentinya menitikkan airmata. Cakra terus saja memberi ceramah agar aku sadar, tapi pada kenyataannya tidak bisa, sebab cinta ini sudah terlalu dalam tertancap dihati.
"Lihatlah ke arah sana!" Suruh Cakra saat telunjuknya mengarah ke pintu utama.
Nampak pemandangan yang memuakkan. Rasanya dada tidak bisa bernafas dengan benar, saat melihat kemesraan Arjuna telah mengendong istri barunya itu.
Tangan hanya bisa mengepal kuat, namun tidak bisa melangkah maju untuk marah pada mereka.
Kalau secara nyata itu bukan urusanku, namun orang yang jelas-jelas cintanya sedang kukejar telah menjadi milik orang lain sungguh sangat menjengkelkan.
"Apa kamu masih belum sadar melihat kemesraan mereka?" Suara Cakra yang terdengar menyebalkan.
"Diam!" bentakku tidak suka.
"Kamu tahu jika kita berteman sudah sejak lama, jadi aku mohon mengertilah dan berusaha ikhlas melepaskan bos Arjuna. Jika kamu ingin mendapatkannyapun itu sangat mustahil, dikarenakan mereka telah terikat ikatan yang sah dan pastinya akan susah untuk terpisahkan, paham!" jelasnya.
"Janganlah kamu berbuat yang aneh-aneh atas rasa cinta buta itu. Diluaran sana masih banyak pria yang ingin cinta dari kamu. Jadi mulai sekarang belajarlah untuk melupakan bos Arjuna, maka kamu akan tenang menjalani hidup ini tanpa rasa ingin memilikinya lagi," nasehat Cakra.
"Entahlah, teman. Rasa ini dari dulu terus saja terpendam tanpa Arjuna membalasnya. Saat berjuang ingin mendapatkan tidak ada kata menyerah untukku, yang ada hanya semangat ingin terus mencintainya. Dia bagaikan pria yang tidak bisa tergantikan oleh siapapun, jadi rasanya akan susah sekali melupakan dia begitu saja," keluhku yang sudah meredanya tangisan.
"Aku paham, Sonia. Rasa itu tidak harus secepatnya dibuang, tapi harus perlahan-lahan untuk mengikisnya. Tidak ada yang tidak mungkin jika kamu berusaha. Cobalah untuk membuka lembaran hati baru, maka kamu akan bisa melupakan cintamu yang tak terbalas itu."
"Emm. Semoga saja bisa, Cakra."
Obrolan terus saja terjadi dari hati ke hati antara teman. Cakra dari dulu adalah pelipur laraku saat Arjuna sering kali mematahkan perasaan ini. Dia juga adalah teman baik yang selalu ada dikala aku down, yaitu menghadapi cinta yang bertepuk sebelah tangan ini.
Semua nasehatnya terdengar sangat masuk akal, namun rasa ini tidak bisa hilang begitu saja. Perjuangan jatuh bangun, malu, tidak kenal lelah, terus berjuang, patah hati, semua rasa itu sudah kulalui.
Entah mengapa aku begitu tergila-gila pada pria yang namanya Arjuna. Seringnya dia menolak cinta, akupun semakin sering untuk semangat mendapatkannya.
Kucoba memahami
Antara kisah kau dan diriku.
Aku merasa telah hampa
__ADS_1
Oleh rasa cinta yang tak bisa kusentuh.
Asmara begitu mendekatkan kita
Mengingatkan segala kenangan indah.
Rayuan cinta ini terus saja terbayang.
Sampai hiduppun penuh akan rasa sayang itu.
Jujur ...
Aku tidak bisa hidup tanpamu disisiku.
Mungkinkah ...
Rasa ini akan membuatku semakin mengila.
Perpisahan ini begitu menyiksa
Apakah aku kuat menjalaninya?.
Caramu yang melukai
Begitu manis dan membuat syok.
Tapi apalah daya tangan tidak bisa meraih
Hanya bisa menatap engkau tersenyum diatas sana.
Bayangan pelaminan itu selalu kuimpikan
Namun kenapa harus orang lain?.
Sadar diri tak bisa meraih
Yang bisa kutatap sekarang, hanyalah sejuta kesedihan dan rasa sakit.
"Yang dikatakan Cakra ada benarnya, tapi bagaimana aku harus memulai ini semua? Apa yang harus kulakukan untuk melupakannya segera?."
"Eeeh, tapi ... tapi. Ada yang aneh ngak sih sama pernikahan mereka? Emm, apa ya itu?" rancau hati yang terus saja berpikir.
"Ahaaa, bukankah pernikahan mereka terjadi secara mendadak. Bukankah itu terasa janggal dan aneh saja, kenapa harus cepat begitu dan mendadak. Apa aku harus mencari tahu sebabnya, biar hatiku bisa puas dan plong untuk melepaskan Arjuna?."
"Iya benar, sepertinya aku harus mencari tahu sebabnya?" guman hati yang mantap ingin mencari tahu.
__ADS_1