Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Kegaduhan rapat


__ADS_3

Braaaak, dengan kuat meja kugebrak, saat orang-orang pada berkumpul rapat sedang gaduh pada ucapan masing-masing, akibat tak setuju atas rencana diriku merebut sebuah tanah yang luasnya enam hektar, yaitu akan jadi sengketa antara perusahaanku dengan pemilik awal tanah itu, yang mana mereka tak ada surat-surat yang jelas dan asli.



"Kenapa kalian sekarang diam semua? Ayo ... ayo ucapkan yang keras lagi atas keluh-keluh kalian itu, jika bagus akan kuhargai pendapat kalian, namun jika tidak maka tak ada belas kasihan lagi. Silahkan mengundurkan diri dari jabatan kalian sekarang, paham!" ucapku tegas namun penuh pengancaman.


Semua orang seketika menundukkan kepala, tak ada satu patahpun yang terucap. Aku hanya memandangi mereka satu-persatu dengan tatapan sinis.


"Apa kalian tak dengar apa yang dikatakan oleh tuan muda Arjuna tadi?" cakap Cakra yang ikut-ikutan memberi ketegasan.


"Maafkan kami, Bos. Jika membuat kamu tidak senang maupun marah. Apakah kita tidak bisa mengundurkan diri atas niatan pengambilan tanah itu, sebab disitu ada hotel sudah berpuluhan tahun berdiri, maupun rumah-rumah warga yang sudah dibangun? Kalau tidak salah hotel itu sudah dijunjung dan menjadi kebanggaan warga, sebab banyak sekali warisan leluhur yang mereka sudah lestarikan," keluh salah satu pengusaha berbadan gemuk.


"Benarkah apa yang kamu utarakan itu? Tapi ... tapi, bagus sekali atas keluhanmu itu, aku suka ... aku suka!" jawabku santai dengan gaya sombong.


"Benar ... benar itu, Tuan muda. Pasti banyak sekali pertentangan dari warga, dan yang jelas warga akan bentrok serta memusuhi kita nanti," simbat ucap yang lain.


Braaak, lagi-lagi kugebrak meja. Nampak semua orang mulai bringsut takut lagi, dengan kepala terus tertunduk tak berani menatap ke arahku.


"Lalu kalau ada warga yang menentang, terus mau apa? Apakah kalian ini tak lihat atas kekuatan kita, masak takut pada rakyat miskin-miskin itu. Masalah hotel bukankah itu terlalu kuno, maka dari itu tanah itu akan kudirikan sebuah hotel megah dan mewah, sebab pemandangan yang dekat pantai dan hamparan asri alam begitu memanjakan mata, yang pastinya kita akan sukses mendirikan hotel disana. Jadi kemungkinan hotel kuno itu kita hancurkan saja. Lagian zaman sekarang semua sudah maju, jadi buat apa memelihara barang-barang aneh dan mengikuti tradisi begituan," terangku penuh keangkuhan yang tiada tandingannya atas kekuasaan.


"Ahaaa, benar apa yang dikatakan Tuan muda kita. Lalu apakah ada yang setuju atas perintah Tuan muda, atau kalian sebaliknya menentang dan membela mereka?" tanya Cakra pada semua orang, yang sekitaran dua puluh pengusaha bergabung rapat.

__ADS_1


"Jika kalian semua tak mau membantu usahaku ini, jangan salahkan aku jika kerjasama kita mulai sekarang akan sampai disini saja," ancamku.


"Tapi, Tuan Muda!" jawab semua orang kompak, yang nampak akan membuat gaduh lagi.


"Tapi apa?" jawab Cakra nampak mulai kesal.


"Apa tak ada cara lain mengenai tanah itu? Kita 'kan bisa berdamai dengan cara mengajak bernegosiasi," usul salah satu pengusaha berambut keriting.


"Memang kamu bisa membujuk mereka? Perusahaanku sendiri saja tak mampu mengatasi ini, makanya kalian disini dikumpulkan agar bisa memecahkan masalah ini, dengan cara memberi solusi dan mau menuruti semua keinginanku," terang tegasku penuh penekanan, dengan jari-jari berkali-kali mengetuk meja.


"Emm, memang agak susah membujuk mereka, tapi kalau kita cari celahnya pasti akan dapat solusi," simbatan jawaban yang lain.


"Solusi? Solusi apa itu? Bolehkah aku tahu?" jawabku melotot kearahnya.


"Kalian jangan aneh-aneh dengan segudang cara menghentikan keinginanku. Keputusan tetap final, sebab aku yakin sekali mereka akan kalah, karena surat atas bukti kepemilikan tanah tidak ada, dan kalau adapun surat-surat itu hanya palsu," jawabku santai.


"Jadi sekarang kita akan bersatu merebutnya, sebab kita punya bukti kuat, yaitu berhak untuk memilikinya," tegas jawabku.


"Bagaimana? Apa kalian mendukung atau mundur. Mendukung siap merobohkan mereka, tapi jika mundur siap-siap akan kami tebas segera aset-aset kalian semua, sebab kalian telah melanggar perjanjian awal kita berkerjasama, gimana?" ucap kelicikan Cakra mengancam.


"Huuuf, baiklah Tuan muda. Kami akan mendukung kalian, tapi dengan syarat jangan apa-apakan perusahaan kami. Mengenai dana kami juga akan siap membantu," ujar pegusaha berambut keriting.

__ADS_1


"Iya ... iya, Tuan Muda. Kami ikut serta dalam rencana kamu," simbatan yang lain, yang akhirnya nurut saja.


"Bagus ... baguslah, kalau kalian sekarang setuju atas rencanaku itu. Semoga kedepannya perusahan-perusahaan kita akan terus berkembang dan akan lebih baik. Lagian jika proyek ini berhasil, kalian juga nanti yang akan dapat untung besar," cakapku yang akhirnya merasa lega.


"Iya, Tuan muda."


"Ok, rapat telah selaesai. Kalau begitu aku akan pergi mengurusi ini segera, dengan mengarahkan anak buahku untuk bertindak cepat," tuturku akan berpamitan.


"Baik, Tuan muda!" jawab semua orang kompak dengan menundukkan kepala hormat.


Aku dan Cakra kini langsung keluar dari ruang rapat, saat rasa muak dan kesal sempat menghampiri atas sikap-sikap mereka itu.


"Yes ... yes. Akhirnya kita berhasil atas rencana yang gila ini," ucap senang Cakra.


"Siapa dulu dong! Arjuna gitu 'loh, sang penguasa dalam semua bisnis," Kesombonganku berkata, sambil berjalan berdampingan dengan Cakra ketika dilobi.


"Aku tak menyangka kita dapat dukungan dengan mudah, dari dua puluh perusahaan yang berbeda. Ancaman kamu begitu ampuh, Bos. Niat busukmu untuk membatalkan perjanjian awal berkerjasama pada mereka, begitu dasyat atas pemikiran itu, hingga mereka semua terbungkam tak bisa berkata-kata lagi. Pokoknya Bosku selalu keren dan paling the best!" puji Cakra.


"Dari dulu aku memang hebat dan tak bisa terkalahkan," imbuh kesombonganku.


"Hmm, selalu itu."

__ADS_1


Obrolan kami terus saja terjadi, hingga tanpa sadar sudah mendekati ruang kerja. Kini aku ingin menerima laporan siapakah orang yang berani membuat malu sang Arjuna penguasa dunia bisnis, ketika telur busuk telah mempermalukan diri ini pada semua orang. Semoga saja bisa ketemu, sebab akan kubejek-bejek orang itu, hingga kapok dan tak berani lagi.


__ADS_2