Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Perdebatan Di Apartemen


__ADS_3

Baju yang menjuntai dan menyeret sampai ke lantai, sekarang terpegang tangan supaya memudahkan diriku melangkahkan kaki.


Sampai dilokasi apartemennya langkah harus berusaha sendiri menapakkan kaki, tidak lagi mesra seperti perlakuannya diacara resepsi tadi.


"Kenapa dia selalu menyusahkan saja. Seharusnya kalau mau pulang ke rumah, tunggu aku ganti baju dulu. Huff, kenapa harus membuatku kerepotan akibat gaun ini," keluhku dalam hati.


Ting, lift sudah terbuka dan yang menekan barusan adalah pria memuakkan yang berhasil menjadi pendamping hidupku sekarang. Kami sudah sama-sama terdiam tidak ada yang ingin memulai percakapan.



Terasa lift sudah meluncur ke atas, entah dilantai berapa tempat tinggalnya, sebab memang tidak tahu saat anak buahnya yang membawa datang ketempat ini kemarin. Setelah sekian menit berlalu, akhirnya kami sampai juga.


Perlahan-lahan Arjuna sudah menekan kode apartemennya. Sedikit berusaha menyembulkan kepala agar bisa tahu berapa kodenya, tapi tiba-tiba dikejutkan oleh tatapan Arjuna yang berbalik melihatku sekarang.


"Nanti akan kukasih tahu kodenya. Jangan sok kepo ingin tahu," Datar ucapannya.


"Bukan kepo. Tapi 'kan ingin tahu saja, sebab bakalan tinggal disini."


"Hmm."


"Masuklah sekarang! Apa kamu tidak mau masuk," ketusnya dia menyuruh saat memegang pintu.


"Iya ... iya, sebentar."


"Apa kamu tidak lihat, kalau aku sedang kewalahan memakai baju ini," Mencoba melepaskan uneg-uneg.



"Heh, maaf. Tadi soalnya buru-buru mau menghindari Sonia saja, sampai lupa untuk menyuruh kamu ganti baju dulu."


"Bisa dimaafkan!" jawab ketusku sudah mulai masuk rumah.


"Lalu aku harus gimana ini? Baju tidak ada, 'kan tadi belum sempat berkemas-kemas. Apa kamu tega menyuruhku tidur dengan gaun pengantin ini?" tanyaku ngomel-ngomel.


"Masalah baju itu mudah. Tinggal pesan nanti akan diantar. Sekarang jangan banyak bicara, cepetan bersihkan wajahmu itu dulu."


"Baju nanti akan kuantar ke kamarmu, jadi harap tunggu dan bersabar, ok!" Santainya Arjuna menjawab.


"Hmm. Ok 'lah."


Tangan sudah memijit-mijit pelan pelipis kaki, saat rasa pegal akibat acara tadi masih terasa.


"Apa kaki masih sakit?" tanya Arjuna sudah melipat bagian lengan bajunya.


__ADS_1


"Sedikit pegal," jawab sambil masih sibuk memijit.


"Sini, biar aku bantu." Arjuna sudah berjongkok mendekatiku, yang sedang duduk disofa ruang tamu.


"Eeh, mau ngapain!" Kekagetanku saat tangannya mulai menyentuh kulit kaki.


"Mau bantulah," balasnya sewot.


"Hehehe, tidak usah!" Cegegesanku.


"Memang kenapa?" imbuh Arjuna sudah menarik kembali kaki, saat aku berusaha menjauhkan dari tangannya.


"Kan kita bukan mukhrim, mana boleh main sentuh saja," jelasku sudah malu-malu.


"Tahu, sangat ... sangat tahu. Tapi aku adalah suami kamu sekarang dan semua itu akibat ide pernikahan yang kubuat," jawabnya santai dan ringan.


"Hah, benarkah apa yang barusan dia katakan tadi? Apa aku tidak salah dengar atas ucapannya barusan? Suami? Kenapa dia bisa bilang begitu, sementara ini semua hanyalah pura-pura?" rancau hati yang bertanya-tanya.


"Sudah ... sudah, tidak apa-apa kok kakiku. Lagian rasanya sudah agak mendingan ini," jawabku berbohong.


"Benarkah? Ya sudah kalau begitu." Arjuna meletakkan kaki dilantai dengan perlahan-lahan.


Arjuna sudah berpindah posisi, untuk duduk saling berhadapan denganku. Tangannya sekarang sibuk menyingkirkan dasi kupu-kupu yang terpakai acara tadi.


"Paham. Sangat ... sangat paham sekali."


"Ide bagus malahan kalau terpisah kamar, jadi kamu tidak akan bisa macam-macam."


"Siapa juga yang akan macam-macam? Pikiran kamu saja yang sudah terlalu jauh," Nyolot suara Arjuna meninggikan nada.


"Siapa tahu saja, 'kan bisa. Kamu itu seorang pria dewasa, pasti bisa berbuat yang tidak sen*noh kepadaku kapan saja."


"Awas saja kalau itu terjadi, pasti akan kucincang semua kulitmu itu, hahahahha!" jawabku merasa menang atas ucapan.


"Ciiih, dasar otak-otak udang. Pikiran ngeres saja."


"Emm, tapi benar juga sih kata kamu itu kalau aku pria dewasa. Wuuih, pasti ajib-ajib benar bisa lakukan itu sama kamu. Iya ... iya, ngak?" goda Arjuna sudah menaik-naikkan alisnya.


"Iiiiiih, gila apa kamu!."


Sebab tidak menyangka atas perkataannya barusan tangan sudah bertangkup didada, sebab pikiran sedang membayangkan kelakuan Arjuna yang tidak baik dan macam-macam.


"Hahahaha," gelak tawa Arjuna puas.


"Nanti kalau kamu tidur pulas akan kulaukan itu, pasti kamu akan syok dan akan mati kutu tidak berkutik lagi."

__ADS_1


"Dasar mes*m."


"Lah, kan itu wajar. Bukankah kamu sudah sah menjadi istriku?" godanya lagi.


"Enggak."


"Ingatlah! Kalau pernikahan ini diatas kertas hitam putih, jadi jangan coba-coba melanggar atau denda 2 milyar akan berlaku setiap melakukan kesalahan," Cemberutku menjawab sambil mengingatkan.


"Aku ini mudah untuk membayarnya, jadi bolehlah mencicipi kulitmu itu sebentar. 'Kan ... 'kan!" Ngelanturnya ucapan Arjuna yang semakin tidak terarah.


"Kalau kamu melanggar atas perjanjian itu, maka surat itu akan kubeberkan kepada semua orang termasuk keluarga kita, jadi jangan meremehkan atas perjanjian itu, paham!" ancamku yang tidak mengenal takut.


"Silahkan. Paling-paling kamu juga yang akan rugi," balasnya yang seperti meremehkan.


"Iiiiiiih," Kekesalan diri saat kalah omongan, dengan tangan ingin sekali merem*s-remas wajahnya.


"Ha ... ha ... ha!" Tawanya yang terdengar memuakkan.


"Sudah, tunjukkan kamarku sekarang dimana?" sewot ucapan.


Sikap sudah berdiri, mencoba meninggalkan Arjuna yang kian ngelantur berbicara.


"Izinkan aku menyentuhmu dulu, biar nanti kutunjukkan kamarnya dimana."


"Ogah."


"Mimpi masuk jurang sana."


"Wuuih, sadis amat jawabannya."


"Biarin."


Rasanya ingin kegetok saja kepala Arjuna itu, biar dia sadar dan tidak selalu mematahkan omonganku. Sayangnya dia terlalu kuat untuk berkuasa sekarang, jadi sekarang hanya bisa mengalah saja atas ucapannya itu.


"Ayo tujukkan kamarnya. Aku capek banget nih! Mau istirahat dan melemaskan otot sebentar."


"Iya ... iya."


"Tunggu sebentar, aku akan memesankan baju dulu untuk kamu."


"Emm."


Posisi sudah bersandar ditembok, untuk menunggu Arjuna sedang sibuk melakukan panggilan.


"Tunggu saja, Arjuna. Aku akan membuat kamu bertekuk lutut padaku, agar tidak selalu meremehkan dan menindas diriku," guman hati yang kesal ingin membalas semuanya.

__ADS_1


__ADS_2