Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Masih Bingung Mencari


__ADS_3

Perjalanan yang lama terasa melelahkan saat tidak sabar ingin sampai ke tempat tujuan. Bahasa tubuh terus menampakkan kegelisahan. Tidak bisa menyembunyikan baik rasa khawatir ini. Apalagi mendegar kabar dari sekertaris kalau Liona belum ditemukan dan pulang ke rumah.


"Hei, Bos. Sini ... sini!" Suara Cakra memanggil.


Sengaja kusuruh dia untuk menjemput dibandara. Aku tidak ingin menyiakan-nyiakan waktu untuk terus mencari. Walau lelah pikiran dan fisik aku harus segera menemukan wanita itu. Takut sekali kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dia sangat berharga jadi jangan sampai dia terluka maupun hilang tanpa jejak.


"Gimana? Apakah ada kabar tentang, Liona?" tanyaku tak sabar.


Kami berdua sudah berjalan tergesa-gesa. Langkah melebar, sampai Cakra tidak bisa mengimbangi sehingga harus berlarian kecil.


"Belum, Bos. Tapi sudah aku kerahkan semua anak buah untuk mencari."



"Bagus. Kita akan mencari juga. Ketempat yang pernah kami datangi dan tempat favoritnya."


"Baik, Bos."


Semua serba buru-buru. Langsung naik mobil jemputan. Gawai mulai tersambung ke beberapa teman Liona. Siapa tahu mereka sedang menampung wanitaku. Namun kelihatannya kabar baik masih saja belum aku terima.


"Ada apa sih, Bos. Kok bisa kamu kecolongan hilang istri begini?" Cakra tidak sabar ingin tahu.


"Ceritanya panjang, nanti akan aku ceritakan. Yang terpenting kita temukan Liona dulu."



"Baiklah. Maaf kalau menambah beban kamu atas pertanyaan tadi."


"Tidak apa-apa. Wajar jika kamu bertanya."


Tangan masih saja sibuk dengan gawai. Beberapa nomor terus aku hubungi. Jadi kesal sendiri, sebab tidak ada celah menemukan dimanakah keberadaannya sekarang.


"Aku ingin kau selidiki teman kita, Sonia."


Mata sibuk melihat handphone, sedangkan mulut terus mengoceh.


"Duh, kenapa dengan wanita itu? Apa dia berbuat ulah lagi sama kamu?"


"Selidiki saja dia, sebab sudah berani membuat kekacauan ini. Aku ingin semua rekaman CCTV dibali kamu dapatkan. Jangan sampai ada yang tertinggal sedikitpun. Bila mereka tidak memberikan paksa, sebab ini penting sekali."


"Sampai separah itu 'kah kamu ingin meyelidikinya. Apa sih yang dia telah lakukan. Patut saja dia nyusul ke Bali kemarin. Firasatku mengatakan tidak baik."

__ADS_1


"Aaah, braaakkk!" Akibat kesal handphone kubanting dikaca.


Cakra sempat terkejut. Namun bisa menetralkan dan mamahami kembali atas sikapku itu, sebab dia tahu kalau diri ini sedang dilanda kebingungan dan kekhawatiran.


"Sabar, Bos. Kamu tenangkan diri dulu. Yakinlah, kalau Liona baik-baik saja dan kita segera mendapatkan kabar dimana dia sekarang." Cakra berusaha menghibur.


Wajah kuusap kasar.


"Iya, Cakra."


Lelah rasanya menghadapi ini. Masalah begitu berat. Pasti bakalan kesusahan menjelaskan semua. Belum terjelaskan begini saja Liona sudah membuatku pusing dan kebingungan.


Dari arah mana aku harus mencari. Tidak ada sedikitpun petunjuk yang bisa membantu. Pikiran benar-benar buntu dimanakah lagi harus mencari. Laju mobil tidak tahu akan berlabuh dimana, sebab tak ada tujuan yang pasti untuk menemukan.


Drzttt ... dzttt, tiba-tuba gawai Cakra berbunyi. Melirik sedikit sebab kepo dari siapa.


[Hallo, iya, Tante. Ada apa?]


Ternyata adalah orangtua. Tumben dia menelpon di Cakra.


[Apa Arjuna ada bersama kamu? Kata pihak hotel dia sudah out dari sana]


[Iya, Tante. Bos sudah pulang ke kota kita dan sekarang dia bersamaku]



[Bagus kalau begitu. Berikan terlephonenya pada Juna]


[Baik, tante]


Cakra menyerahkan gawainya dan aku menyambutnya dengan baik.


[Ada apa, Ma]


[Dasar anak durhakim. Sekarang kamu pulang ke rumah]


Kaget seketika, saat terdengar ucapan Mama sedang marah besar.


[Memang ada apaan sih, ma? Kenapa berbicara pakai teriak-teriak segala. Aku sekarang tidak bisa pulang sebab ada urusan lebih penting]


Tidak langsung menceritakan permasalahan kami, sebab kalau tahu menantunya hilang pasti bakalan kena semprot habis-habisan.

__ADS_1


[Pulang sekarang, ngak? Atau kau mau tidak kuakui sebagai anak]


Ancaman yang membingungkan. Cakra dan akau sama-sama melirik sebab merasa heran. Begitu menakutkan kalau beliau sedang emosi.


[Kok gitu sih, ma. Memang ada apa'an, sih? Pakai ngancam segala]


[Tidak usah banyak drama dan alasan. Cepat pulang ke rumah sekarang, sebab Liona sudah menceritakan semuanya]


[What?]


Bukan main jantung mau copot akibat kaget.


[Cepetan ke sini, paham]


[Baik ... baiklah. Aku akan ke sana secepatnya]


[Mama tunggu]


Tut, sambungan diputuskan.


"Wah, kelihatannnya kamu bakalan kena masalah besar, Bos. Sepertinya tante ingin menelan kamu bulat-bulat."


"Hhhh, iya, Cakra. Sekarang kita pulang kerumah. Ternyata Liona aman dan sekarang dia ada dirumah utama," Lesunya menjawab.


"Baik. Apa sih yang sebenarnya terjadi?"


"Nanti kamu akan tahu. Sekarang turunlah. Biar aku saja yang menyetir."


"Tapi, Bos."


"Tidak usah banyak tapi-tapian. Aku mau datang ke rumah kesana secepatnya."


Sorot mata tajam. Cakra sudah mengerti. Jika menjawab dan membantah pasti akan tambah murka amarah ini.


"Oh, ok ... ok."


Mobil sudah berhenti ditepian. Cakra dan aku turun dan segera berlarian kecil untuk berpindah posisi.


"Bos, hati-hati. Bisa ngak jangan ngebut-ngebut begini," Cakra mengeluh saat tanpa henti mobil menyalip dari kanan kiri.


Tangan Cakra terus saja berpegangan. Wajahnya kecut, berkerut, bahkan memejamkan mata ketika dengan gesit diriku terus membanting setir, untuk menghindari dan menyalip laju mobil didepan kami.

__ADS_1


Mobil yang menghalangi kupotong semua. Pikiran begitu kalut sampai nyawa yang akan jadi taruhan saja kubiarkan. Harus segera sampai ke rumah. Banyak penjelasan yang harus diluruskan. Semoga saja Liona masih mempercayaiku, mengingat kesalahan ini begitu fatal.


__ADS_2