
Masih saja binggung mencari cara. Wanita mudah ditaklukkan tapi kadang juga susah membujuk. Banyak keunikan tentang wanitaku itu, hingga hati yang sempat beku pada orang lain berhasil dia cairkan. Sejuta pesona, membuat hati ini terus merasa berdebar hebat jika berada didekatnya.
Pagi-pagi membeli makanan, dan menyantapnya diruang santai. Sengaja duduk disini agar bisa melihat pujaan hati. Pelan namun pasti nasi kutelan. Mau makan tidak sedap, tapi perut selalu keroncongan dan terus bertabuh minta diisi.
"Kemana ya, Liona? Kenapa dia tidak muncul sama sekali? Ini hampir siang nih!"
"Apa dia sedang tidak ada dikampung ini? Kenapa sejak tadi malam tidak melihat dia berseliweran seperti biasanya!"
Banyak kekahwatifan yang tertera dipikiran.
"Mungkinkah dia lagi sakit? Atau merenungkan nasib rumah tangga kami?"
Sudah berpikiran kemana-mana. Mau melihatnya lebih dekat, tapi ada halangan saat penyamaran. Kalau sampai terbongkar pasti tidak bisa medekati Liona untuk mengajak balikan.
Netra terus saja fokus ke arah pintu utama, berharap-harap orang yang ditunggu segera muncul. Dugaan benar, dia muncul. Wajahnya begitu muram. Ada desiran bersalah terlalu dalam.
Makan kusudahi. Membuang bungkus nasi ke tempat sampah. Ingin segera menghampiri. Semoga saja dia mau diajak ngobrol. Rindu akan suaranya. Sudah lama tidak terdengar ditelinga.
"Hei, cantik!" sapa berbasa-basi.
"Hei juga,"
Akhirnya suara itu bisa menenangkan jiwa. Walau sekedar sapaan, tapi cukup untukku bisa merasakan ketentraman. Samaran memang bermanfaat. Berharap banyak bisa berhasil.
"Sudah lama kita tidak bertemu."
"Iya, lama."
Liona, sedang sibuk mempersiapkan segala macam peralatan untuk membersihkan lantai. Aku hanya mengamati dan menungguinya sambil bersandar ditembok.
__ADS_1
"Gimana kabarmu?"
"Alhamdulillah baik."
Tangan bersedekap didepan dada, sambil ingin mencari informasi lebih banyak. "Tapi aku melihatnya kamu sedang tidak baik-baik saja."
"Mana ada. Aku selalu baik. Perasaan kamu saja itu."
Masih ingin berdebat. "Wajahmu itu sangat ketara, dan sepertinya kamu tidak pandai menyembunyikan sesuatu."
Liona ikutan bersandar ditembok. Sapu pel dia ketuk-ketuk pelan dilantai. Banyak hembusan nafas yang dia lakukan. Sepertinya ingin melegakan sesuatu.
Raut wajah sedih. "Aku memang sedang dilanda masalah. Bingung akan semua kejadian yang menimpaku sekarang ini."
Tertunduk lesu. Suaranya serak-serak basah, yang sepertinya ingin mengalirkan sesuatu dari pelupuk mata.
"Hanya msasalah biasa sih. Tidak apa-apa kamu ikut campur. Lagian kita sudah kenal. Mungkin aku memang harus mengeluarkan uneg-uneg dihati, biar rasa yang sesak didada ini sedikit mereda."
"Terima kasih sudah memepercayaiku dan masih menganggap teman."
"Seharusnya aku yang berterima kasih, sebab sudah merepotkan dan mendengar keluh kesahku yang tidak bermanfaaat ini. Ok! Kita sepakat jadi teman 'kan."
"Oh, tentu saja." Tangan menjabat baik.
Ingin rasanya memdengar semua apa yang dikeluhkan Liona, tapi sepertinya dia masih berat untuk menceritakan semuanya. Sangat paham jika dia bakalan susah sembarangan bercerita, dikarenakan ini masalah rumah tangga yang tidak boleh sembarangan dibeberkan pada orang lain.
__ADS_1
Mencoba memancingnya. "Apakah aku boleh tahu apa masalah yang kamu hadapi sekarang?"
"Hh, untuk sementara waktu aku belum bisa bercerita. Maaf ya. Mungkin butuh waktu untuk memberi curhatan pada orang lain.
"Tidak masalah. It's ok. Yang penting kamu jangan terlalu sedih begitu lagi. Wajah kamu kelihatan jelek banget lho itu."
"Benarkah? Masalah wajah aku tidak peduli, yang terpenting hati ini yang perlu dipikirkan."
Mencoba menasehati, siapa tahu Liona mau mendengarkan."Ya sudah. Tata hatimu agar lebih baik lagi. Jangan sampai akibat masalah itu kamu jadi sakit. Yang penting sekarang aku akan jadi teman setiamu dan akan selalu ada untukmu, jadi jangan merasa sendirian atau masalah itu tidak bisa terselesaikan."
"Thanks kawan. Kamu baik sekali. Padahal kita tidak begitu akrab dan saling kenal lebih dekat, namun entah mengapa seperti ada magnet yang mencoba membuat hubungan pertemanan kita lebih dekat."
"Iya nih. Mungkin sudah jalannya agar kita bisa dekat."
"Ya sudah. Aku lanjut mau ngepel dulu. Takutnya pelanggan pada keluar melewati sini dan kerjaan belum selesai sudah dipijakki, 'kan takutnya malah bikin diriku kerja dua kali membersihkan."
"Iya, lanjutkan saja. Aku juga lagi ada kerjaan. Kalau ada apa-ala panggil saja. Kamu tahu nomor kamarnya 'kan?"
"Iya, tahu. Baiklah. Pasti aku akan menemui kamu kembali."
"Bye ... bye. Jangan sedih lagi. Senyumlah seperti kemarin, sebab aku suka melihat wajahmu yabg selalu menampakkan keceriaan."
"Bye ... bye. Insyaallah, pasti akan aku usahakan."
Melenggang pergi juga darinya. Pura-pura pergi dan menyudahi percakapan kami. Tidak ingin lebih jauh mengorek tentang masalah kami, sebab takut malah bikin dia menangis dan pasti akan susah untuk menenangkannya.
Dia masih sibuk mengepel. Tidsk tega meninggalkannya. Dibalik tembok mengintip, dan terus memperhatikan gerak geriknya. Tangan itu masih sibuk mengepel, namun disisi lain sudah menghapus sesuatu dipipi.
Hati ikutan sedih. "Ya Tuhan. Apa yang harus kulakukan untuknya? Kenapa wanitaku itu terus saja bersedih begitu?"
__ADS_1
"Hentikan itu, Liona. Aku tidak kuat dan sanggup lagi jika melihatnu terus menangis begitu. Sangat tersiksa dan ingin rasanya memeluk kamu. Tapi apalah dayaku yang hanya bisa diam ditempat, tanpa bisa melakukan apapun selain menatapmu dari jauh. Maafkan aku, sayang. Kau sangat berharga, maka jangan lagi ada airmata diantara kita. Semoga semua segera berakhir dan kita bisa merajut bahagia kembali seperti kemarin."